Terbaru

Contributors

Refleksi Tahun Baru Hijriyah untuk Para Jomblo




Rosidi Bahrijomblo yang sedang melanjutkan S2 di UINSA Surabaya

Selamat Tahun baru, Jomblo!

Tulisan ini tidak dalam rangka membalas beberapa tulisan sebelumnya yang dimuat Voila tentang jomblo dalam berbagai perspektif, dan singgunggan (kode keras) kepada para jomblowan dan wati. Ini hanya semacam seruan moral dan ajakan untuk memperkuat iman selama menjalani hari-hari indah menjadi seorang jomblo. Bila benar maka amalkanlah, dan jika salah Anda wajib memperbaikinya.

Ok, sahabat! Sejak dikumandangkannya adzan maghrib kemarin, maka masuklah kita pada pergantian tahun kalender hijriah. Dengan begitu, maka bertambah pulalah usia kita, dan bertambah pula masa lajang kita. Semoga dalam doa akhir dan awal tahun yang kita baca tadi malam, tersemat doa agar Allah mempermudah proses bagi kita untuk mengakhiri rihlah jomblowowiyyah. Allahumma Amin!

Setahu saya, kalender hijriah ini di-launching dan menjadi kalender resmi Islam saat pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab, yang penghitungannya dinisbatkan pada peristiwa agung nan fenomenal, yaitu peristiwa perjalanan panjang dan mendebarkan serta menguji mental rasul dan beberapa sahabatnya dari kota Mekkah menuju kota Yastrib (Madinah al-Munawwarah).

Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik kesuksesan dakwah islam, sebab dalam kurun waktu yang cukup lama, Rasulullah mendaptkan rintangan yang luar biasa dari penduduk kota Mekkah, wa bil khusus suku Quraisy. Nah, baru setelah beliau pindah (hijrah) ke kota Madinah, dari situlah kemudian Islam secara bertahap dan cepat menemukan tempat yang tepat dan menyebar ke seluruh jazirah Arab, bahkan menembus Persia dan Romawi. Serta dari Madinah pulalah akhirnya kota Mekkah dapat ditaklukkan. Yang kemudian kita kenal dengan peristiwa fathu makkah (penaklukan kota Mekkah). Lebih lengkapnya silahkan antum baca lagi kitab khulasah nurul yaqin-nya.

Dalam momentum pergantian tahun hijriah ini, saya mengajak kawan semua, untuk sedikit menggali hikmah yang mungkin bisa direfleksikan bersama. Setidaknya, ada tiga hikmah yang bisa kita petik (emang buah), hehehe...

Pertama, kata hijrah secara bahasa berarti pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kemudian ini menjadi istilah dari peritistiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw seperti yang saya sebutkan tadi di atas. Namun kata hijrah bisa kita tarik pada makna yang lebih luas. Yaitu hijrah bathiniyyah dan haliyyah. Perpindahan (perubahan) sifat, sikap dan prilaku menuju yang lebih baik kalau tidak mau disebut sempurna.

Dalam artian, momentum pergantian tahun ini bisa menjadi titik balik perubahan diri kita secara total. Serta upaya yang semaksimal mungkin untuk menghilangkan hal-hal negatif yang kita lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Kedua, awal tahun baru hijriyah ini bertepatan dengan bulan yang mulia, yakni bulan Muharram, salah satu bulan yang diagungkan oleh Allah dan umat Islam. Di mana dalam bulan ini umat dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah. Seperti puasa, yang tidak hanya sebagai Ibadah tapi bagi jomblo juga bisa dijadikan kesempatan ber-riyadah, guna mengurangi tuntutan untuk bermaksiat.

Bulan Muharram termasuk bulan yang diharamkan oleh Allah untuk melakukan peperangan di dalamnya. Larangan ini tidak hanya sebatas “menumpahkan darah”. Lebih dari pada itu, kita bisa memaknainya sebagai larangan untuk tidak saling menyakiti, baik fisik, jiwa lebih-lebih perasaan. Serta menjaga lingkungan tetap aman, stabil, tentram, dan bahagia.

Ketiga, awal tahun baru ini selain untuk refleksi, introspeksi baik juga kita jadikan kesempatan untuk melakukan perubahan perubahan nyata terhadap diri kita, syukur-syukur kita bisa memberikan perubahan yang nyata pula untuk keluarga dan lingkungan kita. Dengan mempertahankan hal baik-baik yang selama ini kita biasa kita lakukan, dan berupaya untuk semakin baik. Tak kalah penting dari itu semua, semoga  pada tahun 1439 Hijriah ini, kita yang jomblo bisa segera berhijrah menuju rumah mertua...