Terbaru

Contributors

Seharusnya Kita Berterima Kasih kepada Jamban


Bila kita mendengar orang mengumpat “mulutmu kayak jamban”, kata ‘jamban’ di situ jelas-jelas merujuk kepada konotasi negatif. Sejauh ini, belum pernah saya mendengar seseorang menggunakan kata ‘jamban’ untuk menyanjung-nyanjung orang lain, misalnya merayu sang kekasih dengan kalimat, “Aduh, Sayang, jamban banget deh kamu.”

Sebagai tempat bersemayamnya hajat hidup orang banyak, jamban memang selalu hadir dengan beban negatif. Ia adalah simbol kekotoran, mewakili benda-benda menjijikkan. Meskipun sebetulnya, jika kita mau menelaah sedikit saja, jamban punya kontribusi yang cukup besar dalam kehidupan umat manusia.

Bisa dibayangkan jika seandainya di dunia ini tidak pernah ada jamban. Kalau di desa mungkin tidak terlalu menjadi persoalan karena penduduknya sedikit, tinggal masuk ke semak-semak, crapat... selesai. Tapi, di kota-kota besar yang padat penduduk, sungguh tak bisa dibayangkan. Jika itu terjadi, betapa baunya dunia ini.

Itu kontribusi yang nyata dan merupakan fungsi utama dari sebuah jamban. Namun, sebenarnya ada kontribusi lain yang juga penting untuk dicermati, yaitu lahirnya ide-ide besar dari atas jamban.

Anda mungkin pernah merasakan, misalnya tiba-tiba mengingat sebuah benda yang diletakkan di sebuah tempat. Benda tersebut sudah Anda cari-cari beberapa hari sebelumnya, namun tidak ketemu. Baru di kamar jamban itulah, pikiran Anda memberikan jalan terang. Cling...!

Atau, pada kali lain Anda mencari nama-nama unik untuk barang dagangan Anda karena manusia zaman sekarang mudah tersulut nafsunya kalau mendengar nama-nama aneh, misalnya pentol mercon, nasi pocong, rujak selingkuh, dan sebagainya. Nah, karena yang Anda jual adalah rujak, pikiran Anda menemukan nama unik saat Anda sedang ngangkang di mulut jamban: rujak poligami! Ketimbang rujak selingkuh, terdengar lebih syar’i, bukan?

Sebagian tulisan-tulisan saya idenya lahir di atas jamban. Kadang ide itu memang lahir sebelumnya, namun semakin disempurnakan ketika sedang membuang hajat. Keluar dari kamar jamban biasanya saya langsung mencatatnya di ponsel agar tidak lupa.

Kalau kita cari di peramban Google, banyak sekali penulis yang menggolongkan ruang jamban dan kamar mandi sebagai tempat mencari inspirasi. Tidak heran, karena memang begitulah pengalaman sebagian besar orang. Justru terkadang jamban lebih bisa mengundang inspirasi ketimbang gedung-gedung mentereng.

Lalu, faktor apa sebetulnya yang membuat kamar jamban atau kamar mandi menjadi tempat lahirnya inspirasi?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Scientific American menyebutkan, bahwa faktornya adalah saat kita berada di atas jamban, pikiran kita dibiarkan mengembara dengan sendirinya. Tempat yang sepi dan personal menjadi pemicu pengembaraan pikiran tersebut. Ketika pikiran mengembara sendiri, maka ide segera bermunculan. Menurut penelitian tersebut, ide atau inspirasi yang baik datang ketika kita tidak mencarinya, pemikiran itu malah muncul ketika kita tidak sedang memikirkannya.

Jadi, betapa besar kontribusi jamban bagi kehidupan kita. Konotasi negatif yang dilekatkan kepadanya tak membuat nilai-nilai positif yang diembannya menjadi pudar. Seharusnya kita berterima kasih kepada jamban.

Udah. Itu aja. Saya kebelet, mau ke WC, eh, jamban...

(Rozi, penikmat jamban. Twitter: @demokrozi)
_____________
Gambar: Pixabay