Terbaru

Contributors

Ternyata, Narsis itu Tak Menyehatkan


Bicara narsis tentu bukan hal baru lagi. Anak TK pun, jika disoal apa itu narsis, mereka akan menjawab dengan jelas. Apa lagi anak muda, remaja seumuran SMP dan SMA, mereka akan menjawabnya panjang lebar disertai ekspresi narsis sambil berkata, “Begini lho narsis itu, Jeng”. Lidahnya melet dan tangannya gemulai.

Jadi, perihal narsis, kalangan remaja sudah pada tahu dan melakukannya, sekalipun tidak sedikit dari mereka yang belum memahaminya dengan baik. Kalau narsis itu disoal dengan pertanyaan apa dan di mana, jawaban yang segera muncul adalah berselfie dengan gaya pecaya diri baik di tempat elegan semacam wisata atau di warung-warung kopi sambil menikmati nikmatnya memadu kasih.

Namun, jika dianalisis dengan pertanyaan, narsisi itu dari mana dan bagaimana seharusnya? Nah, ini perlu dipikirkan secara jernih. Narsis yang kita bincangkan ini berawal dari kisah seorang pemuda dalam dunia mitologi Yunani yang dikutuk oleh Dewa Zeus gara-gara tidak menuruti perintah sang raja dewa itu. Narcissus hanya akan jatuh cinta pada dirinya/bayangannya sendiri seumur hidupnya. Sampai akhirnya dia meninggal tercebur ke sungai saat memandang bayangannya sendiri.

Pada perkembangannya, istilah narsis yang terucap dalam pergaulan sehari-hari memiliki konotasi gemar memuji diri sendiri, ngalem diri sendiri atau memancing orang lain agar memuji dirinya, kurang lebih seperti itu. Sehingga tidak heran bila kita sering jumpai di beberapa akun facebook, instagram dan beberapa akun lainnya, sejumlah foto-foto selfie dengan ragam model terpajang.

Menampilkan foto-foto narsis ke publik sudah seakan menjadi bagian dari kebutuhan remaja hari ini. Bahkan baru bangun tidur pun kamera menjadi sasaran utama. Kamera sudah lebih penting dari pada sekedar bersyukur, membaca doa bangun tidur. Buktinya, seringkali saya jumpai di sebuah status akun facebook, “Hanya selpong aja, abaikan muka kusut, karena baru bangun tidur”. Sambil mengupload foto-foto kurang etis.

Atau pada lain kesempatan, saya juga menemukan, “Ini cara saya menikmati keindahan wisata”, sambil menunjukkan foto berduaan lawan jenis, pegangan tangan, saling bertatapan, saling mebelakangi dan lain-lain. Hal demikian masih bisa dimaklumi.

Akan tetapi, sangat disayangkan saat narcissus menampilkan foto-foto kurang wajar. Misal, mengupload foto saling pelukan dengan ekspresi romantis, saling ciuman wama asbaha dzalik (dan sesuatu yang menyerupai hal itu). Perilaku remaja yang kurang baik tersebut akhir-akhir ini sudah menjadi hal biasa di medsos, seakan tanpa konsekuensi moral yang harus dipertanggungjawabkan.

Diakui atau tidak, tentu hal di atas menodai terhadap pola pikir dewasa; mengikis terhadap keberhasilan pendidikan etika yang tinamkan sejak dini. Untuk kalian para remaja, jangan lunturkan jatah “sifat malumu” hanya karena berlebihan memuji diri sendiri. Apakah kalian belum tahu, memuji berlebihan pada diri sendiri (narsis di bawah alam sadar), membuat sakit dunia pendidikan. Bahkan tak lagi menyehatkan nila-niai relegiusitas, bukan? 

(Yondri Akbar, kader muda Ansor Dungkek.)