Terbaru

Contributors

Presiden Jokowi dan Persepsi-Persepsi Rakyatnya


Presiden kita Bapak Joko Widodo—Jokowi—kerapkali menjadi sumber perbincangan. Baik sebelum menjabat sebagai presiden hingga ketika sedang menjalankan tampuk kepemimpinan negara Indonesia seperti sekarang ini. Dari pelbagai kalangan tidak mau ketinggalan dalam menyuarakan persepsinya, walaupun mereka tidak memiliki referensi sama sekali. Hal ini disebabkan karena Bapak Jokowi dianggap sebagai sosok kontroversial dengan gebrakan-gebrakan fenomenal, termasuk saat melakukan blusukan ke tempat-tempat pedagang kaki lima guna menertibkan mereka.

Persepsi Sebelum Menjadi Presiden
Kita tahu, bahwa Bapak Jokowi dilirik khalayak bermula ketika beliau menjabat sebagai Walikota Solo. Banyak hal dilakukan Bapak Jokowi guna memajukan kota ini. Hingga akhirnya beliau berhasil membawa namanya beserta kota Solo di kancah dunia. Dari sini kemudian banyak khalayak yang kagum dan penasaran sehingga mencari tahu seluk-beluk kehidupan beliau. Bertambahlah poin-poin plus yang Bapak Jokowi dapatkan dari masyarakat.

Kemudian masyarakat semakin mengenal Bapak Jokowi tatkala beliau menjadi Gubernur Ibukota Jakarta. Persepsi positif kembali didapatkan dari masyarakat setelah beliau berhasil menertibkan  para pedagang kaki lima tanpa meninggalkan kerusuhan, jerit-tangis maupun teriakan-teriakan tuntutan terhadap petugas. Bahkan, mereka tidak perlu dipaksa karena dengan senang hati mereka mau ditertibkan. Dan inilah nilai tambah dari kepemimpinan Bapak Jokowi, sebelum melakukan penertiban terhadap para pedagang, terlebih dahulu beliau mengumpulkan mereka dan melakukan sharing bersama mereka. Tentang apa yang mereka inginkan, mereka butuhkan, dan lain sebagainya. Dengan sabar, Bapak Jokowi mendengarkan uneg-uneg rakyatnya hingga mencapai suatu mufakat tentang penertiban ini. Akhirnya mereka setuju untuk ditertibkan.

Sejauh itu, masyarakat kebanyakan masih mendukung dan mengagumi gebrakan-gebrakan yang dilakukan Bapak Jokowi. Bahkan dari saking perdulinya, ada sebuah penerbit buku yang mengadakan lomba menulis surat untuk Jokowi dan Dahlan Iskan. Kemudian para pemenang akan mendapat penghargaan berupa diterbitkannya sebuah buku tentang kumpulan tulisan tersebut. Setelah saya baca, ternyata para penulis surat tersebut banyak yang pro pada Bapak Jokowi dan meminta agar Jokowi mau mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia. Buku tersebut juga berisi tentang luapan kekaguman terhadap Bapak ketika menjalankan roda kepemimpinannya, baik saat menjadi Walikota ataupun Gubernur. Hal itu sedikit menjadi gambaran tentang persepsi masyarakat secara umum, bahwasanya bangsa Indonesia sedang merindukan sosok Presiden laiknya Bapak Jokowi guna memimpin Indonesia yang kian memprihatinkan.

Persepsi setelah Menjabat Presiden
Ternyata harapan masyarkat terhadap Bapak Jokowi mendapat respon baik dari beliau. Bapak Jokowi benar-benar maju dalam pencalonan sebagai Presiden Indonesia bersama Bapak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Lalu, muncullah pelbagai macam persepsi-persepsi negatif dari kalangan yang kurang setuju pada Bapak Jokowi-JK. Meskipun bukan berarti dari awal saat menjabat sebagai walikota, tidak ada satu orang pun yang menentang beliau. Akan tetapi, dikarenakan konteks kepresidenan lebih luas dari saat menjadi walikota. Apalagi tokoh masyarakat yang juga mencalonkan diri sebagai Presiden juga banyak pendukungnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi penyebarluasan informasi miring yang dilakukan oleh oknum-omnum yang tidak bertanggungjawab. Dari informasi-informasi inilah, orang-orang awam yang kurang informasi akan serta-merta menerima informasi miring tersebut. Lalu muncullah persepsi-persepsi negatif di kalangan masyarakat Indonesia tentang Bapak Jokowi.

Dan ternyata Tuhan berkehendak untuk menjadikan Bapak Jokowi sebagai Presiden ke-7 negeri Indonesia. Hal ini tentu membuat bahagia bagi orang-orang yang mendukungnya. Akan tetapi, tidak dengan para pendukung calon Presiden yang lain.

Setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang terjadi pada tahun 2014 silam, banyak kaum intelektual menyuarakan opininya mengenai masa depan bangsa Indonesia di bawah pimpinan Bapak Jokowi. Ada yang berkomentar positif, pula ada yang berpendapat negatif tentang Bapak Jokowi. Bahkan, tidak hanya rakyat Indonesia saja yang bersuara, orang-orang luar negeri pun tak mau kalah. Seperti dilansir dalam koran Jawa Pos pada rubrik opini beberapa waktu lalu, bahwa orang-orang luar negeri beranggapan tentang kelemahan Bapak Jokowi dalam hal pengetahun politik. Artinya, Bapak Jokowi dipersepsikan sebagai orang yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa dalam berpolitik. Padahal, kita tahu bahwa Indonesia dalam aspek politik sudah carut-marut. Jadi, kepemimpinan Bapak Jokowi nantinya tidak akan berdampak apa-apa terhadap perbaikan perpolitikan di Indonesia.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, persepsi-persepsi negatif itupun memudar sedikit demi sedikit. Telah banyak hal dilakukan Bapak Jokowi demi kemajuan bangsa Indonesia. Salah satu hal tersebut yang baru-baru ini diberitakan adalah mengenai kemajuan di bidang ekonomi. Berdasarkan hasil survei terbaru, Bank Dunia menempatkan Indonesia sebagai negara teratas dalam top reformer perbaikan kemudahan berusaha pada daftar EODB 2017. Peringkat Indonesia melonjak signifikan dari yang awalnya berada di urutan nomor 106, kini naik menjadi ke-91. Hal ini tentu merupakan hasil dari kerja keras seluruh perangkat pemerintah yang berkewajiban menanganinya.

Oleh sebab itu, kita harus mengubah pandangan terhadap pemerintah kita. Jangan selalu melirik pemerintah dengan tatapan benci, jengkel ataupun semacamnya. Justru kita harus berterima kasih kepada mereka lantaran kebutuhan kita dipenuhi oleh mereka. Kita tak tahu, kapan saja mereka bekerja dan bagaimana beratnya memikirkan permasalahan bangsa yang kian kompleks ini. Terutama kepada Bapak Presiden kita. Kita tak akan tahu, jika misalkan pemerintah rela tidak tidur dan makan hanya karena memikirkan rakyat dan solusinya. Walaupun, sudah tak sedikit wakil rakyat yang mengkhianati rakyatnya sendiri untuk kepentingan pribadi. Tapi, tetap saja persepsi-persepsi negatif selamanya tak akan baik jika terus dipelihara. Karena kitalah generasi penerus yang akan memperjuangkan kemajuan Indonesia. Siapa tahu, entah berapa tahun lagi, kita akan menggantikan salah satu posisi mereka untuk menjadi wakil rakyat.

(Uzlifatul Laily, mahasiswa IQT Institut Ilmu Keislaman Annuqayah)
________________
Gambar: indonesiatatler.com