Terbaru

Contributors

Wisata Anti-Mainstream di Sumenep


Paisun traveller anti-mainstream

Terhitung sejak 27 September 2017, Bandar Udara Trunojoyo, Kabupaten Sumenep, Madura  resmi membuka penerbangan komersil. Wings Air dari Lion Grup adalah maskapai penerbangan pertama yang melayani  Sumenep-Surabaya dan sebaliknya setiap hari.

Pembukaan penerbangan komersil dengan pesawat ATR-72 tersebut membuka konektivitas Sumenep dengan dunia luar. Sumenep tidak lagi terisolasi sebagai kabupaten paling ujung di Pulau Madura. Ini juga sejalan dengan visi pemerintah Sumenep yang mencanangkan Sumenep sebagai kota kunjungan wisata dengan target minimal 10.000 wisatawan pada tahun 2018.

Penerbangan komersil tersebut juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat Sumenep, setidaknya itulah yang tergambar dari sambutan masyarakat di dunia maya. Di facebook, foto-foto penerbangan perdana bertebaran,  berikut dengan informasi harga tiket dan rute penerbangan yang diambil dari situs Traveloka. Warga Madura di perantauan menyambut baik penerbangan komersil ini karena dapat memudahkan mobilitas mereka dalam bepergian ke luar daerah dan ke luar negeri. Pemerintah Kabupaten Sumenep juga mengapresiasi dengan mewajibkan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep agar menggunakan pesawat saat ada kunjungan ke Surabaya. Menurut beliau hal ini juga akan menghemat waktu dan biaya ketimbang membawa mobil sendiri.

Terlepas dari itu, penerbangan komersil ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata ke Sumenep. Pemerintah Kabupaten Sumenep juga telah mempromosikan potensi wisata Kabupaten Sumenep, baik yang ada di darat maupun kepulauan. Untuk menyebut contoh seperti Pantai Lombang, Slopeng, Gili Genting, Gili Labak, Pantai Sembilan, Asta Yusuf, Asta Tinggi, Keraton, dan seterusnya. Namun, selain wisata mainstream tersebut, ada beberapa tempat wisata Anti-Mainstream yang juga tak kalah menariknya untuk dikunjungi, khususnya oleh para murid dan pemerhati lingkungan.

Wisata Tambak
Wisata Tambak ini tersebar di pesisir pantai utara, mulai dari Desa Ambunten, Desa Dasuk, Desa Mandala Gapura, Desa Lombang Batang-Barang, dan juga Desa Lapa Daya Dugkek. Sebagai wisata anti-mainstream, jangan bayangkan bahwa di sana Anda akan menikmati suguhan pemandangan yang indah dari pinggir tambak, di mana Anda bisa bersantai ria sembari menikmati aneka hidangan berbahan pokok udang, misalnya. Sama sekali hal itu tidak akan ada di sana. Akan tetapi di sana Anda akan mendapatkan pemandangan miris berupa tambak yang dibangun dekat dengan bibir pantai dan juga dekat dengan pantai wisata Slopeng dan Lombang. Selain itu Anda juga akan menemukan tentang limbah tambak yang masih tidak dikelola dengan baik, padahal konon katanya tambak tersebut sudah memperoleh izin dan lulus AMDAL. Selain itu, di daerah Lombang, tambak juga dapat mengganggu ekosistem cemara udang yang sudah puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Wisata Bukit
Wisata Bukit yang dimaksud di sini, tentu saja bukan wisata Bukit Tinggi, Bukit Kalompek, Bukit Batu Kapur  dan sejenisnya yang belakangan menjamur di Sumenep. Sama sekali bukan itu. Wisata bukit yang dimaksud di sini adalah bukit-bukit di daerah Sumenep yang hampir habis gegara penambangan tak terkira. Wisata bukit yang seperti ini juga tak menjanjikan keindahan, namun kemirisan, karena sudah sangat mengkhawatirkan. Bukit yang awalnya asri terus dikeruk batu dan tanahnya hingga tak bersisa. Lokasi wisata seperti ini juga banyak di Sumenep, seperti yang ada di daerah Lenteng, Batuan, Mandig, dan juga Saronggi yang kemarin menelan korban jiwa itu. Tentu saja, yang akan menjadi korban ke depan adalah masyarakat sekitar bukit, seperti kemungkinan terjadinya longsor atau kekurangan air bersih.

Wisata Bangunan Bersejarah
Sumenep kaya akan bangunan bersejarah, itu betul. Ada bangunan Masjid Jamik yang ikonik, Museum dan Keraton Sumenep, serta bangunan sisa Belanda di daerah Kalianget. Namun ada yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Di antaranya adalah klaster pengolahan rumput laut di Batuan Sumenep. Bangunan tersebut sudah mangkrak hampir 10 tahun dan tidak difungsikan sama sekali. Padahal, Sumenep adalah salah satu penghasil rumput laut terbesar di Jawa Timur dan tidak memiliki pabrik pengolahan rumput laut. Sayangnya pembangunan klaster pengolahan rumput laut justru dibangun di daerah yang tidak menghasilkan rumput laut sama sekali. Padahal kalau mau jujur yang membutuhkan klaster pengolahan tersebut adalah daerah penghasil rumput laut seperti di Kecamatan Saronggi, Bluto, Pragaan dan lainnya.

Yang juga menarik dikunjungi ke depan adalah Gedung Islamic Center, yang setelah beberapa bulan diresmikan, ternyata juga belum difungsikan sama sekali. Padahal, pembangunannya menghabiskan dana 15 miliar.

Mari sukseskan Visit Sumenep Year 2018 dengan mengunjungi lokasi wisata Anti-mainstream.
___________
Gambar: rri.co.id