Terbaru

Contributors

Inilah Pilihan Konvoi Menyambut Kedatangan Jamaah Haji di Madura


Abd Warits Pengamat Haji


Bagi masyarakat Madura, melaksanakan Ibadah Haji memiliki kesakralan tidak terbatas. Tidak sembarang orang bisa melaksanakan ibadah haji,  hanya orang terpilih dan “berhak” bisa melaksanakan Ibadah rukun Islam poin terakhir tersebut. Masyarakat Madura, menyebut proses ibadah tersebut dengan istilah “naik haji”, sebagai tanda bahwa mereka akan mengalami perjalanan spiritual tingkat tinggi. Oleh sebab itu, Maka jangan heran, saat kedatangan jamaah haji,  seluruh jalanan di Sumenep tumplek dengan iring-iringan kendaraan baik roda dua, roda empat, dan bahkan kendaraan roda enam sekalipun dalam rangka menyambut kedatangan jamaah haji.

Bagi sebagian besar kalangan, kemeriahan penyambutan tersebut menjadi bagian dari “tanda-tanda” kualitas ibadah haji seseorang. Semakin meriah penyambutan, maka semakin tinggi pula “tingkat” ibadah haji yang diperoleh, begitu juga sebaliknya, jika sepi dan tak ada raungan knalpot motor pastinya orang akan melihat ia sebagai penyandang status “haji” melas.

Memahami situasi ini, tak perlu lah para pembaca Voila sibuk buka-tutup berbagai jenis kitab kuning, apalagi kitab hadis yang berjilid-jili itu hanya untuk menemukan landasan hukumnya. Cukup diqiyaskan saja pada proses pemamakan seseorang. Kita bisa mengetahui “kualitas” orang meninggal dengan melihat berapa banyak yang ikut menyalati dan mengantarkan ke liang lahat. Pastinya tidak akan ada yang meragukan kemuliaan “seseorang” jenazah, bila terdapat ribuan bahkan puluhan ribu orang ikut mengantarkannya menuju tempat peristirahaan terakhir.

Namun di zaman “viral” sekarang ini, tentunya kemeriahan iring-iringnya kendaraaan tersebut tak cukup lagi dijadikan standar utama “kualitas haji” seseorang. Namun juga perlu ditambah dengan standar seberapa banyak akun facebook, twitter dan media sosial lainnya ikut “menviralkan”  kedatangan jamaah haji seorang. Jika tahun lalu ada konvoi perempuan dengan balutan kain putih, berjilbab merah begitu viral di media, maka inilah beberapa jenis konvoi yang bisa disiapkan bagi para jamaah haji tahun 2018 sehingga bisa viral di media:

Jheren Serek (Kuda Hias)
Selama ini, Jheren Serek hanya tampil pada event tertentu seperti: Haflatul Imtihan, Karnaval Agustusan, atau ketika hajatan selametan khatam al-Qur’an dan juga sunatan. Selama Jheren Serek itu tampil, dapat dipastikan ratusan bahkan ribuan orang akan berjejer di pinggir jalan untuk menyaksikan parade tersebut.

Nah, kiranya dapat kita bayangkan jika yang “nangkring” di punggung kuda tersebut adalah para jamaah haji lengkap dengan pakain kebesarannya: jubah besar putih, sorbal dan Igal, plus kacamatan hitam. Bukankah kuda adalah kendaraan panji-panji Islam di masa Rasulullah, pasti akan menampakkan kegagaha para jamaah haji. Tapi jangan lupa pegangan yang erat, nanti saat kudanya berparade angkat kaki depan, malah jatuh. Kan repot.

Odong-Odong
Siapa yang tidak kenal odong-odong? Kendaraan hias dengan pernak-pernik lampu, alunan musik dan model khiasan macam-macam, menjadikan wahana hiburan ini paling diminati anak-anak. Tentunya, bila odong-odong ini dijadikan kendaraan penyambut para jamaah haji, pasti semua orang akan geleng-geleng kepala, takjub dan terharu menyaksikan betapa para jemaah haji menghargai kreativitas masyarakat kecil yang telah susah payah merakit kendaraan roda tiga ini, sebagai motor hias yang sangat menarik.

Apalagi sejak Taman Adipura Sumenep “dibersihkan” dari semua jenis aktivitas hiburan rakyat, keberadaan odong-odong mulai “merosot” karena jumlah pengunjung yang semakin berkurang. Nah, dengan menggunakan odong-odong ini, para jemaah haji tidak hanya “mengeksiskan” diri sendiri, tapi juga menaikkan pamor kendaraan hias tersebut. Masak mau kalah sama karnaval, kan gak level?

Sepeda Hias
Tak terbayang deh, bila ada jemaah haji mengayuh sepeda hias mulai dari halaman Masjid Jamik Sumenep sampai kediamannya. Kalau rumahnya hanya di sekitaran kota sih gak masalah, nah kalau sampai ke desa Lanjuk-Manding atau Mandala-Rubaru, apalagi desa Jaddung-Pragaan, bisa-bisa pakaian yang asalnya wangi dengan parfum “hajar aswad” bisa bau keringat menyengat.
Tapi kan tujuannya adalah “merangsang” para pengguna aktif media sosial untuk mengabadikan momen ini. Bila cara ini yang dipilih, dipastikan deh semua pengguna medsos akan dengan senang hati mengapludnya di media sosial. Foto bahkan video kita sebagai jamaah haji pasti akan langsung “viral”, siapa tahu nanti dilihat oleh Presiden Jokowi, kan lumayan bisa dapat sepeda gunung gratis.

Nah, menarik kan. Itulah “konvoi” jamaah haji masa depan yang bisa menviralkan “kita” sebagai orang yang telah menyelesaikan semua tahapan rukun iman dalam Islam. Dan yang pasti, semua itu akan membuat kepulangan jamaah haji viral di media. Semakin viral, maka semakin dekat pula dengan kualitas “haji mabrur”.

Selamat mencoba.
_________________________
Gambar: Antaranews