Terbaru

Contributors

Inilah Syarat Menjadi Politisi Abad ke-21



Ada yang berminat menjadi politisi? Yaah, pasti kalian berminat semua. Siapa yang tidak mau jadi konglomerat dadakan, punya mobil dinas mewah, dan bisa dengan bebas nunjuk perempuan sana-sini untuk dilamar; dari kelas nyai yang allim sampai kelas model yang bahenol, bebas kalian pilih nanti kalau sudah jadi politisi. Sssttt! ini rahasia, awas jangan ember, cukup dimengerti tak usah disebarsempitkan, sebarluaskan saja. Haha. Tapi ini bukan gosip loh. Awas para ibu-ibu yang membaca tulisan ini, jangan jadikan bahan bicara di arisan. Kalau maksa, bisa ditangkap para intel yang sering nongkrong di kafe-kafe remang. Huhu... Sekali lagi ini bukan gosip, tapi fakta.

Baik, mari kita kembali ke masalah politik lagi; sebagai sebuah masalah yang membuat dunia ini terbalik 180 derajat. Wah, kebayang, kan? Ya, karena apa yang kita sebut politik di abad ke-21 ini, telah membuat dunia kita memang benar-benar serba terbalik. Ingat! “dunia terbalik” itu kini bukan hanya ada di sinetron, tapi juga ada dalam kehidupan nyata kita.

Bagaimana tak disebut terbalik, jika di hadapan politik hari ini, kejahatan lebih berarti dari pada kebaikan,kebohongan lebih berarti dari pada kejujuran, terbalik bukan? Dan juga, bagi mereka, pencitraan lebih berarti dari pada ketulusan. Rasanya semua menjadi halal di hadapan politik. Dari menjual nama Tuhan, pura-pura berkunjung ke desa-desa, sampai mendekati beberapa kiai lugu untuk dimanfaatkan agar mendukunya. Kalau bukan jahat, mau disebut apa coba kalau sudah begini? Mereka, para politisi, sudah lebih jahat dibandingkan perampok dan jambret, juga lebih jahat dibandingkan para Playboy yang sudah menipu banyak gadis.

Kalau perampok, sejak pakaiannya pun sudah jujur, mereka sudah kelihatan penampilannya compang-camping, berandal—makanya penampilan perampok di jalanan banyak orang bilang sudah menakutkan. Seolah-olah sejak dari pakaiannya mereka sudah ngasih tahu untuk berbuat jahat dan mau ngambil duit orang. Tapi kalau politisi, dengan kemeja dan celana mengkilap, harum dan ditambah dasi serta pantofel mahal, siapa yang akan menyangka bahwa ia akan berbuat jahat? Siapa yang akan menyangka bahwa ia sedang menipu publik untuk nilep uang negara?

Dan satu lagi. Politisi itu juga lebih jahat dibandingkan Playboy loh. Buat para ibu-ibu janda yang masih suka berdandan, atau artis-artis cewek yang sekarang belum dapet pasangan dan gila duit, sebaiknya Anda jangan hanya waspada pada para Playboy, tapi juga wajib waspada pada politisi.Mereka memang banyak duitnya, tapi buruk sifatnya. Mereka memang banyak mobilnya tapi bejat hatinya. Ingat itu! Saya sungguh tak tega kalau ada perempuan yang nangis-nangis karena suaminya sebagai politisi sudah tak mau tahu ngebet untuk poligami. Ini bukan soal agama, tapi soal hati. Agama membolehkan poligami, tapi belum tentu hati para perempuan.

Inilah kejahatan-kejahatan politisi abad ke-21. Selain telah banyak merampok uang negara, mereka juga sudah melukai banyak hati perempuan. Kebohongan dan tipu-muslihatnya, adalah “senjata” yang sungguh, jauh lebih canggih dari cemetiamarasuli, cambuk yang dipakai Sembara membunuh Mak Lampir, di serial drama Misteri Gunung Merapi. Haha... Percayalah! Bahwa kedua senjata para politisi itu, sungguh sakti mandraguna, mampu membuat hati meleleh dan tak sadar dibuatnya.

Jadi, bagi Anda yang mau jadi politisi, maka mulai hari ini, Anda harus sudah membiasakan berbohong dan hidup rakus. Kasarnya, harus belajar menghapus perilaku-perilaku baik sejak dini. Minimal, setiap hari Anda bisa borbohong 10 kali kepada orang lain, tanpa diktehui bahwa Anda dalam keadaan berbohong. Metode ini sangat menentukan kelak ketika Anda benar-benar sudah jadi politisi. Karena di gedung parlemen sana, sama sekali sudah tak ada kursi bagi perilaku-perilaku baik. Kalau Anda hanya baik sendiri, maka siap-siaplah dalam hitungan hari, Anda disenggol dari gedung mewah tersebut. Buktinya seperti Gus Dur itu. Karena hanya memperjuangkan kebaikan sendirian, maka belum sampai akhir jabatannya sudah diadili dan diberhentikan sebagai Presiden.

Berlatihlah kebohongan mulai hari ini, bagi Anda yang bercita-cita jadi politisi, minimal Anda tak ketahuan bila nanti hendak mau mencuri uang rakyat. Tidak seperti, Bupati Pamekasan yang awal Agustus yang lalu malah kena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK. Itu tandanya, latihan berbohongnya kurang. Sehingga sekarang ia mendekam di balik jeruji sel tahanan. Kasian ya? Politisi yang lain bukan tidak nyuri sih, tapi mereka masih pintar menyembunyikan. Mereka memiliki kreativitas berbohong yang lebih sakti dibandingkan Achmad Syafi’i, Bupati Pamekasan Madura itu.

Bentar, ada lagi yang tak kalah penting. Selain pandai berbohong, menjadi politisi juga harus rakus. Jangan pernah kenal puas dengan kekayaan. Dan harus tega melihat rakyat-rakyat miskin kelaparan. Karena besok, kalau Anda jadi politisi, kalian dituntut untuk selalu nyuri uang rakyat itu. Jadi istilah-istilah: kesejahteraan rakyat, stabilitas ekonomi, dan pembangunan daerah, itu cukup Anda janjikan saja. Lagi-lagi di sini, Anda harus mainkan kreativitas berbohong Anda sebagai politisi.

Nah, bagi para orang tua sekalian, kalau anak Anda mau dijadikan kepala desa, bupati, atau menteri dan DPR kelak, tak usah repot-repot menyekolahkan tinggi-tinggi, didiklah anak Anda itu, menjadi seorang pembohong dan ajari juga pola hidup yang rakus. Keduanya itu, sudah cukup menjadi syarat dan bekal bagi anak Anda untuk jadi politisi kelak. Sekalian tak apa-apa, Anda juga tak mengenalkan agama. Karena pelajaran-pelajaran agama yang sejatinya dari dulu diajarkan di bangku-bangku Madrasah Ibtidaiyah, atau SD-sederajat, di hadapan politik juga tak ada gunanya. Misalkan seperti kejujuran, ketakwaan dan seterusnya itu tak akan digunakan di arena politik.

Karena sekali lagi, syarat untuk menjadi politisi di abad ke-21 ini, hanya ada dua: antara keterampilan berbohong dan kebiasaan hidup rakus. Titik.

(Moh. Roychan Fajar, Aktivis Pinggiran)
_____________________
Gambar: liputan6.com