Terbaru

Contributors

Presiden Jokowi adalah Orang Madura



Abdul Wajid Muntaqa, bakal calon bupati Sumenep 2035.

Setelah beberapa tahun berlalu, dampak buruk pemilihan presiden tahun 2014 silam masih banyak bersisa. Yang paling mengerikan adalah penyebaran fitnah dan berita bohong melalui media online abal-abal, terutama yang berkaitan dengan isu-isu SARA. Parahnya lagi, berita bohong tersebut terus saja dikembangbiakkan hingga sekarang. Sehingga diperlukan vaksin yang ampuh untuk membasminya. Lewat tulisan ini, saya akan menyebarkan satu tetes suntikan untuk menghambat pembiakan salah satu virusnya.

Jamak diketahui bahwa pada pemilihan presiden lalu, salah satu isu yang dimunculkan adalah bahwa Pak Jokowi adalah keturunan China. Maka dengan tulisan ini, saya tegaskan bahwa itu TIDAK BETUL, BETUL-BETUL TIDAK BETUL!

Berdasarkan kajian mendalam dengan menggunakan metodologi Cocokowissenschaft (ini bahasa Jerman ejaan lama, hati-hati melafalkannya, salah-salah bisa fasis), saya menyimpulkan bahwa Jokowi bukan keturunan China, tetapi blio adalah keturunan MADURA! Ya, blio adalah orang Madura! Hidup laskar sape kerap!

Ada beberapa hal yang membuktikan bahwa Presiden RI ke-7 itu adalah orang Madura, berikut laporan selengkapnya:

Pertama, dari namanya saja sudah kelihatan bahwa blio adalah orang Madura. Joko Widodo. Joko memang identik dengan Jawa, tapi orang jawa menulisnya Jaka, bukan Joko. Jowo ditulis Jawa, maka Joko juga ditulis Jaka. Tapi blio menulis Joko, sangat Madura sekali, seperti Joko Tole di Sumenep dan Joko Tarup di Talang Siring Pamekasan.

Kedua, di awal pemerintahannya, blio sangat fokus membangun infrastruktur, khususnya sarana transportasi. Hal ini sangat cocok dengan orang Madura. Orang Madura kalo milih Bupati ngarepnya yang bisa memperbaiki fasilitas umum, khususnya jalan raya. Makanya kalau menjelang pilkada, jalan raya di Madura gak kalah sama sirkuit sentul. Mulus…. Tapi cuma pada musim pilkada lho ya….

Ketiga, Pak Jokowi gemar melakukan doa bersama. Sudah beberapa kali blio menggelar doa bersama dengan para ulama. Hal ini sangat Madura sekali. Orang Madura gemar sekali melakukan doa bersama. Ada yang melahirkan, doa bersama. Ada yang sunatan, doa bersama. Ada yang lulus ngaji atau sekolah, doa bersama. Ada yang menikah, doa bersama. Ada yang meninggal, doa bersama. Jadi, jangan berani ngomong bid’ah sama orang Madura kalau gak mau dianggap kafir. Serem, Cong!

Keempat, blio gemar mengenakan sarung. Dalam beberapa kegiatan, terutama jika berhubungan dengan peringatan hari besar Islam atau kegiatan di pesantren, blio kerap tampil menggunakan sarung. Pas sekali dengan orang Madura. Orang Madura gemar sekali menggunakan sarung. Baik untuk beribadah ataupun melakukan aktivitas sehari-hari seperti ke ladang, ke pasar, bahkan ke kota pun mereka menggunakan sarung. Wuih, ke kota, emang Madura ada kotanya? Hush!
___________
Gambar: Bintang.com dan koleksi pribadi