Terbaru

Contributors

Kera Lebih Modern dari Mereka



Syafiqurrahman, Dosen yang Kiai.

Di tengah tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, justru banyak orang bergaya hidup kemewah-mewahan, di luar batas kebutuhan. Seakan tidak menemukan batas kecukupan. Semisal, makan tidak sekadar butuh kenyang tetapi juga istimewa, kendaraan tidak cukup memenuhi transportasi tetapi juga mewah. Itu artiunya, kesederhanan tidaklah sederhana; tak banyak yang bisa mengaplikasikannya.

Melihat fenomena ini, saya jadi teringat teori Darwin melalui buku The Descent of Man, menyatakan bahwa, manusia merupakan makhluk bernenek moyang kera. Dalam kata yang berbeda, asal usul manusia berawal dari seekor kera. Kera diklaim mengalami berbagai bentuk perubahan secara bertahap baik bentuk fisik maupun psikis yang kemudian pada akhirnya menjadi sosok manusia; makhluk sempurna yang bisa berpikir.

Menurut kepercayaan saya, teori tersebut tentu tidak bisa diyakini kebenarannya oleh karena bertentangan dengan teori penciptaan manusia dalam Islam bahwa, manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang diciptakan dari segumpal tanah. Selain itu, hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah, khususnya dalam fosil, bahwa manusia adalah bentuk perubahan dari kera.

Namun, melihat fenomena kehidupan saat ini, seakan-akan mengajak saya menyakini teori Darwin. Karakter kehidupan kera mulai merasuki kehidupan banyak manusia (tidak semuanya), atau sebaliknya: manusia telah memasuki kehidupan kera: rakus dan tamak. Sebagai contoh, kera kalau makan dan merasa perutnya sudah kenyang, biasanya disimpan di bawah rahangnya hingga tampak mengembung; rakus. Korupsi yang selama ini merajalela dilakukan bukan karena mereka tidak ada yang mau dimakan, tapi itu karena rakus. Saya tak maksud menyamakan koruptor dengan kera, tapi itu adanya.

Jika setiap sesuatu di dunia ini akan kembali pada asalnya, maka teori Darwin bisa jadi akan menumukan kebenarannya bahwa manusia akan kembali pada kehidupan kera. Selain sifat rakus, banyak tanda-tanda yang bisa disaksikan sebagai bentuk cerminan dari kehidupan kera: model rambut yang seperti piramida, semakin lumrahnya pakaian minimalis, dan seterusnya. Jika demikian dianggap sebagai bagian dari modernisasi, maka tentu kera lebih modern dari pada mereka.  

Bagi saya, pada dasarnya, dalam menjalani roda kehidupan, manusia membutuhkan ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan kenyamanan. Ironisnya, hal yang demikian seringkali diidentikkan dengan materi. Karenanya, manusia berbondong-bondong mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya hingga dengan cara di luar batas ajaran agama, seperti mencuri, korupsi, dan sebagainya. Bagaimanapun, ketenangan tidak bisa diperoleh dengan cara tidak tenang.

Banyak manusia kerap berprasangka kepada dirinya sendiri dan pada orang lain bahwa, pola hidup mewah dan kekayaan yang tampak melimpah itu membawa kebahagiaan karena apapun yang diinginkan akan mudah tercapai. Padahal, ketenangan itu hanya ada dalam hati bukan pada materi. Ada banyak orang di sekitar kita yang kehidupannya mewah dan memiliki harta melimpah—kita nilai hidupnya tentram dan tenang, ternyata sebaliknya.

Saya pun mengalaminya—menganggap beberapa tetangga di sekitar rumah saya kehidupanya nyaman, tenang, dan damai karena bisnisnya lancar, punya mobil dan rumah mewah, serta berpenampilan elit, ada pula pejabat keperintahan, tetapi kenyataannya, persoalan dalam keluarganya amat keruh; jauh dari ketenangan yang saya bayangkan. Ada yang mengungkapkan, “Gu’en ca’na oreng se nyaman” (hanya kata orang yang enak). Begitu pula sebaliknya, ada yang kelihatan sederhana dan pas-pasan namun hidupnya penuh keceriaan.

Jika harta dan jabatan tak menjamin ketenangan, lalu apa? Jawabannya cukup sederhana, yaitu menanamkan ke dalam hati yang paling dalam, perasaan tidak selalu merasa kurang. Apapun yang kita miliki, merupakan pemberian Tuhan yang mesti dinikmati dan disyukuri. Yang terpenting adalah bekerja keras hingga menjadi tidak pantas dibayar kecil. Selebihnya, hanya dengan bersyukur, hidup ini akan terasa tenang dan tentram, terasa cukup dan tak kurang, dan tidak merasa hina meski sederhana.
______________
Gambar: republika.co.id