Terbaru

Contributors

Pulang dari Mekkah, Bayangan Ji Tasbani Menanti Jamaah Haji



Fendi Chovi, blogger, pemerhati urusan perdukunan serta pegiat literasi di IAA Dungkek. FB: fendi.chovi

Pulang dari Mekkah dengan predikat sebagai haji merupakan tanggung jawab besar. Setidaknya, tidak semua orang dipanggil untuk meraih kesempatan yang sama menjalani ibadah salah satu rukun Islam itu.

Nah, pertanyaannya, apakah jamaah haji yang sebentar lagi akan kembali ke kampung halaman dengan wibawa dan nama baru yang diarab-arabkan, mulai memikirkan tanggung jawab dengan gelar haji itu?

Dengan kenyataan tidak semua orang bisa naik haji, maka tugas seorang yang bergelar haji tidak boleh disamakan dengan orang-orang pada umumnya. Itulah tanggung jawab manusia bergelar Haji perlu dijaga martabatnya.

Jika mereka adalah bagian dari masyarakat di desa, nama mereka sebagai sosok haji mulai difigurkan dan tentu dinyatakan sebagai sosok yang layak menyandang nama baik dari segi status sosial serta kewibawaan keluarga di masyarakat.

Bayangkan saja. Untuk bisa naik haji, berapa uang yang harus dikeluarkan? Anda bisa bertanya sendiri kepada para jamaah yang pernah naik haji. Kalkulasikan semuanya, mulai dari proses pemberangkatan, proses selamatan, hingga iringan konvoi dan penyambutan saat datang dari Mekkah. Tentu itu biaya lain yang tidak masuk biaya setoran saat mendaftarkan diri naik haji. Intinya. Cukup besar!

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelaskan lebih jauh tentang biaya dan prosedur naik haji. Saya hendak merespon sebuah kenyataan hidup dari peristiwa sepotong berita, yang dimuat salah satu portal berita online dengan judul, Massa Bantai Maling Bertitel Haji di Sumenep hingga Tewas.

Ngeri, bukan?

Jika begitu. Apakah naik haji hanya sekadar bergaya atau sarana untuk pamer kopiah putih kepada masyarakat?

Tentu saja, tidak begitu!

Untuk itu, ada baiknya, para jamaah haji menerjemahkan gelar haji yang diraih dari Mekkah dengan seabrek kegiatan prosesi ibadah di tanah suci yang dilaluinya dijadikan sebagai jalan dan lelaku agar menjadi pribadi yang lebih saleh dan saleha di masyarakat. Itulah yang seharusnya mulai dipikirkan matang-matang oleh jamaah haji, terutama di Madura.

Membaca sepotong esai berjudul Ji Tasbani, Plesetan Haji ala Orang Madura ditulis A. Dardiri Zubairi, saya menjadi berpikir kembali bahwa Ji Tasbani, yang merupakan akronim dari Attas Ajji, Baba Banni (atas Haji, bawahnya bukan) merupakan bentuk ekspresi penyebutan atas kegagalan manusia bergelar haji untuk menerima pengakuan baik dari masyarakat.

Dari mana saja masyarakat bisa memberikan penilaian terhadap sosok haji menjadi Ji Tasbani? Menurut hemat saya, setidaknya ada dua aspek :

Pertama, Haji yang Tidak Bisa Menjaga Perkataan

Di desa, sosok haji diperhatikan dari semua aspek kehidupannya, tak sekadar penampilannya yang mulai konsisten berpeci putih, tapi juga dari hubungannya bersama masyarakat. Ketika sosok haji dihadapkan dengan kehidupan masyarakat yang cenderung menyukai kegiatan ngobrol-ngobrol santai di rumah, di perkumpulan. Di sanalah, masyarakat bisa melihat kualitas pembicaraan sosok Haji. Saat warga terbiasa ngobrol ngalor ngidul, menggosip ini dan itu, membicarakan hal-hal yang begitu dekat dengan realitas kehidupan mereka. Jika sosok haji terpancing dan ikut membicarakan sesuatu, terlebih hal-hal buruk, maka label Ji Tasbani mulai siap dilabelkan perlahan-lahan dan sembunyi-sembunyi.

Kedua, Haji yang Suka Selingkuh

Berhaji menjadikan seseorang cenderung naik daun. Mereka akan cepat diketahui oleh masyarakat. Godaan untuk menikah lagi dan lebih-lebih berselingkuh terbuka lebar. Kesempatan itu semakin terbuka lebar dengan adanya banyak interaksi dengan sejumlah kelompok dan lapisan masyarakat, terutama dalam berbagai kegiatan sosial yang melibatkan sosok haji. Perempuan adalah godaan paling asyik yang gampang menjadi fitnah bermasyarakat, terutama bagi lelaki yang martabat sosialnya terasa dinaikkan. Nah, godaan ini ketika tidak diantisipasi dengan baik bisa menjadi jebakan untuk dilabeli Ji Tasbani.

Dua hal di atas hanya bagian kecil yang terlihat dalam kehidupan bermasyarakat, tentu saja pemberian label Ji Tasbani terbuka untuk segala aspek kehidupan lainnya, mulai soal ekonomi, budaya, politik yang ikut menentukan kualitas baik dan buruknya marwah sosok haji.

Untuk itu, jamaah haji saat tiba di kampung halamannya sudah seharusnya berpikir agar tidak menjadi sosok yang masuk daftar list Ji Tasbani tersebut.

Ketika haji hanya songkoknya saja yang berpeci putih, tapi perilaku bersosial tidak menunjukkan kualitas pribadi yang pernah naik haji, maka itulah label Ji Tasbani melekat pada dirinya.

Ketika sosok haji mulai berperilaku buruk, menyimpang, menciderai hubungan yang baik dalam hablum minallah serta hablumminannas, maka sebutan yang kurang elok itu akan tersampir kepadanya.

Mengutip tulisan Dardiri, Ji Tasbani bisa saja terperangkap dalam haji simbolik. Ia tak mampu menghajikan batin, pikiran, perasaan, kesadaran, sekaligus anggota badannya.

Setidaknya, ada dua jenis Ji Tasbani di masyarakat. Yang pertama Ji Tasbani karena tidak mengamalkan lelaku terpuji sebagai sosok haji. Yang kedua Ji Tasbani karena terlalu setia menggunakan aksesoris sosok haji dalam busana dan pakaiannya, utama peci putih yang dikenakannya, padahal belum naik haji.

Di tengah tantangan hidup yang semakin kompleks dan seringkali menjebak seseorang berperilaku jahat, sudah seharusnya jamaah haji yang pulang ke tanah air mulai berpikir. Jangan sampai kalian adalah bagian dari nama-nama Ji Tasbani berikutnya yang nantinya menodai nama haji yang seharusnya dijaga dengan baik.
Itulah bayangan Ji Tasbani, yang menunggu para jamaah di samping sapaan meriah dan puja-puji. Semoga mendapat haji mabrur.
_______
Gambar: Pixabay