Terbaru

Contributors

Hari Batik di Sumenep dan Pertunjukan Inlander



Drul Arifin, orang Bangselok yang menimba ilmu di Sleman, Yogyakarta.

Pada sepertiga malam saya cukup dikejutkan oleh pemberitaan situs resmi salah satu unversitas swasta yang ada di Sumenep. Dalam laman berita resminya di sebutkan bahwa pihak universitas sangat senang karena bisa merayakan hari batik bersama turis Eropa. Sejatinya tidak ada yang aneh dengan berita tersebut, namun yang menggelikan dan cukup membuat saya kecewa sebagai masyarakat Indonesia pada umumnya dan Madura pada khususnya adalah tindakan pejabat daerah dan universitas yang menyambut beberapa turis dari Eropa dengan cara yang berlebihan.

Sebagian orang tentu menilai positif adanya kedatangan turis tersebut. Sebagian lagi tentu ada yang menilai ini cara yang tepat untuk menghormati kedatangan turis ke tanah garam. Namun, bagi saya pribadi ini suatu penistaan!

Betapa tidak saya sebut penistaan, para pejabat kampus dan dinas pariwisata menyambut para turis yang berpakaian ala kadarnya yakni kaos dan celana pendek bak tamu istimewa. Padahal, secara busana para ekspatriat tersebut sangat tidak menghargai adanya acara dan kearifan lokal yang ada di Sumenep. Sialnya, para pejabat kampus dan daerah ini seolah tidak peduli. Alih-alih menegur terlebih dahulu sang turis agar berpakaian yang rapi untuk menyesuaikan dengan acara yang telah dibuat, para pejabat kampus dan daerah ini malah kegirangan dan memberi ‘red carpet’ untuk sang turis tersebut.

Ulah atau sikap dari pejabat kampus dan dinas tersebut menunjukkan bahwa bangsa ini memang belum terlepas dari mental inlander. Apa itu inlander? Mulanya, kata inlander merujuk pada ejekan yang dilontarkan penjajah Belanda kepada masyarakat kita (pribumi). Kata itu membuktikan bahwa Belanda bukan hanya menjajah kita secara fisik, tetapi juga mental.

Sudjiwo Tedjo menyebutnya sebagai mental minder yang dipunyai suatu bangsa terhadap bangsa yang lain. Sedang Bung Karno menyebut inlander ditandai dengan tidak dimilikinya rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa, memandang bangsa lain jauh lebih hebat dan maju, sedang bangsa sendiri adalah bangsa terbelakang, sehingga menganggap apa yang dibawa oleh bangsa asing sudah tentu barang yang baik dan terhormat. Singkatnya, mental inlander adalah kesepakatan kita bahwa bangsa lain superior sedangkan bangsa kita dalam posisi inferior (di bawahnya).

Watak inlander sendiri bukanlah sesuatu yang given atau terjadi begitu saja, melainkan ada proses historis yang mengondisikan suatu bangsa mengidap mentalitas inlander yakni dalam bahasa Nambakornya adalah adanya exploitation de l'nation par l'nation (penjajahan bangsa atas bangsa lainnya).

Ya, sebuah bangsa tidak akan merasa minder jika sebelumnya tidak pernah dijajah oleh bangsa lain. Keminderan ini terproduksi melalui hegemoni bangsa penjajah terhadap yang dijajah. Begitupun Indonesia, meskipun kita telah merdeka secara politik 72 tahun silam, tetapi, setelah sekian lama, ternyata ada yang tak berubah sama sekali. Mental inlander tadi. Setelah sekian lama, kita, atau lebih persisnya sebagian besar kita, masih juga tak yakin pada kemampuan diri, masih pesimistis, rendah diri, dan lebih suka jadi kacung.

Apa yang terjadi di kampus yang berada di desa Patean ini menunjukan secara jelas bagaimana seorang yang sudah mempunyai jabatan strategis pun mengidap watak inlander. Mereka cengangas-cengenges bersama para ekspatriat tadi, memperlakukan mereka bak tamu agung, alih-alih menegurnya lantaran tidak berpaiakan sopan.

Celakanya, watak inlander para pejabat di Sumenep ini dipertontonkan jelas di depan mahasiswanya sendiri yang notabene masih muda. Adegan inlander yang diperankan cukup fasih oleh pejabat tadi berpotensi untuk ditiru oleh mahasiswa yang menyaksikan langsung bagaimana orang-orang tua memberi penghormatan yang berlebihan terhadap bangsa asing. Hal ini tentunya kontraproduktif dengan keinginan para founding fathers kita yang mempunyai visi bahwa anak muda kita harus bisa bersaing dengan bangsa asing.

Terakhir, teruntuk pejabat kampus dan dinas pariwista, plis, jangan sampai kejadian yang mempertontonkan watak inlander kepada mahasiswa sebagai generasi muda terjadi lagi. Sebab sesungguhnya merekalah agent of change kalian! Sebab yang mereka inginkan bukanlah contoh buruk tapi contoh baik!
________________
Gambar: wiraraja.ac.id/