Terbaru

Contributors

Tanda-Tanda Akhir Zaman Menurut Orang Madura Zaman Dulu


Sebetulnya saya agak waswas membicarakan soal kiamat. Khawatir tiba-tiba ada yang menyodok dari belakang sambil berkata, “Ngapain kamu bicara kiamat? Aku belum nikah, jangan bawa-bawa kiamat.” Duh..., Mblo.

Tapi, saya tetap akan membicarakannya karena saya kira tidak akan ada yang melakukan tindakan seekstrem itu. Jika pun ada, dia pasti mengidap dua kelainan: pertama jomblo, kedua gila.

Saya suka membicarakan hal remeh-temeh, sebab tiada daya membicarakan hal-hal besar. Siapalah saya, hanya ampas roti di sudut bibir Raline Shah. Jangan bandingkan dengan Paisun Mohammad yang sudah pernah membahas tetang kitab Alfiyah, saya ulangi, kitab ALFIYAH. Atau Syafiqurrahman yang menulis soal konflik tanah di Sumenep tercinta ini. Sekali lagi jangan bandingkan, karena dalam dunia perbandingan berlaku teori apple to apple, bukan bukkol to apple.

Baiklah, kembali ke pokok persoalan tentang kiamat. Eh, sebentar, kiamat itu soal yang remeh tidak? Oh, setidaknya sudut pandang saya ini adalah remeh karena hanya menyampaikan cerita dari sebuah pengalaman beberapa waktu lalu.

Dalam suasana silaturrahmi hari lebaran, rumah saya kedatangan beberapa kerabat. Sambil menikmati kue yang selalu ada di tiap lebaran dan biasanya kami makan hanya untuk formalitas belaka, kami terlibat pembicaraan beragam topik, salah satunya adalah soal kiamat. Dalam obrolan itu disampaikan bahwa orang-orang Madura zaman dulu selalu bercerita bahwa pada akhir zaman nanti atau mendekati hari kiamat akan ada gejala-gejala yang tidak lazim dalam kehidupan umat manusia. Tidak lazim maksudnya adalah tidak seperti kehidupan mereka saat itu. Ada perubahan mencolok yang tak pernah terbayangkan pada zaman itu. Membayangkan saja belum, apalagi mewujudkannya.

Dalam obrolan itu, beberapa gejala tersebut lalu dikaitkan dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan saat ini. Ternyata banyak kemiripan. Berarti kiamat tak lama lagi dong? Mana saya tahu, kiamat tak ada pamfletnya.

Tanda-tanda akhir zaman menurut orang Madura ini mungkin sulit ditemui dalam pasal-pasal kitab agama, apalagi dalam filmnya Dedi Mizwar yang kesohor itu. Artinya, keyakinan-keyakinan tersebut lebih bersifat lokal hasil dari pergulatan pikiran mereka dengan lingkungan dan mungkin juga dengan agamanya. Beberapa dari tanda-tanda kiamat tersebut adalah sebagai berikut:

Besse bisa ngabber (besi bisa terbang)
Tentu saja ungkapan ini tidak bisa dimaknai secara harfiah karena besi tidak pernah bisa bergerak sendiri. Semarah-marahnya besi ia tetap tidak akan pernah bergerak. Harus ada tafsir untuk mengetahui maksud ungakapan tersebut. Tapi mudah saja saya kira untuk menebaknya. Besi terbang kalau diasosiasikan dengan perangkat modern hari ini adalah kapal terbang, roket, satelit, dan sebagainya.

Sowara tadha’ orenga (suara tidak ada orangnya)

Nah, ini bisa dikaitkan dengan produk teknologi komunikasi hari ini, misalnya ponsel atau telepon. Kita tahu bahwa benda tersebut dapat membantu orang menjalin komunikasi tanpa harus saling berdekatan secara jasadi. Kita bisa mengirim suara ke negara Bigualu, jika negara ini ada, tanpa harus pergi ke sana.

Oreng lake’ ni’-mabini’, oreng bini’ ke’-malake’ (orang laki-laki keperempuan-perempuanan, orang perempuan kelaki-lakian)

Maksudnya, kaum lelaki akan memiliki tabiat yang menyerupai perempuan, misalnya pakai anting, kalung, cincin emas, dan sebagainya. Mereka juga memelihara rambut panjang. Sementara yang perempuan sebaliknya, jika dulu laki-laki pakai celana, sekarang celana sudah dipakai juga oleh perempuan. Mereka juga mencukur rambut ala laki-laki. Dan masih banyak lagi yang lainnya (Ada yang melagukan kalimat ini seperti gaya Bang Haji? Anda greget).

Itulah tanda-tanda akhir zaman menurut orang-orang Madura zaman dulu. Jika tafsirannya benar demikian, berarti kiamat memang benar-benar dekat. Apakah sedekat Raisa dengan Hamish Daud? Entahlah, saya sudah insaf ngawur.

(Rozi, netizen yang bukan buzzer)
______
Gambar: dream.co.id