Terbaru

Contributors

Virus Ganas Sertifikasi Guru


M. Sukran Hamidy, pemerhati sosial tinggal di Sumenep.

Angin segar bagi para praktisi pendidikan semenjak pemerintah mengalokasikan 20% APBN untuk urusan tetek-bengek pendidikan. Tak ada yang salah dari proporsi alokasi 20% tersebut karena pendidikan merupakan salah satu pilar keberlangsungan kehidupan.

Apa pun kurikulumnya, tujuan utama pendidikan tak lain sebagai usaha menguatkan karakter kemanusiaan. Penguatan dimaksud tak hanya ditujukan pada si murid, namun terlebih juga sang guru yang notabene juga manusia. 

Semua itu mendapat respon positif yang beraneka ragam. Adanya sertifikasi guru (sergu), misalnya, memunculkan semangat bersarjana sekalipun agak telat. Bermunculan mahasiswa-mahasiswa 'expired' dari sisi umur. Over stok sarjana di desa-desa sampai pelosok sekalipun.

Semua kita mengakui bahwa mereka berhasil menyabet gelar sarjana walau belum tercerahkan. Pikirannya masih picik dan licik. Ijazah harus dibarter dengan jabatan dan uang.

Hal lain yang tak kalah penting untuk kita baca, tunjangan sertifikasi pendidik mampu 'merusak' mindset dan tatanan rapi struktur pengabdian. Pada aspek ini seakan para sarjana dan stake holder lembaga pendidikan mengalami shock akut.

Bermunculan  tindakan dan kebijakan yang sulit diterka nalar sehat. Mulai dari fenomena jadwal pelajaran 'bermuka dua' sampai pada bagi-bagi posisi demi mengamankan JTM minimal penerima tunjangan sergu, 24 jam. Mereka terpaksa lakukan semua itu demi takut kehilangan rezeki empuk 1,5 juta setiap bulan.

Terjadi pe-rolling-an dan pengkondisian sedemikian rupa dengan tanpa mempertimbangkan sisi kompetensi, integritas, dan leadership. Pokoknya dalam posisi aman, apa pun yang memungkinkan akan dilakukan. Tak jauh beda dengan  drama bagi-bagi kursi menteri dan posisi strategis lainnya oleh capres pemenang kontestasi kepada partai-partai pendukungnya dan para relawan. Siapa yang tak loyal akan tersisih walau sejatinya sudah terbukti mendedikasikan dirinya di dunia pendidikan, bukan sekadar mengejar NUPTK dan sergu.

Inilah sederet ironi pendidikan kita. Pragmatisme sudah meracuni dunia pendidikan kita. Penulis bukan dalam posisi menyalahkan pemerintah yang mulai perhatian terhadap dunia pendidikan dengan mengalokasikan seperlima APBN.

Pesan tersirat dari semua ini adalah faktor SDM-nya. Manusia sudah mulai kehilangan sifat kemanusiaannya. Krisis ini juga menyerang manusia terdidik. Manusia  terdidik  mulai ikut-ikutan menghamba pada duit. Tak terasa sikapnya berhasil menggadaikan idealitas, rasionalitas bahkan tak luput pula menyentuh ranah spritualitas. Konklusinya, virus sertifikasi berhasil merobek niat suci pengabdian dan pengamalan pengetahuan. Jika demikian proses penguatan karakter kemanusiaan kepada murid, tidak bakal berhasil jika yang mengarahkan adalah mahluk 'setengah' manusia.
________________
Gambar: bewarajabar.com