Terbaru

Contributors

PMII sebagai Ladang Perjuangan dan Pengabdian


 Paisun, Mantan aktivis PMII

Membaca tulisan Rofiqi di Voila kemarin mengingatkan saya pada kenangan-kenangan semasa mahasiswa. Dulu, saya juga aktivis PMII. Kalaupun hari ini ada yang menyangsikan ke-PMII-an saya karena melihat hidup saya yang sudah mapan (perut MAju PANtat mundur), yang karenanya tidak bebas lagi dalam melakukan pergerakan, percayalah saya tetap PMII. PMII sudah kadung mengalir dalam darah juang saya, sehingga seandainya ada tes DNA keorganisasian, maka jelaslah DNA saya adalah PMII.

Harus diakui bahwa saya dulu tidaklah seidealis yang dibayangkan Rofiqi. Saya hanyalah kader biasa. Kepengurusan saya di PMII hanya sampai di Komisariat. Tidak pernah berlanjut ke Cabang seperti Syamsuni apalagi hingga ke PKC seperti Ach Taufiqil Aziz, penulis jomblo yang baru wisuda magister itu. Jika ukuran seorang aktivis adalah demonstrasi, maka saya adalah aktivis kelas kambing. Bayangkan, selama mahasiswa saya hanya demonstrasi sebanyak 3 kali. Beda dengan Ach. Qusyairi Nurullah yang gara-gara demonstrasi, pernah dipenjara sehari semalam di Surabaya.

Pilihan saya tidak rajin mengikuti demonstrasi bukanlah karena menganggap demonstrasi tidak lagi dibutuhkan di era demokrasi, seperti pandangan kelas menengah ngehek yang kemudian menilai kegiatan demonstrasi mahasiswa sebagai kegiatan yang mengganggu ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Saya juga bukan orang yang beranggapan bahwa demonstrasi adalah laku sia-sia sehingga menyarankan mahasiswa agar berpartisipasi dan berbuat nyata di masyarakat ketimbang melakukan demonstrasi yang sia-sia belaka. Bagi saya demonstrasi tetaplah dibutuhkan sebagai medium untuk menyampaikan aspirasi dan membela kepentingan rakyat. Karena seringkali pemerintah terlalu bebal dan membutuhkan tekanan massa untuk sekadar mendengarkan aspirasi masyarakat. Untuk diketahui, saat itu, saya tidak ikut demonstrasi lebih karena saya sendiri tidak memiliki kemampuan baik dalam berorasi sehingga saya mencari jalan lain untuk menyampaikan kritik dan aspirasi, yakni melalui karya tulis di media massa.

Menjadi aktivis adalah kebanggaan tersendiri. Saat lagu-lagu perjuangan dinyanyikan, semangat untuk membela rakyat kecil yang tertindas begitu menggebu dan menggelora. Seolah-olah hanya kami para aktivis yang bisa menyelamatkan nasib rakyat. Padahal, menyelamatkan diri dari tagihan SPP kampus maupun biaya hidup sehari-hari  saja, aktivis kadang tak mampu. Gayanya selangit sementara  modal seupil. Mungkin inilah alasan kenapa beberapa aktivis cenderung memperpanjang masa aktif jomblonya hingga hari ini.

Meski demikian hemat saya, Indonesia hari ini tetap membutuhkan aktivis mahasiswa yang idealis. Hari ini, negara konon sudah menganut demokrasi. Kebebasan berpendapat katanya dijamin undang-undang. Namun, kenyataan di lapangan tidak seindah yang dibayangkan. Hingga hari ini, ladang pengabdian bagi aktivis masih banyak. Meski menganut demokrasi, kesejahteraan masyarakat masih jauh panggang dari api. Penindasan terhadap rakyat dalam berbagai bentuknya masih terjadi. Cara-cara kekerasan dalam menangani persoalan masih kerap dipraktekkan, malah justru dilakukan oleh aparat yang bertugas mengayomi masyarakat. Kasus pemolisian aktivis di Gresik, Banyuwangi, dan Rembang adalah alarm matinya demokrasi yang diagung-agungkan pasca reformasi.

Kebebasan berpendapat yang katanya dijamin undang-undang belakangan juga diberangus atas nama undang-undang. Mereka seolah tidak bisa membedakan mana ujaran kebencian dan mana yang termasuk kritik yang disusun berdasarkan fakta dan argumentasi yang kokoh. Kasus Dandhy Dwi Laksono yang dipolisikan gara-gara menulis tentang Aung Suu Kyi dan Megawati adalah contoh terkini tentang hal ini.

Karenanya, untuk para aktivis PMII yang akan melaksanakan Konfercab besok, percayalah bahwa menjadi aktivis adalah amanah Tuhan yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Jadilah aktivis kebanggaan yang berjuang untuk kepentingan rakyat, bukan malah menggadaikan organisasi untuk kepentingan-kepentingan diri sendiri. PMII itu lahan perjuangan dan pengabdian, bukan ladang penghasilan.

Salam “Tangan Terkepal dan Maju Ke Muka”.
__________
Gambar: nu.or.id