Terbaru

Contributors

Jangankan Rektor, kepada Mantan Pun Kita Harus Berakhlak


A Wajid Muntaqa, bekas aktivis IJNU (Ikatan Jomblo Nahdlatul Ulama), kini menetap di hati gadis Sepinggan.

Saya tertegun ketika membaca status fesbuk seorang teman, berisi komentar tentang demo di salah satu kampus Islam negeri. Dia mengatakan bahwa pendekatan kepesantrenan yang dilakukan oleh sang Rektor tidak pas dalam menghadapi demonstrasi di luar pesantren. Saya memiliki pandangan yang berbeda, dan keberatan meskipun berat badan saya pas-pasan dengan status teman saya tadi. Saya melihat Pak Rektor bukan menggunakan pendekatan kepesantrenan, namun lebih dari itu, menggunakan pendekatan akhlak.

Benar, bahwa pesantren sangat menekankan pendidikan akhlak, tapi tidak hanya di pesantren saja kita harus berakhlak. Akhlak yang baik harus selalu kita amalkan, di mana saja, dan kapan saja. Maka harusnya mahasiswa berdemo dengan akhlak berdemo yang baik, dan Rektor menanggapinya dengan tanggapan yang berakhlak!

Bagi saya, mengatakan bahwa penghormatan pada guru hanya berlaku di pesantren sama saja dengan mengatakan bahwa keramahan kepada pembeli hanya berlaku di indom*ret. Memaklumi orang yang tidak berakhlak kepada guru hanya karena berada di luar pesantren sama saja dengan memaklumi pedagang pasar tradisional yang marah kepada pembeli hanya karena mereka berada di pasar tradisional.

Sekali lagi, kita harus selalu berakhlak yang baik, di manapun, dan kapanpun. Sekali lagi, a seeek… eh

Menurut seorang ustadz yang telah hitam jidatnya, akhlak itu tidak hanya kepada yang lebih tua, tidak hanya kepada yang sedang kita perlukan bantuannya, tidak hanya kepada orang yang selalu kita rindukan kasih sayangnya, namun akhlak itu kepada semuanya, kepada Tuhan, kepada manusia, dan kepada semua makhlukNya. Berikut beberapa akhlak yang relevan dengan kekinian dan kedisinian kita:

Pertama, akhlak sebagai pejabat. Seorang pejabat haruslah menjalankan tugasnya dengan akhlak yang baik. Jika tidak, ia akan menjadi pejabat yang aman ah, bukan yang amanah. Tanpa akhlak yang baik, hidupkan akan selalu galau dengan jeratan harta, tahta, wanita, dan ka pe ka.

Kedua, akhlak di jalan raya. Sebagai pengguna jalan, kita harus taat aturan dan memperhatikan keselamatan bersama. Nyalakan lampu sein kiri jika akan belok kiri, dan sein kanan untuk belok kanan, gunakan kelengkapan keselamatan, dorong kendaraan anda jika kehabisan bbm, hitung-hitung olahraga, jika anda kebetulan ditilang aparat, hati-hati dengan apa yang dia minta, sebab Tuhan Yang Memaafkan, aparat yang memanfaatkan.

Ketiga, akhlak kepada mantan. Kita harus sangat berhati-hati dengan mantan, jangan main hati lagi. Jangan! Kita harus menjaga akhlak kepada mantan, sebab ia adalah pasangan yang kedaluwarsa. Betapapun, sesuatu yang kedaluwarsa itu tidak baik untuk kesehatan, waspadalah waspadalah!

Keempat, akhlak dalam bahasa tulis. Jangan sekali-kali menggunakan cara menulis yang alay dan lebay, sebab tidak semua orang sama dengan Qmoe, eh.
____________
Gambar: aceh.tribunnews.com