Terbaru

Contributors

Mari Menjadi Petani!


Abd. Muqsith guru di YPI Nurul Mannan, Sukogidri, Ledokombo, Jember

Saya selalu curiga terhadap apa yang terjadi di alam mayapada. Kecurigaan saya adalah bahwa di balik itu semua, sudah ada yang menjadi sutradaranya. Sutradara yang saya maksud bukan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ada semacam kekuatan pribadi atau organisasi dunia yang telah mengatur semuanya. Tidak tejadi dengan sendirinya. Artinya, hal itu bukan karena hukum alam yang memang ada. Tapi, karena hebatnya, semua yang terjadi seperti hukum alam yang niscaya.

Kecurigaan saya ini lebih mengarah pada adanya kekuatan yang menyebabkan lahirnya shifting paradigm (pergeseran paradigma). Paradigma masyarakat diubah sedemikian rupa sehingga mereka lupa pada asal usulnya darimana. Paradigma semacam ini telah tumbuh merajalela di kalangan masyarakat kota maupun desa.

Seperti keengganan pemuda untuk menjadi petani, kecurigaan saya juga mengarah ke sana. Dalam pandangan saya, hal ini sudah diatur dengan sempurna. Kalau dalam hal ini, pertama, dalam kacamata saya, paradigma yang serba mengarahkan manusia pada kehidupan yang serba pragmatis dan hedonis, adalah salah satu penyebabnya.

Ketika pekerjaan yang akan dilakukannya tidak menghasilkan kesenangan dan kenyamanan, maka sudah bisa dipastikan akan segera ditinggalkan. Bukankah menjadi petani, sepintas, hanya mengotori diri? Setiap hari tak lepas dari air, tanah dan bersama-sama matahari “menemani” bumi. Tentu hal itu hanya akan menjadikan kita seperti tak sayang pada diri sendiri. Membiarkan tubuh begitu saja, tanpa mau merawatnya.

Kedua, kekuatan yang berperan bagi pemuda adalah pergeseran paradigma dalam memaknai masa depan dan masa lalu. Manusia sekarang, terutama pemuda, lebih sering berpikir jauh ke depan, tapi melupakan yang terjadi sebelumnya di belakang. Lebih tepatnya, lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan, daripada menoleh ke belakang—sebagai alasan mengapa ia hidup sampai sekarang.

Kaitannya dengan keengganan pemuda menjadi petani dipengaruhi oleh paradigma ini. Mereka—terutama pemuda desa—sudah melupakan masa lalunya bahwa hidup dari keluarga petani. Lihat saja dalam setiap melengkapi formulir, misalnya, yang mengharuskannya mengisi pekerjaan orang tua, mereka “tak rela” mengisinya dengan “petani” tapi lebih suka dengan pekerjaan “wiraswasta” atau “wirausaha”. Padahal “wiraswasta” dan “wirausaha”-nya tidak jelas juga seperti apa.

Anehnya, paradigma semacam ini juga mendapat dukungan dari orang tua. Orang tua yang juga bertani, biasanya, tak menginginkan anaknya punya pekerjaan sama dengan mereka. “Aku menyekolahkanmu agar tidak sama denganku. Tidak menjadi petani melulu,” begitulah biasanya orang tua berpesan pada anaknya. Alhasil, anak semakin enggan untuk menjadi petani—pekerjaan yang sama dengan orang tuanya.

Padahal, andai berpikir bijak, tentu kita akan mengakui bahwa kehidupan ini berasal dari jerih payah para petani. Bukankah beras sebagai makanan pokok yang kita makan tiap saat berasal dari sawah yang petani garap (yang kebanyakan oleh orang tua kita)?
Sampai di sini, saya ingin mengingatkan, beras merupakan kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan. Bukankah orang lebih suka memakan nasi sekalipun tak berlauk, daripada makan lauk tak bernasi?

Mari Menjadi Petani
Baiklah, pertama, mari, saya ajak Anda (para pemuda) berpikir. Pernahkah kita menyadari bahwa nasi yang dimakan setiap hari berasal dari jerih payah petani? Kita harus jujur dalam menjawab persoalan ini. Profesi sebagai petani yang tak diindahkan oleh sejumlah kalangan, terutama pemuda, ternyata punya andil besar dalam kehidupan manusia.

Oleh karenanya, kali ini untuk yang kedua, mari saya ajak Anda semua, termasuk saya sendiri, untuk memandang profesi petani dari cara pandang yang benar dan bijak. Mungkin, jika kita berpikir sejenak, pekerjaan petani tidak enak. Tapi, tak bisakah kita berpikir panjang, bahwa hidup ini sangat ditentukan seberapa rajin petani membajak sawah dan menanaminya dengan bibit padi yang akan kita makan tiap hari? Lebih tepatnya, kalau tak karena petani, kita mau makan apa?

Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa petani adalah profesi teladan. Petani mengajarkan kita bagaimana menghargai proses. Mereka harus rela menunggu berbulan-bulan untuk dapat menikmati hasil dari apa yang digarapnya.

Mereka juga tidak cepat putus asa dan ulet dalam belajar. Ketika tahun ini, misalnya, pertaniannya tidak membuahkan hasil, tahun depan bukan berarti mereka akan berhenti menjadi petani. Tapi, mereka akan tetap menanam lagi. Tentu dengan belajar banyak pada kegagalan yang telah dialami.

Kalau sudah begitu, masihkah kita mengelak dari kenyataan bahwa petani adalah teladan? Kalau tidak, ketiga, mari saya ajak Anda untuk mengubah shifting paradigm yang cenderung berkembang di masyarakat, terutama di kalangan pemuda. Shifting paradigm itu harus segera kita ubah kembali agar ketakutan saya cepat hilang dari pikiran. Ketakutan saya begini, kalau pergerseran paradigma itu tidak segera diubah kembali, saya takut nanti tidak ada seorang pun yang mau menjadi petani. Lalu, kita mau makan apa lagi?

Kalau Anda tidak bisa mengubah shifting paradigm itu, mending langsung masuk pada inti. Yakni, keempat, mari saya ajak Anda menjadi petani!