Terbaru

Contributors

Dua Hari Menjelang Konfercab PMII Sumenep


 Rofiqi, Ketua I PMII Cabang Sumenep 

Konferensi Cabang PMII akan segera digelar. Tinggal dua hari lagi dihitung sejak hari ini. Tepat hari Sabtu, 9 September 2017 nanti, musyawarah tertinggi di tingkat Cabang PMII Sumenep itu akan segera dilaksanakan. Pada kegiatan tersebut, akan dipilih ketua umum yang baru. Pemimpin yang nanti akan menahkodai PMII Sumenep selama satu periode ke depan. Tapi menurut saya bukanlah itu yang penting. Siapapun ketua-nya, saya percaya bahwa mereka akan amanah dan mengabdi sepenuh hati untuk PMII.

Namun terlepas dari itu semua, ada beberapa hal yang ingin saya catat dua hari berjalan menuju Konfercab ini. Setidaknya, beberapa hal itu akan memungkinkan untuk menjadi bahan refleksi dalam perputaran waktu 2 X 24 ke depan ini.

Pertama-tama, mari kita sepakati untuk menempatkan Konfercab sebagai bagian dari tahap—secara tak langsung dari—ideologisasi PMII. Sebagai bagian dari sikap ideologis, maka Konfercab ini adalah salah satu tangga yang bisa kita gunakan untuk membangun PMII ke depan. Untuk melakukan reformulasi gerakan PMII paling tidak, agar mampu memiliki idealisme yang tangguh berhadapan dengan situasi sosial-politik lokal hari ini yang kian tak jelas jenis kelaminnya.\

Jadi Konfercab bukan melulu masalah gesekan politik tentang persaingan para calon yang ingin menjadi ketua. Bukan pula hanya masalah kontrak-kontrak jabatan untuk mengumpulkan suara, tapi—sebagai bagian dari sikap ideologis—Konfercab juga adalah masalah ikhtiar, keikhlasan, idealisme yang sangat berharga dan tidak bisa ditukar dengan hal-hal pragmatis di atas.

Namun begitulah, sikap ikhtiar dan keikhlasan mengabdi itu, tidaklah semudah kita mengucapkan. Karena setiap prilaku baik dan suci, ia juga memiliki tantangan dan cobaan yang tentu tak sederhana. Semakin mahalnya idealisme hari ini, juga semakin meyulitkan untuk kita dalam ikhlas berjuang, ikhlas mengabdi dan ikhlas belajar. Jadi Konfercab yang akan segera berlangsung hari Sabtu nanti itu, adalah ring yang menggelar pertarungan antara yang idealis melawan yang pragmatis, atau sebaliknya.

Maka dari itu, mulai hari ini, kita harus jelas berada di posisi yang mana: apakah yang idealis atau yang pragmatis? Dalam konteks inilah, kita bisa mendudukkan Konfercab bukan sekedar kegiatan belaka, tapi juga pertaruhan masa depan PMII Sumenep ke depan. Karena ketika kita salah memilih dalam menentukan keberpihakan ini, maka bom waktu untuk PMII akan segera berhitung mundur.

Yang paling penting, mari kita jangan menganggap Konfercab nanti sekedar perkara suksesi kemenangan menjadi ketua, dan kemudian sampai menghalalkan segala cara untuk memenangkan satu calon. Sikap pragmatis itu, akan menjadi penentu apakah Konfercab nanti benar-benar dihormati atau malah sebaliknya; diludahi dengan berprilaku memalukan tersebut. Konfercab adalah permusyawaratan yang sakral, mari jangan kita nodai dengan sikap bejat seperti itu; yang kadang sampai lupa kerabat, sahabat, dan saudara demi egoisme pribadi.

Karena saya percaya, bahwa kemenangan yang ditempuh dengan jalur “tak sehat” dengan menghalalkan segala cara, itu bukanlah kemenagan yang sesungguhnya. Sebaliknya, bagi saya itu adalah kekalahan. Karena bila kita benar-benar mendudukkan Konfercab sebagai bagian dari ideologisasi, yang dimaksud kemenangan itu adalah sejauh mana kita mempertahankan dan memperjuangkan idealisme.

Dua hari ini, cukup untuk kita merenungkan itu semua. Merenungkan untuk kembali menganggap bahwa idealisme itu masih pantas untuk kita perjuangkan. Bahkan bukan sekedar pantas, tapi wajib untuk kita lesatarikan. Mari kita ber-Konfercab sembari mengingat bahwa PMII adalah titipan para kiai-kiai sepuh pesantren, yang hingga detik ini mampu berkibar di atas peluh dan tirakatnya. Dengan ini, mari bersama-sama kita menjaga PMII berdasarkan spirit ideologis dan idealisme perjuangan yang ikhlas.Wallahu A’lam.
______________
Gambar: nu.or.id