Terbaru

Contributors

Kalaupun Akhirnya Jadi Mantan, Jangan Pernah Menjadi Mantan Penulis


Paisun, mantannya seseorang, bukan mantan penulis.


Menjadi mantan memang tidak enak. Itu kata orang, lho. Kalau berdasarkan pengalaman saya sendiri sih, nggak begitu. Nggak begitu beda maksudnya. Hehe. Satu-satunya yang enak menjadi mantan adalah “mantan” dalam bahasa Madura alias mantenan. Dalam “mantan” yang begini, pasangan pengantin akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Gak Percaya? Tanya aja pada Syamsuni yang sudah berpengalaman 3 kali mantenan.

Tulisan ini sebenarnya tak ada urusan dengan dunia lope-lopean, dunia percintaan. Dunia itu adalah dunia anak muda. Ini tentang tulisan. Di lingkungan saya mengabdi, saya kerap kali bertemu dengan orang-orang yang di masa mudanya, khususnya saat mahasiswa, sangat hebat. Mereka kreatif dan produktif dalam menghasilkan karya di media massa. Namun saat ini, sebagian dari mereka terjebak dalam rutinitas pekerjaan atau kegiatan yang membuatnya justru enggan menulis. Macam-macam saja hambatan yang dihadapi. Mulai dari jabatan struktural hingga kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Padahal, beberapa di antara mereka justru bergelut dalam dunia pendidikan, dunia yang sebenarnya tidak terlepas dari membaca dan menulis. Namun kenyataannya, saat ini mereka tidak menulis lagi. Mereka bukan lagi sebagai penulis, tapi mantan penulis.

Menurut saya, kalaupun harus menjadi mantan, jangan pernah menjadi mantan penulis. Sangat disayangkan apabila sampai menjadi mantan penulis. Bukan apa-apa, untuk menjadi penulis itu tidak mudah. Dalam masa belajar, ada banyak hal yang sudah dikorbankan. Lagi pula, eman-eman kalau keterampilan yang sudah didapatkan dengan susah payah dilepaskan begitu saja. Sama saja misalnya dengan para jomblo yang berjuang mati-matian untuk memperebutkan cewek pujaan, setelah didapatkan malah di-mantan-kan begitu saja. Gak mungkin kan?

Namun saya akui tidak mudah untuk setia dalam menulis. Saya selalu kagum kepada orang-orang yang masih setia menulis di tengah kesibukan yang dijalaninya. Mereka mampu menyediakan waktu  untuk setia dalam menulis. Karena memang setia untuk selalu menulis itu sulit.

Mereka yang selalu menulis adalah orang yang menjadikan menulis bukan sekadar sebuah profesi, tapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam dirinya. Menulis sudah menjadi kegiatan sehari-hari yang tidak bisa ditinggalkan, sama derajatnya dengan makan, minum, tidur, bernafas dan seterusnya. Meminjam bahasanya Syahrini, menulis tak lagi menjadi “sesuatu”, tapi sudah sublim dalam dirinya sehingga tidak “wah” lagi.

Tentu saja, untuk mencapai derajat seperti itu butuh proses dan pembiasaan diri, salah satunya dengan menulis setiap hari. Selain itu, perlu menciptakan “situasi daruat” dalam dirinya sehingga mau tidak mau harus menulis. Dalam hal ini, saya teringat kepada Yohanes Surya. Ia mengatakan bahwa agar cita-citanya kuliah ke luar negeri berhasil, ia langsung beli paspor. Padahal, saat itu ia masih lemah dalam bidang bahasa Inggris. Justru karena “situasi darurat” yang diciptakannya itulah maka ia kemudian bisa lebih semangat dalam belajar bahasa inggris hingga akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa di luar negeri.

Untuk itu, wahai penulis pemula, berkomitmenlah untuk menulis sepanjang masa. Menulis jangan hanya saat muda dan menjadi mahasiswa. Menulislah sampai Anda tidak bisa lagi membedakan mana perawan mana janda. Eh.

Wallahu A’lam.