Terbaru

Contributors

Selamat Datang Jamaah Haji


Rosidi Bahri mahasiswa pascasarjana UINSA Surabaya.

Beberapa hari yang lalu kita sudah membaca kabar Pak Jokowi mau silaturrahim ke Sumenep Madura. Entah apa tujuan pastinya, saya tidak mau berspekulasi apalagi sok jadi pengamat. Tapi husnuddzan saja, Pak Presiden tentu ingin mengetahui kedaan rill masyarakat Madura serta mempererat hubangan pemerintah dengan pesantren. Sampai-sampai kemarin penulis di Voila memberikan rute-rute buat Pak Jokowi, dengan harapan ada sulap abrakadabra ala pemerintah daerah untuk memperhalus jalan sepanjang Madura, baik jalur selatan atau pantai utara. Malah harapannya, bisa sehalus kulit Raisa.

Sambil menunggu kedatangan Pak Jokowi, saya ingin berbagi hal ihwal kedatangan rombongan jamaah haji yang satu per satu mulai berdatangan sesuai kloternya masing-masing.

Kedatangan jamaah haji sudah pasti disambut gegap gempita oleh keluarga dan sanak famili. Bahkan penyambutannya melebihi iring-iringan rombongan Pak Presiden. Berjubel dan memenuhi sepanjang jalan raya. Yah, mirip acara karnavalan Haflatul Imtihan. Hal ini tidak mengherankan, karena sedari pemberangkatan, tidak henti-hentinya keluarga yang di rumah dihinggapi rasa cemas dan kekhawatiran akan keselamatan  bapak/ibu haji selama perjalanan. Biasanya, sepanjang mereka bermanasik, keluarga yang di rumah mengadakan acara selametan, dengan mengundang tetangga untuk ikut mengaji dan mendoakan keselamatan dan kelacaran jemaah selama bermanasik.

Kini, setelah jamaah tiba di rumah, mereka harus kembali berbaur dengan masyarakat sekitar dengan status bapak dan ibu haji, dan biasanya selain berkopyah putih lengkap juga dengan lilitan sorban, nama mereka pun tidak jarang juga berubah. Dari Pak Mat Rawi menjadi H. Ahmad Bukhori. Namun, tentu tidak hanya perubahan status itu yang diharapkan dari perjalanan mereka ke tanah suci. Lebih dari itu, gelar haji yang mereka sandang seyogyanya juga berimbas postif pada tata lakon hidup mereka sehari-hari, baik yang berhubungan dengan kewajibannya sebagai ibadillah dan tugasnya sebagai khalifatullah fil ardhi.

Berikut sedikit i'tibar dan harapan yang mungkin bisa dibaca oleh bapak/ibu haji setibanya mereka dari tanah suci. Jikapun meraka tidak sempat membaca sendiri, barangkali anak, famili, dan tetangga terdekat bisa membacakannya. Kalau perlu saya bisa diundang untuk berceramah. Hehe.

Pertama, berhaji bukan sekedar perjalanan biasa, apalagi hanya sekedar jalan-jalan dan berwisata. Perintah haji bagian dari rukun Islam yang perintahnya bersumber dari Alquran dan hadits langsung.

Kedua, selama bermanasik, ada banyak syarat, rukun dan larangan-larangan yang wajib dipatuhi oleh jamaah. Bahkan, diantara aturannya, jamaah haji tidak boleh membunuh binatang dan mencabuti tetumbuhan di tanah suci. Artinya, selama bermanasik jamaah wajib mentaati semua peraturan yang telah ditetapakan, agar hajinya sah dan diterima oleh Allah (maqbul dan Mabrur).

Ketiga, sepulang dari tanah suci, jamaah haji harus menjaga tutur kata dan segala tindakannya. Ia harus benar-benar bermetaformosis, menjadi insan tauladan; sosok pribadi yang layak ditiru oleh masyarakat. Maka perilaku-perilku jelek yang biasa mereka kerjakan sebelum berhaji, wajib mereka tinggalkan. Lebih-lebih perilaku yang tidak elok di mata umum, lalu menggantinya dengan prilaku yang baik, apik, dan elok. Karena tak jarang, gelar haji yang mereka sandang hanya cukup mengubah kopyah yang mereka pakai, selebihnya mereka masih suka menggunjing, ngerasani orang, dan sifat-sifat rakus tetap mengakar, sehingga tidak sedikit yang sudah Pak Haji tapi hobi mempraktikkan yang ribawi. Naudzubillah....

Terakhir, ahlan wa sahalan bi qudumikum, semoga kita yang belum berhaji kecipratan oleh-oleh kurma dan air zam zam, serta tahun depan kita juga bisa beribadah di dekat baitullah dan berzirah di maqbarah Rasulullah Saw. Amin.