Terbaru

Contributors

Antara Produktivitas dan Rutinitas Ibu Rumah Tangga


Husnul Khatimah Arief, ibu rumah tangga.

Menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga memang tidak mudah. Mengurus rumah, suami, dan anak setiap hari tak jarang mengundang rasa lelah dan bosan. Belum lagi jika ada pekerjaan di luar rumah yang juga menuntut untuk diselesaikan. Rasa-rasanya, waktu 24 jam seolah berjalan sebentar saja.

Memang tidak jarang ibu rumah tangga yang mengeluh saat dihadapkan dengan tugas-tugas domestiknya, walaupun mereka tahu hal itu sudah menjadi kewajibannya. Menyelesaikan pekerjaan domestik tentu menuntut kesabaran ekstra. Apabila dilakukan dengan ikhlas tanpa terus menerus mengeluh, maka kelak akan berbuah pahala yang mungkin tidak sedikit jumlahnya. Ini adalah ladang pahala dan jalan surga bagi seorang perempuan.

Rutinitas kerap menjadikan pekerjaan kehilangan maknanya. Terlebih lagi pekerjaan mengurus rumah. Seolah sudah lumrah dan tidak ada yang istimewa. Mungkin tidak jarang terdengar ucapan merendah dari ibu rumah tangga seperti ini, "Saya cuma seorang ibu rumah tangga." Kalimat tersebut menandakan rasa tidak percaya diri dari seorang perempuan yang telah menikah. Di benak mereka pekerjaan ibu rumah tangga sepele dan tidak berarti. Benarkah demikian? Ternyata tidak. Kalau tidak yakin dengan hebatnya status ibu rumah tangga, bagaimana mungkin bisa lahir generasi-genarasi luar biasa dari rumah?

Rasa tidak percaya diri seorang ibu juga muncul saat keadaan ekonomi keluarga memburuk. Keinginan untuk produktif dan meringankan beban suami semakin berkobar. Tetapi sayangnya, tidak semua perempuan tahu caranya. Yang terjadi kemudian, mereka hanya bisa diam dan pasrah pada keadaan. Lalu, di satu sisi, kita juga melihat perempuan--yang dilihat dari kacamata masyarakat--adalah produktif, tetapi hatinya bak terbelah dua. Di hatinya terbesit rindu kepada anak-anaknya dan kepikiran dengan kondisi rumahnya. Sementara pekerjaan menumpuk sedang menunggunya di kantor. Akibatnya, sang anak kekurangan kasih sayang ibunya dan kondisi rumah sangat tak nyaman karena tidak terurus. Sungguh dilematik. Lalu, bagaimana kemudian?

Jalan yang paling ideal adalah produktif sesuai kebutuhan dengan tidak mengesampingkan urusan rumah tangga. Contohnya banyak. Hampir setiap membuka akun facebook, di beranda saya penuh dengan status-status ibu yang sedang mempromosikan barang dagangannya, seperti pakaian (ini yang paling banyak), kosmetik, sabun mandi, kebutuhan balita, game edukatif anak, hingga alat-alat dapur. Menjual barang secara online melalu media sosial semacam ini adalah cara mereka untuk produktif tanpa harus meninggalkan rumah. Keuntungan yang mereka dapatkan boleh jadi tidak sedikit. Hasilnya, urusan domestik tidak terabaikan dan keuangan keluarga juga bertambah.

Saat ini, kecanggihan internet memang mulai banyak dimanfaatkan oleh semua kalangan, tak terkecuali ibu rumah tangga kaitannya dalam mencari penghasilan. Yang bisa ibu rumah tangga lakukan dalam memanfatkan media sosial ini, salah satunya, adalah memperbanyak dan menjaga jaringan pertemanan. Jika ibu menjual barang secara daring, semakin memiliki banyak teman, maka tentu semakin bertambah pula konsumennya.

Ibu rumah tangga yang mandiri dengan yang hanya bergantung kepada suami tentu saja berbeda. IRT yang mandiri akan tumbuh menjadi perempuan yang lebih percaya diri, punya power, dan berani dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan IRT yang hanya bergantung kepada suami, segala sesuatunya seringkali menunggu “uluran tangan” suami.

Produktif Tak Harus Ber-uang

Lalu di luar itu, saya memiliki pandangan lain tentang istilah produktif. Saya pikir, produktif tak harus melulu dilekatkan pada hal yang bersifat finansial. Melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan ibadah, wawasan, skill, pengetahuan, dan hal bermanfaat lainnya juga bisa dikatakan produktif. Intinya, ibu yang produktif adalah mereka yang dapat memberikan manfaat untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks ini, ukuran produktif adalah bukan seberapa banyak pundi-pundi yang terisi, akan tetapi seberapa besar pekerjaan yang kita lakukan mendatangkan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Dan kita tidak mungkin tahu seberapa besar manfaat yang kita capai dan berikan, jika kita tidak pernah melakukan hal yang lebih dari sekadar rutinitas yang biasa dilakukan di rumah.
Banyak yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga di luar rutinitas, misalnya ketika urusan rumah kelar mereka mengisi waktu luang dengan tilawah al-Quran, membaca buku, mengajari al-Quran untuk anak-anak tetangga, melakukan bakti sosial, mengikuti seminar, dan lain sebagainya. Daripada ngerumpi dan ngerasani orang yang mengundang dosa, kan lebih baik punya kegiatan yang mendatangkan pahala. Hati tenang, hidup pun nyaman.

Salah satu cara yang juga dapat menjadikan produktif dan menghalau jenuh saat di rumah adalah melakukan pekerjaan yang sesuai passion. Pekerjaan yang dilakukan atas dasar hobi atau minat pastilah menyenangkan. Karena menyenangkan, maka tentu akan merasa nyaman dan puas dalam mengerjakannya. Ibu yang senang memasak, mungkin bisa membuka jasa katering. Yang suka nyuci, dapat membuka jasa laundry. Yang hobi nulis, bisa mengirimkan tulisannya ke media atau penerbit. Syukur-syukur dapat honor dari media. Lumayan, bukan?

And the end , menjadi hambaNya yang produktif sesungguhnya merupakan cara kita mensyukuri nikmat dan karunia Allah. Menjadi ibu rumah tangga yang hanya pasif di rumah tanpa berbuat apa-apa pastilah akan menjadikan hidup ini stagnan. Hidup seolah tak ada gairah. Akhirnya, hanya bisa pasrah.

Dan tulisan ini tidak lain adalah salah satu cara saya untuk bisa produktif sebagai ibu rumah tangga. Semoga.