Terbaru

Contributors

Alangkah Lucunya Diri Ini


Paisun, dosen di kampus Instika, Guluk-Guluk, Sumenep

Suatu pagi saya merasa disentil oleh salah satu cerita sufi dalam buku, Tiada Sufi Tanpa Humor karya Imam Jalal Rahman. Diceritakan di halaman 20 ada seorang Mullah yang mengeluh setiap hari pada jam makan siang bahwa dia sudah bosan dengan roti lapis keju. Rekan-rekan kerjanya mendengarkan keluhannya selama beberapa hari dan akhirnya menawarkan saran kepadanya. “Mullah, beri tahu istrimu untuk membuatkan bekal yang berbeda untukmu. Bujuk saja.” “Tapi aku belum menikah,” sahut Mullah. “Lho, kalau begitu,” tanya mereka, “siapa yang membuatkan makan siangmu?” “Aku yang membuatnya!” jawab Mullah.

Sekilas, kita mungkin akan melihat sang Mullah sebagai orang bodoh, mengeluhkan masalah yang sebenarnya bisa diatasinya dengan mudah. Namun, jika direnungi secara mendalam, maka pada dasarnya kita terjebak dalam pola yang sama dengan apa yang dialami oleh sang Mullah. Mungkin hanya kasusnya saja tidak segamblang dengan apa yang dilakukan oleh Mullah tersebut.

Terkait kesehatan, misalnya. Dalam buku ini, sang penulis juga mencontohkan pasien yang lebih mudah meratapi kesehatannya yang memburuk dan menyalahkan penyakit yang diderita pada gen dan takdir. Pada saat yang sama, ia meremehkan dan kerap mengabaikan keharusan mengubah gaya hidup dan pola makan, padahal keduanya dapat mengubah situasi penyakit sang pasien secara drastis. Ia mau sembuh dan sehat tetapi ia tidak mau melakukan hal-hal yang membuatnya sembuh serta meninggalkan hal-hal yang dapat memperburuk kesehatannya.

Pola demikian kerap kita lakukan dalam keseharian. Seperti sang Mullah, kita hanya rajin meratap, mengeluh, dan menyalahkan orang lain. Pada saat yang sama, kita enggan untuk melakukan perubahan yang pada dasarnya bisa kita usahakan. Dengan meratap dan mengeluh, mungkin akan membuat kita puas, karena nafsu kita telah sedikit memuaskan nafsu kita. Namun yang perlu dipahami, ratapan dan keluhan tersebut tidak akan pernah mengubah apapun. Perubahan tak cukup hanya bermodalkan keinginan, tetapi juga harus diusahakan. Keinginan yang tak diusahakan serupa dengan angan-angan.

Ada orang miskin ingin secepatnya lepas dari predikat kemiskinannya. Namun, ia hanya sibuk mencela karib, kerabat, dan tetangganya yang dianggapnya lebih mujur darinya. Ia juga sering menyalahkan takdir dan kedua orang tuanya yang telah mewariskan kemiskinan sepanjang hidupnya. Orang demikian, selamanya akan tetap miskin, sampai ia lepas dari jebakan pola hidup yang telah dijalaninya selama ini.

Kita senyatanya juga terjebak dalam pola kehidupan yang seperti itu. Ingin rasanya diri ini lebih baik, mencapai kesuksesan dalam studi dan kekayaan. Tetapi, tak ada sedikitpun usaha dari diri ini yang mengarah kepada kesuksesan yang diinginkan. Diri ini hanya terjebak dalam keinginan tanpa dasar, keinginan yang sebatas sebagai angan-angan.

Karenanya, seperti sang Mullah, kita layak untuk ditertawakan dan pantas disebut orang yang bodoh sebodohnya. Karena pada dasarnya, kita bisa mencapai apa yang diinginkan, asalkan ada kemauan untuk melakukan perubahan dari diri sendiri. Namun jika tetap terjebak dalam pola yang sama seperti yang selama ini dijalani, maka jangan harap kesuksesan itu akan datang menyertai kita.

Untuk itu, layaklah kita untuk terus mengoreksi diri, demi tercapainya keinginan dan impian agar tak selamanya sekadar menjadi sebuah impian. []