Terbaru

Contributors

Membaca Perempuan di Masa Mendatang


Beberapa hari terakhir, masayarakat Indonesia dikejutkan oleh pernyataan Najwa Shihab di twitternya, bahwa tayangan Mata Najwa edisi Novel Baswedan adalah episode terakhirnya. Masyarakat tidak percaya sekaligus bertanya-tanya, ada apa gerangan di balik berhentinya tayangan tersebut. Ketidakrelaan juga muncul dalam hati penonton setianya, program televisi yang menarik dengan sorot mata Najwa yang ekspresif, kalimat-kalimatnya yang kadang membuat kikuk para narasumbernya, dengan intonasi dan rima yang mampu meraba perasaan.

Selama perjalananya, secara tidak langsung Najwa Shihab telah membuktikan kepada masyarakat bahwa perempuan memiliki banyak kelebihan dan mampu mengerjakan banyak hal sehingga dapat menginspirasi banyak orang. Jurnalis ini telah menunjukkan kiprahnya sebagai wartawan perempuan nomor satu selama beberapa tahun terakhir. Sebab, Mata Najwa bukan tayangan televisi main-main, perlu keberanian dan usaha keras mendatangkan politikus, lalu memaksa mereka transparan dalam menyampaikan data, memancing dan mengungkap kebenaran, membolak-balikkan pertanyaan tanpa berusaha menyudutkan. Lalu, apa yang menjadi daya tarik masyarakat terhadap tayangan Mata Najwa? Ya, salah satunya adalah ekspresivitas Najwa saat membawakan acara tersebut. Bagaimana ekspresinya saat melontarkan pertanyaan-pertanyaan, membawa audiens pada suasana yang nyaman, dan ini berhasil menarik perhatian pemirsa.

Keberhasilan Najwa dalam menyihir pemirsa merupakan bukti dari kelebihan yang dimiliki perempuan. Ekspresivitas, kesungguhan, dan suasana perasaan yang bagus.  Hal ini sebenarnya yang membuat perempuan tak bisa diremehkan. Bagaimana Najwa melakukan relasi sosial, baik dengan laki-laki dan perempuan sehingga ini juga menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi wadah dalam keseimbangan dan ketertiban sosial. Menurut Miriam Johnson, ekspresivitas adalah salah satu harapan perempuan yang mewujud dalam gerakan yang bersifat kultural dan dapat menghasilkan perubahan sosial.

Dalam dunia partirarkhi, perempuan mengasihi anaknya dengan cara menunjukkan ekspresi dan perasaan kasih sayang, perempuan bertindak dengan kekuataan dan wewenang serta memberikan perasaan kemanusiaan yang sama terhadap anak laki-laki dan perempuannya. Dari sini, tampak jelas bahwa perempuan dapat lebih bijak dalam memutuskan sesuatu, mampu menyesuaikan diri dengan mudah, dan mampu menggunakan kekuatannnya untuk mengungkapkan ekspresinya. Karakter perempuan tersebut membantu memudahkan perempuan berjalan di dua area, yaitu area rumah tangga dan area produksi pasar atau bidang lainnya.

Apalagi, area rumah tangga atau yang sering di sebut sektor nonkapitalisme oleh Kathryn B. Ward berdampingan dengan area pasar global yang mendukung perkembangan pasar global dalam pemenuhan tenaga kerja. Ward menjawab pertanyaan “apa peran wanita dalam sistem dunia” bahwa nonkapitalisme (wanita) memiliki peran yang cukup besar sebagai sektor yang berdampingan, berkembang dan berinteraksi dengan kapitalisme global (Ritzer, 2014: 385). Jadi, penyeimbangan tanggung jawab perempuan dalam dunia pasar dan rumah tangga merupakan peran penting perempuan dalam dunia global. Pada saat ini, perempuan sudah banyak membuktikan kemampuannya dalam menyeimbangkan dua tersebut yang dapat menjadi mitigasi kerugian bagi perempuan itu sendiri.

Karakter perempuan dan pembuktiannya selama ini akan membuat ideologi patriarkhi, diferensiasi peran gender, dan lainnya menghilang beberapa tahun lagi. Masyarakat akan membuka pintu masuk yang cukup lebar untuk perempuan berperan dalam berbagai sektor kehidupan. Lihat saja, pada pemerintahan Jokowi, kursi menteri yang diduduki oleh perempuan mulai bertambah. Tinggal menunggu pemerintahan selanjutnya, akankah separuh dari kursi kepemerintahan diduduki oleh perempuan? Tidak ada yang tahu. Namun, yang jelas perempuan memiliki peluang di masa depan. Ketimpangan gender akan berkurang karena perempuan mulai berani bersuara di bidang ekonomi, politik, dan kesehatan serta bidang lainnya.

Suatu saat tak akan muncul lagi pertanyaan teori sosial tentang gender yang menanyakan kenapa harus ada interaksi sosial jika akan muncul perbedaan gender dan kenapa perbedaan gender muncul setelah adanya interaksi sosial. Sebab, interaksi sosial nantinya akan semakin menyadarkan masyarakat umum terhadap kesetaraan gender. Apalagi, saat ini dunia semakin serba digital, perempuan mampu bermain di pasar perekonomian global hanya dengan duduk berdiam di rumahnya. Kita lihat ke depannya, terdapat banyak kursi untuk perempuan duduki di kursi keperintahan, sektor informal, dan lainnya.  Perlahan masyarakat sadar terhadap potensi yang dimiliki perempuan. 

(Alifiyatul Khairiyah, mahasiswa UTM Bangkalan)
________________
Gambar: Pixabay