Terbaru

Contributors

Bagaimana Seharusnya Menjadi Pengurus PC PMII Sumenep



Moh. Tamimi Kader PMII

Tulisan Moh Roychan Fajar di Voila menjadi pemantik diskusi untuk perkembangan PMII ke depan. Sebelumnya, melalui laman facebook-nya ia mengajak mengajak para aktivis PMII Sumenep untuk berdialog lewat tulisan.  Entah apa sebabnya, mungkin karena kemuakannya kepada para aktivis gadungan di sekitarnya yang hanya banyak melakukan pencitraan. Saya sebagai orang bawah dan dia sebagai aktivis “pinggiran” tidak akan melawan pemikirannya, biarlah dia bersuka ria dengan Aswaja proletarnya.

Saya sebagai orang bawah hanya mampu melihat ke “atas”. Mau naik, apalah daya kaki tak mampu. Sekilas yang saya lihat, para pengurus PC PMII keren-keren, dengan jas biru langit, dan berbagai pernak pernik di jasnya itu. Style-nya bak artis film Hollywood, rambut bermacam-macam gaya. Namanya juga pengurus ya, secara, senior gitu, harus menjaga marwahnya sebagai atasan di mata para kadernya.

Kalau ada senior dekat-dekat, siap-siap menjadi jongos di “negeri” sendiri. Nyuruh ini, nyuruh itu, bagaikan Raja Kamsa pada pelayannya (Lihat: Little Krishna). Kadang saya berpikir, ketika melihat para atasan ini besikap demikian, ini kadernya apa jongosnya ya? Paling tidak, kalau mau minta tolong jangan kayak raja lah dengan gaya yang begitu memukau. Coba lihat sendirilah gayanya.

Ada juga yang sok keren dengan ketidakkerenannya yang tidak disadari, ngomong ini itu berbusa-busa, walau kadang logikanya kurang nyambung. Namun tidak dinafikan, bahwa ada juga yang memang benar-benar idealis, ya seperti Roychan itu contohnya. Saya pernah diskusi dulu, dulu sekali, dengan orang atas yang lain ini, katanya dia membaca bukunya Nietzsche, sampai-sampai ia tidak masuk kuliah satu semester, padahal ketika dia mengungkapkan pemahamannya tentang Nietzsche, mbulet, muter-muter ke sana ke mari, saya kurang paham, entah karena otak ini terlalu dungu, atau si dia kurang mampu menjelaskan dengan baik.

Akan tetapi, sekali lagi, ada juga yang benar-benar cukup untuk dikatakan keren. Menjadi pengurus PMII bukan sekadar untuk dijadikan batu loncatan untuk naik ke tahta yang lebih tinggi, partai politik misalnya, tetapi memang benar-benar untuk memperjuangkan idealismenya, bagaikan Tan Malaka dengan komonisnya, gak mau main kompromi-kompromian dengan kapitalis dan kroni-kroninya. Konferensi Meja Bundar, Perjanjian Renville, tidak mau, pokoknya tidak. Apalagi, konferensi yang neko-neko itu.

Saya suka kalau ada pengurus yang seperti ini, benar-benar berjuang. Begitulah aktivis mahasiswa seharusnya. Berjuang berdasarkan pengabdian pada agama, nusa, bangsa, dan ideologi. Ya, mau bagaimana lagi kalau ada oknum seperti “itu” (itu yang lain), namanya juga manusia ya, bro. Maklumlah. Hanya saja, semoga cepat disadari dan kembali kepada jalan yang semestinya.

Akhiran
Tulisan ini disarikan hanya berdasarkan pengalaman saya pribadi dan cerita-cerita dari beberapa teman saya. Mohon saya jangan dibully dan semacamnya, saya hanya berusaha melakukan otokritik, termasuk kepada diri saya pribadi, sekaligus menjawab tantangan Roychan Fajar tadi. Lalu, yang lain mana? Ayo gabung! Biar bisa benar-benar keren, bukan hanya kelihatan keren.