Terbaru

Contributors

Perihal Songkok Nasional Kita


Saya sangat percaya, bahwa dalam beberapa situasi, bungkus memang dapat menipu. Bungkus yang bagus tidak menjamin isinya mulus. Kayak perempuan cantik jelita (laki-laki tampan juga ), tapi busuk hatinya. Atau ketika lebaran kita kadang tertipu pada kaleng biskuit yang justru berisi kripik singkong. Apes!

Kesalahan dalam menafsirkan isi dilihat dari bungkus ini sungguh sangat berbahaya. Kalau hanya dalam persoalan kripik singkong mungkin tidak seberapa. Akan beda jauh ketika kesalahan semacam ini berkaitan dengan hal yang bersifat prinsipil, seperti ideologi keberagamaan kita. Terutama di Indonesia, yang masyarakatnya, menurut saya, masih cukup latah dan sensitif dalam persoalan semacam ini.

Dalam sebuah percakapan dengan salah seorang guru di sebuah lembaga pendidikan di Jember, kami terlibat dalam perbincangan soal “bungkus” itu, yakni perihal Songkok Nasional atau songkok hitam. Songkok Nasional? Iya, wong sudah jelas tertulis di bungkusnya kok, kalau songkok hitam itu songkok nasional. Itu artinya, songkok tersebut boleh dan bebas dipakai oleh orang Indonesia dari semua golongan, ras, suku dan agama apapun.

Dalam percakapan itu, kami menemukan sebuah kenyataan, bahwa songkok hitam itu masih banyak disalahpahami sebagai songkoknya orang Islam, bukan songkok Nasional. Akibatnya, yang di luar Islam dianggap tidak boleh dan tidak pantas pakai songkok hitam tersebut. Kalau ketemu dengan orang demikian, tanyakan, "Anda ndeso, ya?"

Memang, kenyataannya, banyak orang Islam pakai songkok itu ketika salat Jumat. Tapi, tak jarang, banyak pejabat negeri yang pakai songkok hitam, meski ia tidak beragama Islam. Jangan salahkan Ahok hanya gara-gara pakai Songkok. Jangan puja-puji Hari Tanoe hanya karena sering pakai songkok. Mereka hanya pakai Songkok Nasional kita. Bukan berarti mereka sok-sok an Islam. Mereka berdua, dan yang lain juga, mungkin ingin menunjukkan nasionalismenya. Mungkin!

Sama halnya dengan songkok putih. Songkok putih itu, yang di banyak tempat dijadikan simbol orang naik haji, banyak dipakai oleh orang yang belum pernah ke Mekah sama sekali. Banyak juga, orang sudah berulang-ulang naik haji, tapi dalam kesehariannya, tak pernah menggunakan songkoh putih. Lah, kalau belum melaksanakan tawaf mengelilingi ka’bah, kenapa harus pakai songkok putih? Kalau sudah pernah ke Mekah, kenapa masih tak pakai songkok putih, malah lebih sering terlihat pakai songkok hitam? Nah, lo!

Sebabnya, semua itu hanya sebagai simbol, sebatas bungkus. Isinya, tergantung apa yang ada di dalam, di hati. Maka saya tak heran ketika salah satu pondok pesantren di Madura melarang santrinya, yang belum naik haji, untuk menggunakan songkok putih. Harus pakai songkok hitam. Songkok Nasional. Mungkin, hal itu sebagai bentuk nasionalisme yang hendak ditanamkan oleh sang pengasuh kepada para santrinya.

Akhiran, mumpung dalam momen 17-an, mari kita pakai songkok nasional dalam keseharian kita. Barangkali nasionalisme kita makin mantap. Untuk para jomblo, saya ajak juga untuk sering-sering memakai songkok nasional, karena, "Pakai songkok nasional itu, bikin gagah dan keren, Mblo!". Mudah-mudahan banyak perempuan yang melirik karena terpesona. Semoga saja. Oya, maaf, saya sudah tidak jomblo lagi. :-)

Abd. Muqsith (Orang Madura yang sedang di Jember)
______________
Gambar: historia.id