Terbaru

Contributors

Awas, Dosa Sandal Mengancammu



Oleh: Ach. Khalilurrahman, Mahasiswa injury time Instika

Apalah arti sepasang sandal? Bagaimanapun ia hanyalah benda sederhana terbuat dari karet yang diolah sedemikian rupa. Tempatnya selalu di bawah sehingga sering dinamai alas kaki. Atas segala kerendahannya itu, keberadaan sandal seringkali tidak begitu kita perhatikan. Namun jangan mengira benda kecil ini tidak memiliki efek samping berbahaya. Ada saat dimana sandal yang kita remehkan justru mendatangkan dosa yang begitu besar.

Dosa besar akibat sandal barangkali ada banyak sesuai hasil pengamatan masing-masing individu. Namun dalam tulisan ini, penulis hanya akan mengangkat satu contoh kasus saja yang cukup akrab dengan keseharian kita. Memang penulis tidak memiliki keahlian untuk menentukan suatu perbuatan berdosa atau tidak karena hal itu hanyalah hak prerogatif Tuhan dengan segala kuasanya. Jangankan memvonis dosa, tulisan ini saja saya tak tahu mesti dimulai darimana.

Agar tidak bertele-tele, saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan: pernahkah Anda kehilangan sandal? Biasanya setelah turun atau keluar dari suatu tempat, tiba-tiba kita mendapati alas kaki itu raib entah di mana. Padahal kita sangat yakin dari situlah tadi kita naik. Setelah dicari ke mana-mana dan tidak ketemu, lalu apa yang akan dilakukan? Yang paling sering, kita akan mengambil sandal lain yang ada sambil berkesimpulan, “Inilah ganti sandal saya”.

Cerita belumlah selesai. Jika sebelumnya Anda yang kehilangan sandal, sekarang teman Anda yang menjadi korban setelah sandalnya Anda ambil tadi. Jika teman Anda juga melakukan tindakan yang sama dengan Anda, ceritanya akan lebih panjang lagi. Mata rantai itu terus memanjang dan akan berakhir bila sudah tak ada lagi sandal di tempat itu. Fenomena seperti ini jamak kita temui. Bahkan di tempat-tempat tertentu, ada semacam aturan tak tertulis yang melegalkan perbuatan tersebut hingga akhirnya mentradisi.

Bicara soal tradisi, saya jadi teringat suatu hadis yang sering dijadikan hujjah oleh kalangan ahlussunnah wal jamaah. Rasulullah pernah bersabda barang siapa mentradisikan sesuatu yang baik, ia akan mendapatkan pahala atas inovasinya itu serta pahala orang yang mengamalkannya. Namun bila ia menciptakan tradisi yang tidak baik, ia akan berdosa sekaligus juga kecipratan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya. (Sengaja saya tidak mengutip teks arabnya karena selama ini Voila belum pernah menerbitkan tulisan berbahasa arab baik sebagian maupun keseluruhan).

Tradisi dalam KBBI diartikan sebagai adat kebiasaan turun-menurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Selain itu, tradisi juga berarti penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang baik dan benar. Dari definisi tersebut, otomatis kasus di atas sudah cukup syarat untuk dikatakan tradisi. Bahkan dari saking mentradisi, kita selaku generasi penerus sampai tak pernah tahu siapa pencipta kebiasaan ini.

Dari sinilah kemudian timbul persoalan. Mari kita pikirkan, mencuri atau ghasab, jelas adalah tindakan dosa dan tercela. Kalau kelakuan seperti ini mentradisi, pencetus dan para pengikutnya bakal kecipratan dosa terus-terusan setiap kali ada orang yang menggunakan sandal orang lain tanpa izin. Skemanya mungkin akan sama dengan bisnis multi level marketing di mana setiap ada member baru bertransaksi, maka anggota lama atau diatasnya akan memperoleh bonus.

Sementara kita tahu, ghasab sandal kini sudah menjamur dan terjadi di berbagai tempat.Jangankan tempat umum, di tempat ibadah dan pesantren saja hal seperti ini lumrah terjadi. Bayangkan, sebesar apakah dosa pelaku ghasab sandal pertama kali dan orang-orang setelahnya andai sepertiga manusia di bumi ini pernah menggunakan sandal orang lain tanpa izin. Atau barangkali tuhan yang maha pengampun memiliki kebijakan lain dengan mengampuni kesalahan hambanya yang satu ini. Semoga saja begitu!
___________
Gambar: Pixabay