Terbaru

Contributors

Mengenal Orang Madura Secara Arif


Di pojok timur laut Pulau Jawa, bertengger sebuah pulau sempit memanjang yang secara sepintas berbentuk seperti sebilah belati. Itulah Pulau Madura yang besarnya kurang lebih 5.168 km persegi (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk hampir 4 juta jiwa.

Di pulau ini terdapat empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pulau Madura dapat dikatakan sebagai pulau multi etnik karena pulau ini tidak hanya didiami oleh orang Madura saja, tetapi juga didiami oleh orang Jawa, Sunda, Sumatera, Cina dan Arab. Meskipun struktur masyarakatnya terdiri dari berbagai etnis, mayoritas dari populasi pulau ini adalah penutur asli bahasa Madura, yaitu orang Madura. Begitu juga dengan bahasa komunikasi sehari-hari, mereka pun menggunakan bahasa Madura.

Suku Madura terkenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan, serta sifatnya yang tempramental, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. Orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Petik Laut atau Rokat Tase’ (sama dengan larung sesaji). Harga diri, merupakan hal paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa dalam Bahasa Madura: ango’ pote tolang, atembhang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) dari pada malu (putih mata). Sifat seperti inilah yang kemudian melahirkan tradisi carok pada sebagian masyarakat Madura.

Masyarakat Madura zaman dahulu memang memperoleh stereotipe negatif. Sedikit sekali sifat-sifat positif mereka yang diperbincangkan dan dicatat oleh orang. Orang Madura selalu dijabarkan sebagai orang yang lebih kasar, tidak halus, lebih bersegi-segi, lebih kekar, lebih berani dan memiliki tubuh yang lebih kuat. Tinggi badannya diperkirakan berkisar antara 160-170 centimeter, lebih kecil atau maksimum sama, tetapi tidak pernah lebih besar dibandingkan dengan penduduk tetangganya (Surink, 1993:195).

Menurut Van Gennep (1921:195) orang Madura dapat dengan mudah dibedakan dari orang Jawa. Mereka memiliki perawakan yang lebih kekar dan berotot tetapi tidak lebih besar. Muka mereka lebih lebar dan tidak terkesan halus,  tulang pipinya terlihat kuat dan menonjol dengan sifat-sifat permukaan yang  garang dan kasar. Akan tetapi  orang Madura tidak  hanya berbeda dari suku-suku bangsa tetangganya dalam penampilan, pakaian, dan  kebersihan. Tingkah laku dan sifatnya pun sangat berlainan pula. Berulang kali mereka dilukiskan sebagai orang yang berwatak kasar, tidak sopan, kurang ajar, ekstrover, blak-blakan dalam menyuarakan pendapatnya, tidak tahu adat, dan tidak bisa bersopan santun.

Van Geldel (1899:577) menyebutkan bahwa orang Madura kurang sopan dan lebih tidak formal dibandingkan dengan orang Jawa. Orang Madura memiliki keberanian untuk menyuarakan pendapatnya sekalipun terhadap atasannya. Gerak gerik hidup dan dalam percakapan sesama mereka condong bersuara lantang. Bahasanya terdengar berat dan tajam tetapi penuh dengan pernyataan yang sejalan dengan keseluruhan kepribadiannya.

Di balik persepsi dari beberapa pendapat di atas tentang masyarakat Madura, bukan berarti tidak ada hal positif yang dapat dijadikan inspirasi bagi penduduk di luar Madura. Keberanian dan keuletan orang Madura dalam mempertahankan hidup dan eksistensinya merupakan suatu kelebihan yang jarang dimiliki oleh suku lain. Tidak jarang mental tinggi dan kerja keras mereka membuahkan kesuksesan di bidang ekonomi dan usaha. Hal yang tak bisa disangkal adalah kemampuannya dalam meperjuangkan nasib di tanah rantau meski kebanyakan hanya berbekal ilmu dan latar belakang pendidikan yang minim dan seadanya.

Di Jakarta, orang Madura mayoritas meraup sukses di bidang usaha jual beli besi tua. Sebuah ladang usaha yang dipandang sebelah mata oleh sementara orang karena akrab dengan bahan material, sampah,dan barang rongsokan, tetapi dengan mental baja, keuletan dan kerja kerasnya yang pantang menyerah, mereka mampu menyulap menjadi “mesin uang” yang mengantarkan pada kesuksesan di tanah rantau. Tidak hanya di Jakarta, orang Madura dikenal sebagai perantau lintas pulau bahkan manca negara. Bahkan menjadi anekdot gurauan yang mengatakan bahwa di daerah manapun kita singgah, maka di sana orang Madura selalu ada.

Orang Madura dikenal sebagai pelayar yang tangguh. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh penduduk di pesisir pantai Madura mata pencahariannya adalah sebagai nelayan. Kegigihan dan ketangguhan orang Madura ketika berperang melawan angin dan ombak di tengah lautan diabadikan dalam bait salah satu lagu daerahnya yang berbunyi: “abhantal omba’, sapo’ angin salanjhenga”, yang artinya: Berbantal ombak, selimut angin sepanjang waktu. Sebuah perumpamaan yang menyiratkan makna perjuangan, pantang menyerah dan kerja keras.

Mengapa orang Madura lebih tertarik merantau ke daerah lain daripada hidup bertahan di tanah kelahirannya? Orang yang pernah mampir ke pulau Madura akan tahu jawabannya. Salah satu pendorong yang utama adalah dari segi geografis. Secara geografis, cuaca di Madura terbilang panas. Itu sebabnya kenapa warna kulit orang Madura rata-rata berwarna coklat kehitam-hitaman. Karena cuaca panas itu pula, Madura menjadi pulau yang kurang strategis dan kurang potensial untuk mengembangkan usaha pertanian. Meski terbilang sebagai pulau agraris, namun tanah Madura tidak bisa memberikan hasil bumi melimpah yang membuat betah orang Madura, sehingga lebih tertarik mencari penghasilan lain di luar Madura.

Orang Madura juga dikenal dengan masyarakat yang memiliki kesadaran beragama yang tinggi. Hampir setiap rumah --terutama di wilayah pedesaan—memiliki sarana ibadah yang disebut dengan ‘kobhung’ (musala). Tidak hanya dijadikan tempat ritual ibadah sehari-hari, kobhung tersebut juga menjadi tempat berkumpulnya para undangan atau anggota sebuah kegiatan seremonial kegamaan, seperti perkawinan, forum pengajian, ceramah agama, istighasah, doa bersama dan semacamnya.

Sayangnya, mental kerja, keberanian serta kreativitas orang Madura dalam memanfaatkan peluang kesuksesan tidak didukung dengan pengembangan sumberdaya manusia dan sumber daya alam yang seimbang dan maksimal oleh pemerintah. Keberadaan jembatan Suramadu sebagai penghubung Pulau Jawa dan Madura selama ini hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, bukan transformasi. seharusnya, Transformasi bidang  budaya, sosial, pendidikan dan ekonomi sudah mulai berjalan dan menunjukkan indikator yang positif seiring bertambahnya usia jembatan Suramadu.

Entah apa yang sebenarnya menjadi kendala, namun yang pasti harus segera dievaluasi bersama. Jangan-jangan belum ada kesiapan dari masyarakat Madura untuk menerima perubahan, atau mungkin belum ada kepercayaan dari pihak pengembang usaha, ekonomi dan pendidikan dari Pulau Jawa sehingga enggan untuk bekerjasama dalam  mengembangkan seluruh aspek kehidupan di Pulau Madura. Tak luput pula dari kecurigaan saya, jangan-jangan pemerintah kurang serius dalam memaksimalakan fungsi Suramadu. Tanpa menafikan program kerja yang mulai dijalankan oleh sebuah badan yang bekerja untuk mengembangkan areal sekitar Suramadu yang notabene bekerja sama dengan pemerintah, namun harus diakui bahwa perannya masih kurang maksimal. Di samping itu pula, sasaran program yang dicanangkan terlalu spesifik dan kurang menyentuh semua lapisan masyarakat di seluruh penjuru Madura.

(Moh Jufri Marzuki, pengamat budaya dan etnis Madura. Tinggal di Pamekasan)
______________
Gambar: Kekinian.co