Terbaru

Contributors

Voila dan Usaha-Usaha Menghiburnya


Dunia maya adalah bentang semesta yang rimbun. Di dalamnya terdapat konten yang begitu beragam, dari motivasi hingga prostitusi, dari agama hingga atheisme, dari Nikita Willy hingga Natasha Wilona. Semua itu tumpang tindih menjadikannya sebuah dunia yang ramai, ramai dalam senyap, ramai yang hanya dirasakan oleh kepala-kepala manusia yang tekun memandangi layar ponsel pintarnya.

Karena ramai, dunia maya adalah lahan bisnis yang menggiurkan. Jack Ma, pendiri Alibaba, menjadi salah satu orang terkaya karena bisnis e-commerce-nya. Ia merupakan satu dari sekian banyak orang yang meraup untung dari kerumunan manusia yang berjubel memenuhi dunia maya.

Tak bisa dipungkiri, hoaks pun menjadi lahan bisnis yang empuk. Kita tahu, penduduk Indonesia masih memiliki tingkat melek internet yang begitu rendah. Coba kita lihat grup-grup di Whatsapp atau Facebook. Masih banyak dari anggota grup tersebut yang membagikan berita-berita palsu dari sumber-sumber yang tidak jelas. Kadang-kadang, yang membagikannya justru mereka yang pengetahuan agamanya mapan, orang yang begitu berhati-hati dalam memperlakukan sanad hadits, tapi ceroboh dalam menyampaikan kabar bohong.

Pengetahuan masyarakat tentang literasi internet yang rendah membuat hoaks bekerja dengan sempurna. Kabar itu menyebar dari satu ponsel ke ponsel lainnya. Debat kusir terjadi, antara pendukung capres Jagung dengan capres Kelapa. Pendukung capres Jengkol cuma menyindir-nyindir dan pendukung capres Ketela memilih diam karena jagoannya terlibat kasus. Sementara penyebar hoaksnya hanya tertawa-tawa menyaksikan kebebalan yang dipertontonkan umat manusia. Ia mejadi kaya dengan bisnis hoaks itu.

Tapi, pada satu titik, sebagian orang yang mulai paham akan merasakan kejenuhan dari perdebatan yang tidak pernah selesai itu. Mereka akan tahu bahwa tidak ada manfaatnya memperdebatkan sesuatu yang bersumber dari berita yang tidak jelas. Mereka hanya akan menjadi budak dari silang sengkarut isi kepalanya sendiri. Lalu, mereka akan mencari hiburan dari riuhnya dunia maya, dengan beralih ke konten-konten lucu.

Mengapa ke konten lucu? Sebagaimana jomblo, mereka butuh hiburan. Dan konten lucu adalah hiburan yang paling tepat untuk melemaskan syaraf-syaraf di kepala mereka yang tegang karena berdebat. Mereka bisa menjadi lebih rileks dalam menjalani hari-hari selanjutnya.

Voila hadir dengan tujuan menjadi bagian dari keluarga situs yang memberikan kegembiraan itu. Tim kreatif terus berusaha menampilkan konten-konten yang menghibur. Namun, memang tidak mudah. Apalagi dengan sifatnya yang sukarela (penulis tidak diberi honor). Karena itu, tim butuh bekerja lebih ekstra.

Voila juga mendorong anak-anak muda, terutama dari Madura, agar bisa berkontribusi secara aktif. Voila menyediakan ruang yang cukup besar bagi mereka untuk berkreativitas. Tinggal apakah mereka mau memanfaatkannya atau tidak. Jika Anda bagian dari mereka yang mau berkreasi, mulailah kirim tulisan Anda ke: [email protected]

(Admin Tjakep)