Terbaru

Contributors

Mendongkrak Literasi melalui Resensi


Beberapa hari yang lalu saya mendapati inbox dari Pak Sukma, seorang penulis sekaligus founder dari Gerhana Publishing. Beliau mengirimkan kabar miris yang beliau baca di salah satu surat kabar. Dalam surat kabar itu tertulis, “Memprihatinkan, Ternyata Minat Baca Indonesia Duduki Peringkat 60 dari 61 Negara” pada Senin, 10 Juli 2017. Hal ini juga diungkapkan oleh penelitian Central Connecticut State University dalam Koran The Jakarta Post Senin, 16 Januari 2017. Ada apa sebenarnya kenapa kemerdekaan yang hampir seabad ini Indonesia masih mengalami illiteracy?

Kenapa illiteracy itu bisa terjadi? Menurut Nurudin (2003) ada tiga faktor terjadinya illiteracy. Pertama, kurangnya kepedulian pemerintah. Lebih tepatnya, pemerintah lebih mementingkan investasi pada kebutuhan sehari-hari dibandingkan buku. Padahal buku dan membaca adalah aset masa depan. Kedua, anggapan masyarakat terhadap buku yang terlalu mahal, sehingga ada kesan bahwa menumpuk emas dapat lebih bermanfaat dari pada menumpuk buku. Ketiga, kecanggihan teknologi yang semakin memudarkan minat baca masyarakat. Apalagi, hadirnya hp android dengan berbagai aplikasi di dalamnya, setia memanjakan penggunaya.

Lalu, kenapa meresensi dapat menekan laju illiteracy? Karena kegiatan meresensi membutuhkan banyak perbandingan dari berbagai sumber buku yang sama dan penulis yang berbeda sehingga menuntut peresensi untuk banyak membaca. Selain itu, minat baca dapat bertambah jika setiap orang sadar bahwa meresensi memiliki banyak keuntungan. Di antara keuntungan meresensi adalah mendapatkan buku yang manfaatnya dapat dibawa dan dibaca kapan saja tanpa batasan waktu. Dengan membaca buku akan menambah wawasan dan menyerap informasi secara akurat. Bahkan dalam artikel Facetofeet disebutkan, membaca dapat membuat hidup lebih lama. Selain itu, hasil resensi dapat menjadi sumber informasi kelayakan atau kecocokan buku untuk dibaca oleh masyarakat. Sementara bagi peresensi akan mendapatkan honorium dari penerbit yang kadangkala jauh lebih besar jika dibandingkan dengan menulis opini, cerita pendek, puisi atau esai. Sebab menulis resensi buku di media massa bisa mendapatkan honor dari berbagai pintu: dari koran, ditambah dari penerbit, dan jika beruntung bisa mendapatkan dari institusi (seperti kampus). Bahkan, kalau penulis buku yang kebetulan bukunya diresensi itu tidak pelit, masih mungkin untuk menambah lagi honor. Jadi, peresensi dapat mendapatkan honor berlipat-lipat. Lumayan kan ?

Nah, kegiatan meresensi buku dapat dijadikan pekerjaan utama atau sampingan lho… So, yuk baca, yuk meresensi, maka otak dan dompet pun tidak hanya akan tinggal nama karena sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Yang terpenting, dengan otak cerdas dan dompet terisi penuh bisa lebih mudah mengurangi populasi jomblo di Madura. #Ups.

(Rofiatur Rofiah, NGO-your B, Mahasiswi UNIRA, & alumni Aphrodite Latee II)