Terbaru

Contributors

Mendidik Anak Mencintai Hoaks



 Rozi, kadang ngepost di fahrur.com

Sebagai papah muda yang sedang dalam masa pertumbuhan... uban, saya dituntut untuk juga belajar tentang bagaimana mengasuh anak. Meskipun saya malas mengasuh anak, saya tetap harus mempelajarinya. Sebab itu adalah bagian dari proses tanggung jawab. Orang tua adalah pembentuk sikap hidup anak di masa depan.

Umumnya, orang tidak mau anaknya lahir menjadi serigala yang di segala tempat selalu membuat keributan. Mereka ingin anaknya memancarkan nilai-nilai kemanusiaan, meskipun si orang tua adalah serigala itu sendiri. Karenanya, orang tua selalu merasa penting untuk mengajari anak berperilaku baik.

Namun, tidak semua orang punya cara yang baik untuk mengajari anak tentang nilai-nilai kemanusiaan: kejujuran, toleransi, kemandirian, dan sebagainya. Perilaku dari para pendahulu kadang tetap dilestarikan meski itu bertentangan dengan proses pendidikan yang baik bagi anak.

Saya belajar parenting tidak secara langsung. Jarang membaca buku-buku. Saya hanya mempelajarinya dari kebiasaan tokoh-tokoh besar yang sedikit saya baca biografinya. Salah satu tokoh yang saya ingat sikapnya adalah Mohammad Hatta. Ya, si Bung kacamata tebal itu. Yang oleh Orde Baru hanya dipopulerkan sebagai Bapak Koperasi, padahal kemampuannya dalam menulis dan menelorkan ide-ide besar tentang kebangsaan juga tidak dapat dipungkiri.

Salah satu yang saya pelajari darinya adalah bahwa beliau tidak pernah memberi janji-janji kepada anaknya. Ini sangat berbeda dengan kebiasaan kita pada umumnya. Saat ingin memotivasi anak, kita kerap membuat janji-janji. Misalnya, “Jika kamu bisa menyebut lima nama-nama hewan, kamu akan Bapak kasih sepeda.” Atau, “Kalau kamu bisa membuat Hamish Daud poligami, Bapak kasih kamu uang logam 500 rupiah buatan tahun 1991.”

Janji-janji semacam itu memang paling mujarab untuk memotivasi anak. Tetapi, motivasi mereka bukan tentang bagaimana mengamalkan apa yang sudah dipelajari, tetapi tentang bagaimana mendapatkan benda-benda yang dijanjikan. Pada akhirnya anak menjadi materialistik. Apa-apa yang dikerjakannya harus bernilai materi. Iya, kalau papah-mamahnya tajir. Kalau seperti saya? Tekor pala berbie.

Belum lagi kalau misalnya janji-janji itu tidak kita tepati. Pada diri anak akan tertanam sikap bahwa janji yang tidak ditepati bukanlah hal besar. Jangan kaget kalau anak kita kelak menjadi politisi yang suka berjanji membangun jembatan meskipun di tempat yang dijanjikannya tak ada sungai.

Lalu, hal lain lagi adalah soal hoaks. Pada anak kita, tanpa sadar kita seringkali menyumpalnya dengan hoaks. Misalnya, saat kita melarang anak untuk pergi ke suatu tempat, kita sering menakut-nakutinya bahwa di tempat tersebut terdapat macan atau hantu atau jomblo. Padahal di sana tidak ada apa-apa. Niat kita memang hanya ingin menakut-nakuti, tetapi pada diri anak, jika dia berhasil datang ke tempat itu, kita akan dianggapnya berbohong. Hoaks akan menjadi hal biasa pada anak itu.

Atau contoh lain. Kita kadang menakut-nakuti anak dengan jamu. Ketika anak tidak ikut perkataan kita, kita suka mengancamnya akan mencekokkan jamu. Pada saat bersamaan, kita sebetulnya justru membuat mereka merasa takut terhadap jamu. Saat jamu memang benar-benar dibutuhkan oleh anak, ketika sakit, misalnya, kita akan kerepotan sendiri dan ngomel-ngomel karena anak tidak mau meminumnya. Padahal itu adalah efek dari perbuatan kita sendiri.

Nah, baiknya memang kita harus berkata jujur kepada anak. Tidak usah menakut-nakuti. Karena efeknya akan berimbas ke sikap hidup mereka di masa depan.

Tapi, memang susah mengurus anak. Kalau cuma ngebacot kayak saya ini, siapa yang nggak bisa?
__________
Gambar: Pixabay