Terbaru

Contributors

Undangan Mantenan Itu Harusnya Gak Dibebani Isi Amplop



Misnatun, Dosen STITA, mantan Ketua LPM Putri INSTIKA.


Beberapa hari ini saya senang sekali menyimak unggahan foto-foto mantenan di sosmed. Bersyukur teman-teman pada lepas dari status jones menjadi pasangan halal bahagia. Tapi di balik senyum bahagia manten baru kok ada yang pada ngenes ya? Bukan, bukan mantan. Itu mah gak usah dibikin baper. Biarkan waktu yang akan menghapus jejakmu di hatinya. Atau biarkan dia pura-pura bahagia sambil foto di bawah papan wisata bertulis "Lupakan Mantan Bahagia Di sini". Azeekk. Yang saya maksud itu adalah tetangga, teman, partner kerja, Pak De, Buk De, tante, dan siapapun yang kamu kirimi undangan saat dia mengidap kanker alias kantong kering.

Di Bulan Dzulhijjah yang katanya bulan baik ini, rombongan undangan datang mendahului rombongan haji. Di antara undangan nikahan yang saya terima, ada undangan yang bikin saya senang melihatnya. Bukan karena desain atau foto pre-weddingnya yang keren, tapi sisipan tulisan di dalamnya yang berisi  "mohon maaf tidak menerima acara". Lha, bikin acara tapi kok tidak menerima acara? Hihihi, logika bahasanya gak usah dibahas ya. Itu hanya penghalusan dari "tidak menerima sumbangan", kata "sumbangan" tidak dipakai karena mungkin takut dikira sumbangan masjid. Heheh

Merayakan atau mensyukuri pernikahan itu harusnya berangkat dari hati yang bahagia dan memberikan efek bahagia pula pada sanak kerabat, tetangga, dan teman. Namanya juga perayaan dan tasyakuran, harusnya bikin orang lain juga senang dan bersyukur. Bukan malah bikin ngenes karena beban sumbangan. Gak nyumbang takut diobrolin. Masa begitu? Ya iya. Karena kalau dalam undangan tidak ada keterangan bahwa si punya hajat tidak menerima sumbangan, 99,9%  mereka emang ngarep.

Kalau cari pinjaman sana sini gak dapet, bisa jadi mental yang serapuh kerupuk, lari ke rentenir dengan bunga pinjaman rata-rata 10 persen. Hanya butuh sepuluh bulan si "bunga" menyamai derajatnya dengan si pinjaman pokok. Hem, bisa bikin kanker sungguhan nih. Pinjam ke pegadaian atau ke bank? Emang tuh bank milik kakek yang bisa saya pinjam uangnya kapan saja tanpa jaminan. Ngayal kali.

Orang Madura memang tidak keliru tidak menamai hajatan nikah dengan selebrasi/perayaan, tasyakuran, atau walimatul ursy, tapi dengan nama-nama beken; yang pertama, "karja" yang saya tafsirin "karep raja" (keinginan besar), tapi modal kecil. Yang kena imbasnya tetangga. Memang kamu merasa hidup di tengah-tengah tetangga jutawan atau milyarder, seperti para bos rokok itu. Salah kali. Kamu itu hidup di antara petani tembakau yang beda 'jarak' nasibnya dengan para bos rokok tidak  sependek tongsis yang kamu pakai untuk selfie. Bahasa klisenya itu bagai langit dan bumi.  Kamu juga tidak hidup di antara para pejabat yang suka mainin harga garam dengan strategi impor pas garam pribumi hendak panen. Kamu itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang umumnya masih belum berdaya untuk merdeka dari krisis pangan. Buat makan saja susah, apalagi buat sumbangan nikah.

Jadi buat yang belum menikah, calon orang tua, dan orangtua yang anaknya sudah pada gede, jika punya niatan untuk menerima sumbangan dari tamu terundang, sebaiknya ditimbang-timbang kembali manfaat dan mudharatnya. Tidak perlu berkeinginan ngadain pesta pernikahan semegah pesta anaknya pak S*¥ dan om A*B, kecuali nasibmu seberuntung Raffi dan Nagita yang banyak perusahaan mau mensponsorinya. Bisa nyembelih seekor sapi ya syukur. Tapi kalau mampunya hanya nyembelih seekor ayam, juga tidak apa-apa. Kalau seekor ayam pun tidak mampu kamu ekskusi, telur ayampun rela dilibas. Yang jadi 'tumbal' saja ikhlas tanpa protes, masa iya yang nyantapin si telur malah mau demo berjilid-jilid kaya pasukan 212 itu. Sederhana saja. Semampunya. Yang penting gak nyusahin tetangga. Lebih-lebih nyusahin diri di kemudian hari karena harus balikin modal yang dipakai pesta semalam itu.

Sebutan masyhur lainnya dari hajatan nikah di Madura adalah "Tengka" (tingkah) alias "gak punya apa-apa tapi banyak tingkah". Tak perlu saya sebut satu persatu contoh dari  orang-orang yang bertingkah melebihi kemampuannya. Bergaya hidup lebih dari kemampuan finansialnya. Kalian yang akrab dengan televisi atau sosmed, baru-baru ini pasti dijejali berita tentang sepasang suami istri bos fi**t tr**el yang saat ini mengenakan seragam warna orange di balik jeruji besi. Itu bukan karena mereka tidak mampu hidup layak. Mereka adalah orang potensial secara finansial, tapi sayangnya tidak bisa mengendalikan gaya hidupnya. Jadi, sebanyak apapun uang yang dimilikinya, akhirnya kolaps karena over "tengka".

Istilah yang terakhir yaitu "gabai" (buat, membuat atau membikin) alias bikin ramai, bikin kepala pening, dan bikin hutang. Whats, hutang? Iya hutang. Di tempat saya tinggal tuh, orang nyumbang ke tuan rumah hajatan itu bukan sedekah, tapi ngutangin. Nanti akan diminta kembali saat dia menyelenggarakan hajatan yang sama. Tapi apakah umur si punya hajat akan setia sampai hutang-hutang "tengka" itu lunas? Saat tante Yuni lagi kasmaran sama bang Raffi Ahmad penginnya sih hidup lima puluh tahun lagi. Bahkan Khairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi. Tapi itu hanya keinginan saja yang tak selalu dimakbul oleh kenyataan. Sekian.
__________
Gambar: Pixabay