Terbaru

Contributors

Mau Produktif Menulis? Tutup Akun Medsosmu


Rozi, tukang ngepost di fahrur.com

Pernahkah Anda mengalami situasi, ketika sedang serius berhadapan dengan laptop untuk menulis, tiba-tiba ada bunyi notifikasi di ponsel yang lalu menuntun Anda berselancar hingga lupa waktu dan gagal menghasilkan sebuah tulisan? Tenang, Anda tidak sendirian. Iqbal Ajidaryono pun (kolumnis Detik.com dan Mojok.co) pernah curhat soal itu.

Memang, berada di hadapan media sosial, terutama Facebook, kita seperti sedang berhadap-hadapan dengan Raisa (nama tokoh bisa diubah sesuai dengan kegemaran Anda. Tokoh ini hanya mengikuti kehendak umum). Sulit untuk beranjak, ingin selalu berdekatan, seperti ketiak dengan bulunya, susah dipisahkan. Meskipun kita kadang tidak pernah betul-betul tahu apa manfaat berlama-lama dengan itu.

Media sosial memang ajaib. Ketika kita membukanya, seperti ada magnet yang menjadi pusat tarikan-tarikan. Kita seperti lupa waktu, lupa orang-orang sekitar, lupa daratan, lupa kapan akan menikah (emang punya pasangan?), dan sebagainya. Intinya, ia menjadi sesuatu yang banyak mengubah pola hidup manusia.

Ponsel zaman sekarang memang didesain untuk mengirim keriuhan-keriuhan. Dulu, saat kita menggunakan ponsel net-nonet, kita hanya mendengar notifikasi SMS atau telepon. Jika kita bukan orang penting atau bukan buaya darat, ponsel akan sangat jarang berbunyi. Berbeda dengan saat ini, di mana ponsel umumnya cerewet, selalu mengirim plung-plang-plung-plang hampir setiap saat, kecuali ponsel para fakir kuota.

Masalahnya, ketika terdengar suara notifikasi, saraf-saraf penasaran di dalam diri kita akan segera mengembang. Kita akan merasa gatal kalau tidak mengeceknya. Ketika seperti itu, maka konsentrasi menjadi buyar. Ide yang akan kita tulis hilang begitu saja dan kita keasyikan di Facebook membaca perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya tentang mana yang lebih baik antara capres Kecebong dan capres Kuda.

Mungkin persoalan inilah yang membuat AS. Laksana dan penulis muda berbakat, Felix K. Nessi, memilih untuk menutup akun facebooknya. Dua-duanya adalah penulis yang dulu sama-sama aktif di media sosial dengan status-statusnya yang kerap saya nanti. Kesan lucu pada status-status mereka membuat saya merasa ada nuansa berbeda di media sosial, tidak hanya dihuni oleh informasi soal kebencian yang berjilid-jilid itu.

Apakah jika kita ingin menjadi penulis harus mengikuti cara mereka; menutup akun facebook? Tentu saja tidak harus. Ada banyak penulis yang aktif di media sosial dan mereka tetap produktif menulis. Yang penting adalah soal bagaimana mengelola waktu. Jika kita merasa terganggu dengan adanya media sosial, kita mungkin perlu menutupnya. Jika tidak, ya, tidak usah. Jangan ambil repot. Selow aja.