Terbaru

Contributors

Sihir Sebuah Tulisan



Oleh: Muna Masyari, sastrawan Madura. Salah satu cerpennya termuat dalam antologi cerpen terbaik Kompas 2016.

Untuk mengusir sumpek perjalanan, apalagi saat terjebak macet di tengah-tengah keramaian, salah satu kegemaran saya adalah membaca tulisan di bodi mobil. Entah di pantat bak truk, bis, di kaca belakang kendaraan umum, bahkan yang berada di punggung kaos pengendara roda dua dan tukang becak. Ragam tulisan itu ada yang kocak. Ada yang mengandung satire. Ada yang berisi imbauan. Di antara tulisan yang masih saya ingat, “Bekerja tak harus ngantor, bisa juga pakai kolor!”, di pantat bak sebuah truk.

Membaca kalimat itu, imajinasi saya langsung bangkit, membayangkan si sopir di belakang setir, duduk dengan handuk kecil melilit leher dan kolor separuh betis dan peluh meleleh di pelipis. Membayangkan seorang montir dengan kolornya yang belepotan oli dan kadang harus menyusup ke bawah bodi mobil dengan posisi telentang hingga wajahnya pun penuh noda hitam. Membayangkan seorang pencuci kendaraan yang kolornya basah kecipratan air dan busa. Membayangkan petani, pelaut, pengangkut pasir, penyunggi kerikil yang sedang melakukan proses pengaspalan jalan, dan ragam pekerjaan lain yang tidak mengharuskan memakai celana dan kemeja berdasi. Menjelang petang, mereka pulang dengan upah uang lecek, tak sesegar lembaran merah-biru yang dikeluarkan dari mulut ATM oleh seorang bercelana necis dan berambut klimis.

Memang, bekerja tak harus ngantor, bisa juga pakai kolor! Kalimat itu melekat di kepala saya, termasuk bentuk tulisan dan warna bak truknya; kuning pucat. Barangkali tidak demikian jika kalimat tersebut sekadar saya dengar selenting di keramaian jalan.

Begitu kuatnya pengaruh tulisan. Hal itu mengingatkan saya pada seorang guru yang memberi metode praktis menghapal pada muridnya yang memiliki kadar ingatan rendah. Ketika muridnya susah menghapal, sang guru meminta si murid agar menulis semua hapalan sebanyak sekian kali, sesuai dengan seberapa ia lupa hapalannya.

Tulisan mampu mengembangkan imajinasi. Menggerakkan pikiran. Menguatkan ingatan. Menyalurkan inspirasi. Memerdekakan penafsiran. Membuktikan keberadaan. Merekam jejak peristiwa. Mengabadikan sejarah. Karena menulis, Chairil Anwar tidak pernah tertelan zaman. Karena menulis, Leo Tolstoy, Haruki Murakami, Stephen King, dikenal di seluruh dunia.

Mengamini ungkapan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Coba bandingkan dengan media visual. Tidak perlu jauh-jauh. Rasakan, seberapa kuat imajinasi kita terseret saat membaca sebuah novel dan seberapa terkungkungnya imajinasi kita ketika menonton bentuk visualisasinya.

Begitulah ajaibnya sihir tulisan. Kalau kau ingin terus mengingat sesuatu, maka tulislah! Kalau kau ingin terus hidup, menulislah! Kalau kau ingin mengubah dunia, ubahlah dengan tulisan! Apalagi, menulis tak harus ‘ngantor, boleh juga sekadar pakai kolor’, hahaha.

_______
Gambar: gambarankata.com