Terbaru

Contributors

Perihal Perempuan Langit dan Kreativitas Menulis

menulis

Lazim diketahui, kreativitas menulis seseorang amat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia tinggal dan berada. Jika hidup di lingkungan yang mempunyai tradisi baca-tulis yang kuat, maka dapat dipastikan ia akan mudah untuk membangun kreativitas menulis. Inilah mengapa, orang tua kita seringkali mengatakan, “buah tidak jauh dari pohonnya”. Ini tidak semata-mata pada masalah “bakat” yang diturunkan kepada anaknya, namun karena lingkungan keluarga yang membentuknya. Jika hidup di lingkungan keluarga penulis, maka dapat dipahami bila anaknya juga akan menjadi penulis. Karena setiap hari, sang anak selalu bersinggungan dengan orang tuanya yang membaca dan menulis.

Hal ini tidak saja berlaku dalam lingkup keluarga. Di lingkungan dulu saya belajar, tepatnya di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan,  tradisi menulis begitu hidup lantaran tersedianya perpustakaan yang cukup memadai dan berkembangnya komunitas-komunitas pecinta baca-tulis di kalangan santri. Kondisi ini melahirkan santri-santri yang kreatif dan produktif dalam menulis, baik sastra maupun karya tulis ilmiah. Bahkan, tak sedikit di antaranya yang berprestasi hingga tingkatnasional saat masih menjadi santri. Prestasi yang ditorehkan oleh santri senior tersebut pada perkembangan selanjutnya “memaksa” generasi berikutnya untuk terus menulis: memacu diri menggapai prestasi. Inilah rahasia utama kenapa tradisi menulis di PP. Annuqayah khususnya tetap hidup hingga kini, bahkan terus berkembang meski tanpa ada bimbingan dan pendidikan kepenulisan secara formal dari pesantren.

Selain itu, kreativitas dan semangat menulis juga dipengaruhi oleh faktor eksternal: perempuan, misalnya. Walaupun kata Mizan, menulis tidak lantas dicintai perempuan, tapi percayalah bahwa perempuan bisa menjadi inspirasi dan pemantik semangat untuk menulis. Itu saya tahu dulu, saat masih aktif di Lemba Pers Mahasiswa (LPM). Saat itu, Fandrik Ahmad (cerpenis) dan Ach Taufiqil Aziz (penulis buku Biografi KH. A Warits Ilyas dan Sejarah NU Sumenep), terlibat “rivalitas” dalam mencintai “perempuan langit”. Demi sosok dambaan, mereka berdua saling memacu diri merebut prestasi. Fandrik menekuni dunia sastra sebagai pilihan untuk mengungkapkan perasaan; sementara Ach Taufiqil Aziz memilih karya tulis ilmiah sebagai medium untuk menggali potensi dan merebut prestasi. Dan hasilnya luar biasa: karya Fandrik saat itu berkali-kali nangkring di media massa dan pada akhirnya terbit di Kompas; sementara Ach Taufiqil Aziz berulang kali menjadi finalis bahkan juara karya tulis ilmiah, baik di level regional juga tingkat nasional. Dalam hal ini, ternyata rivalitas tidak melulu berefek negatif dan membawa pertengkaran fisik, namun justru dapat membawa berkah untuk mengembangkan kreativitas menulis.

Pengalaman dua teman saya tersebut tentu saja tidak harus ditiru oleh generasi saat ini. Saya hanya memberi contoh bahwa ada banyak cara untuk memantik dan mengembangkan kreativitas menulis. Kreativitas menulis tak hanya dipengaruhi oleh lingkungan, namun juga obsesi dan rivalitas dalam mendapatkan sosok kekasih. Namun sayang seribu sayang, sosok perempuan langit yang diperebutkan itu kini sudah memilih pendamping hidupnya sendiri. Sementara Fandrik Ahmad dan Ach Taufiqil Aziz sampai saat ini masih memilih hidup sendiri. Wallahu A’lam.

(Paisun, pernah menjadi relawan di Sahabat Literasi)