Terbaru

Contributors

Menguak Kisah “Kelam” KKN



Apa yang istimewa dengan KKN? Mengapa KKN harus diabadikan kisahnya, terutama melalui Voila.ID? Seberapa penting KKN untuk mahasiswa? Tanya-tanya itu akan terjawab dengan sendirinya melalui kisah “kelam” yang saya alami berikut ini. Namun pastikan anda menghela nafas terlebih dahulu, karena kisah ini keluar dari pakem, mendobrak kemapanan, dan mengusik kisah umum KKN yang biasanya terjadi.

Sebelumnya penting mengetahui KKN itu apa dan bagaimana pola kerjanya di lapangan. Ragam versi definisi KKN sesuai kehendak hati penerjemahnya. Dari yang paling “serius” sampai yang mengaitkannya dengan persoalan asmara. Definisi serius dan berbau ilmiah, KKN berarti Kuliah Kerja Nyata. Namun tidak bagi orang lain, ada yang bilang KKN itu Kisah Kasih Nyata, ada juga yang berpendapat KKN itu kisah cinta yang terfasilitasi, dan banyak lagi yang lainnya (tak perlu disenandungkan kayak lagu).
Apapun kepanjangannya yang jelas selama ini muncul persepsi kalau KKN juga bisa menjadi ajang pembuktian kesetiaan ‘pasangan’ seseorang, ini hanya katanya, saya sendiri belum berpasangan. Memang bukan isapan jempol belaka, banyak yang putus hubungan gara-gara di KKN menemukan belajahan jiwa lain yang lebih mapan. Awas hati-hati jika belum KKN tapi sudah punya pasangan, pastikan pasangan anda setia stadium akhir.

Sayangnya, saya sendiri sebagai pelajar di sebuah perguruan tinggi negeri di kota pahlawan tidak punya secuil kisah tentang begituan (asmara). Tapi tenang, ada kisah berbeda yang bisa jadi teman nyemil pisang goring buatan emak di malam Minggu bagi yang sedang berada di rumah, atau sekadar teman menikmati langit terang bertabur bintang, yang ini biasanya kerjaan anak kos.
Kebetulan saya sendiri dijatah daerah di bekas Republik Uni Sovietnya Indonesia, Madiun. Berlokasi di Desa Klagenserut Kecamatan Jiwan saya dan 15 teman kelompok menggantungkan harapan di desa ini. Awal-awal niatannya tentu belajar bermasyarakat dan mencoba menerapkan apa yang sudah didapat di bangku kuliah, tetapi hasil akhir tak jarang berbeda.

Di saat teman-teman memilih jalannya masing-masing, ada yang mengajar sekolah, TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), dan mengajar banjari, saya lebih suka nguli (menjadi kuli). Ya meski bayarannya tidak berupa duit, tapi saya suka karena tidak perlu berbusana necis ala orang kantoran.
Di desa ini juga saya menemukan kebangkitan Islam melalui surau-surau dan masjid. Sepanjang waktu salat, tempat ibadah selalu penuh dengan jamaah, dari tua sampai muda. Azan berkumandang saling bersahutan, tidak hanya saat awal waktu, gunanya memberikan kesempatan petani yang baru keluar dari jam kantor, sehingga ada yang azan dan salat Ashar berjamaah pada pukul 4 sore. Begitulah kearifan lokal yang ada di desa ini.

Belum lagi kegiatan keagamaan warga yang super padat, membuat saya kebingungan ketika ada 3 undangan dalam satu malam untuk membaca Yasin atau tahlil bersama, sedangkan laki-lakinya hanya 4 orang, otomatis ada yang rela tanpa teman boncengan. Ini masih kegiatan yang menyangkut warga, guna adaptasi dan inkulturasi dengan masyarakat setempat. Belum lagi tugas kampus, seperti pengaplikasian metode Asset Based Community-driven Development (ABCD) yang kami gunakan, juga percikan-percikan api konflik di kelompok. Meski akhirnya tidak menjadi api yang membara, percikan itu telah mampu menyita perhatian saya untuk beberapa hari.

Alhasil, sehari-hari saya disibukkan dengan nguli, hadir majelis taklim, memakmurkan surau dan masjid, serta menuntaskan laporan kelompok yang dibagi ke masing-masing anak. Pun saya di akhir KKN harus menyusun laporan individu hasil menempa diri selama sebulan. Dengan demikian padatnya waktu saya maka tak ayal saya alpa untuk menunaikan sebuah hal yang lazim dan sudah membudaya, yaitu cinlok (cinta lokasi).

Bukan merasa sok suci atau anti perempuan, tapi saya sudah begitu kewalahan menuntaskan kerja-kerja kecil yang berkelanjutan. Bayangkan jika setiap hari saya mengangkut batu bata sebanyak 50 buah maka dalam 10 hari sudah ada 500 batu bata yang saya angkut. Bagi pemuda yang masih usia muda seperti saya kerja tersebut sudah masuk kategori “cukup berat”, sebab tulang yang masih belum terlatih bekerja kasar.
Apa yang selanjutnya terjadi? Pasca KKN usai, perbincangan “oleh-oleh KKN” berupa barisan kenangan bersama orang yang dikasihi hanya mampu saya nikmati dari perbincangan teman di sekitar. Sesekali menyela dengan pertanyaan yang tak begitu penting, atau disinggung senior yang sudah pernah KKN dengan pertanyaan menohok, “Kamu kapan cinlok Zan?” Rasanya bak ditikam belati meski tak perlu lebay dengan mengatakan “Tertusuk padamu berdarah padaku,” sebab belatinya tak pernah benar-benar ada dan “mu” yang dimaksud dalam kata padamu sampai detik ini tak kunjung terang.

Kisah ini, menurut mereka yang sudah berhasil menggaet pasangan saat ajang pengabdian yang merupakan salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi itu, bisa jadi sebuah kisah kelam dan belum pernah terbayangkan. Kesempatan 1 bulan lamanya tak menuai hasil asmara. Tak apa, saya yakin dunia masih akan tetap kokoh, langit akan tetap tegak berdiri tanpa tiang, serta laut tidak akan pernah tumpah hanya karena saya belum berhasil merajut benang asmara di lokasi KKN. Betapa pun nestapa dan pilunya pengalaman KKN saya—yang hanya sekali terjadi dalam hidup—menurut mereka, tapi saya bangga telah bisa menorehkannya dan syukur kalau bisa dimuat di Voila.ID.

(Moh. Mizan Asrori, Cah KKN yang mewarisi darah suci jomblo sampai halal)