Terbaru

Contributors

Bagaimana Kita Memahami Perintah Membaca di Era Raisa



Abdurrohim el-Saniedosen STIT Al-Karimiyah

"Mau nanya pak, bukankah setiap fiel yg muta'addi wajib mempunyai maf'ul? Lalu bagaimana dengan perintah iqra' dalam QS. Al 'alaq : 1, disana koq tidak disebutkan maf'ulnya? Apa yang sebenarnya diperintahkan kepada Nabi untuk dibaca?" tanya seorang mahasiswa tempo hari kepada saya saat pelajaran Nahwu.

Sejenak saya merasa ini seperti perasaan jomblo yang tidak kunjung menemukan objek berlabuh. Seperti mereka yang terus berpikir romantis tapi tidak tau untuk siapa akan mereka tunjukkan. Objeknya sebenernya ada, tapi tersimpan dalam angan. Karena mustatar (tersembunyi) jadilah cintanya terbuka untuk semua orang. Bhehahha

Kembali ke laptop. Wahyu untuk membaca turun di waktu Nabi Muhammad menyepi di Gua Hira. Konon Gua ini terletak di daratan paling tinggi di pinggir dan menghadap tepat ke arah kota Makkah. Dari atas sana,  Nabi bisa dengan leluasa melihat dan memikirkan pergolakan kehidupan sosial masyarakat Makkah. Jadi sebenarnya kegiatan membaca sudah dilakukan oleh Nabi sebelum perintah untuk itu diturunkan. Lalu apa sebenarnya objek iqra' yang sebenarnya? Benarkah iqra' artinya bacalah?

Dalam sejarah dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Rojulun Ummi, artinya beliau tidak bisa membaca dan menulis. Benar saja ketika diperintah untuk membaca jawabannya, ma ana bi qari' (saya tidak bisa membaca). Tapi kenapa Allah memerintahkan orang yang tidak tahu membaca untuk membaca? Bukankah itu sama dengan menyuruh jomblo menikah? Jadinya dia hanya bingung dan keringatan. Bhehahahaha,  situ waras blo?

Untuk memahami itu perlulah ada makna lain dari perintah itu. Mari kita kumpulkan beberapa point penting dari kepingan-kepingan sejarah, seperti mengumpulkan hati para jomblo yang berserakan di jalanan. Bhahahaha

Pertama, Nabi menyepi di Gua Hira guna merenungi kehidupan masyarakat Makkah. Kedua, kehidupan masyarakat Makkah yang Jahiliyah; perempuan yang bertelanjang saat mengelilingi ka'bah, seorang ibu yang diwariskan kepada anaknya layaknya harta benda,  anak perempuan yang dikubur hidup-hidup oleh ayahnya, seorang perempuan yang boleh berhubungan badan dengan tujuh orang lebih sebelum menikah, bla bla bla, dan ketiga, Nabi Muhammad yang mungkin merasa jijik dengan semua yang dia lihat dari kehidupan di sekitarnya.

Mungkin arti kata iqra' yang paling tepat adalah: simpulkanlah Muhammad apa hasil yang selama ini engkau renungkan! Maka kemudian Nabi Muhammad menjawab, "saya tidak bisa menjelaskannya." Nabi tidak bisa menjelaskan karena di satu sisi iya melihat kehidupan yang begitu buruknya dan di sisi lain, ia punya ngilu hati dari harapannya agar bisa lepas dari mereka. Yach,  mungkin saja, kehidupan jahiliyah sangat membuat Nabi muak sampai dia selalu menyepi di Gua Hira.
Oleh karena itu, diturunkanlah wahyu agar Nabi melihat,membaca dan merenung dengan nama Tuhan yang telah menciptakan mereka. Yang telah menciptakanmu dan mereka dari segumpal darah.  Bacalah, maka Tuhanmu yang maha Mulia tidak menciptakan mereka tanpa alasan. Allah akan membimbingmu dengan wahyunya (al-Qalam). Allah yang akan membimbing mereka pula dari ketidaktahuan mereka.

Maka arti yang bisa kita pahami dari perintah itu adalah:
Bahwa ketika kita tidak menemukan alasan apapun untuk mencintai orang-orang di sekitar kita, maka lihatlah siapa yang menciptakan mereka. Akan selalu ada alasan untuk mencinta kasihi.

Bahwa sebesar apapun kesalahan mantan, kalau kita berpikir bahwa dia ciptaan yang sama dengan kita, tetap selalu ada alasan untuk memaafkannya.  Bhahaha.. Oke,  semoga bermanfaat...