Terbaru

Contributors

Merdeka Kata Mereka


Tanggal 17 Agustus adalah hari bersejarah di mana kemerdekaan Indonesia dideklarasikan oleh Bung Karno, yaitu pada tahun 1945. Pada momentum ini, masyarakat Indonesia berbondong-bondong menyemarakkan dengan berbagai kemeriahan-kemeriahan, mulai dari upacara, lomba gerak jalan, karnaval, panjat pinang, tarik tambang, dan sebagainya yang cukup mengundang perhatian.

Di balik kemeriahan itu, pertanyaan yang cukup mendasar, bagaimana mereka memaknai kemerdekaan itu sendiri? Dalam hal ini, penulis akan mengurai berbagai pandangan para pengguna media sosial facebook tentang makna “merdeka” menurut mereka.

“Merdeka” bukanlah kata yang sederhana, tetapi sakral dan penuh makna. Kata mereka, merdeka adalah menang melawan penjajah, merdeka itu sejahtera, mereka itu tenteram dan tenang, merdeka itu tanpa penindasan, merdeka itu terciptanya keadilan, merdeka itu bangkit, merdeka itu mampu bersaing, merdeka itu terhindar dari segala bentuk jajahan asing, dan lain sebagainya.

Namun, di tengah keseriusan mereka memaknai kemerdekaan, lalu muncul pertanyaan sadis di akun facebook bernama Fathor Rachman Utsman, “Apa yang anda rasakan setelah merayakan HUT ke 72 Kemerdekaan Republik Indonesia?” Sepintas, seakan lelucon. Namun, status tersebut mampu mengungkap fenomena yang itu menunjukkan bahwa Indonesia belum merdeka seutuhnya.

Di kolom komentar misalnya, para komentator mayoritas mengungkapkan keluhan-keluhan tentang ketidakberdayaan kehidupan yang mereka alami. Bila menyimak, akan cenderung membuyarkan pikiran tentang kesakralan dalam momentum kemerdekaan yang selalu dirayakan dengan besar-besaran. Kemungkinan akan muncul dalam benak pembaca, “72 tahun lamanya Indonesia merdeka, orang-orang pada keluyuran kemana saja kok belum merdeka seutuhnya?”

Sebagaimana penulis tahu, ia memang selalu dan suka membongkar di balik kesakralan sebuah peristiwa. Peristiwa atau fenomena yang menurut kebanyakan orang suatu yang sakral, tapi baginya tidak. Ia memandang kehidupan ini nyaris tak ada yang sakral, semuanya hampir dianggap biasa-biasa saja. Bisa jadi karena ia tahu bahwa kehidupan saat ini banyak orang bersandiwara dan berpura-pura.

Itulah kata mereka tentang Indonesia merdeka. Bila kata mereka, fakta menunjukkan bahwa Indonesia belum merdeka seutuhnya karena masih banyak masyarakat miskin, aset-aset dikuasai asing, dan keadilan hanya memihak kepada orang-orang penting, maka kemerdekaan bukan lagi untuk dipertahankan, akan tetapi sudah saatnya diperjuangkan. 

(Syafiqurrahman, warga Lenteng Sumenep)