Terbaru

Contributors

Ijtihad Ideologis: Catatan Pasca Konfercab PMII Sumenep



M. Roychan Fajar Aktivis PMII Pinggiran
Pelaksanaan Konfercab XV PMII Sumenep kemarin, menandakan retaknya pondasi ideologis dalam internal PMII Sumenep. Memang tidak bisa kita amati dengan mata telanjang. Butuh refleksi-kritis untuk melihat dan melakukan otokritik agar benar-benar jernih dan mampu memberikan ulasan aktual. Tulisan ini berusaha sampai pada klimaks itu; berusaha melakukan pembacaan, kritik dan reinterpretasi terhadap pelaksanaan Konfercab PMII Sumenep kemarin: yang memperlihatkan kecenderungan PMII selama ini sebagai lembaga borjuistik. Tidak lagi demokratis-idealis, tapi sudah menjadi feodal-kapitalistik dan tidak lagi progresif, tapi sudah statis.

Keadaan ini selalu saya sebut krisis ideologis. Ideologisasi adalah sesuatu yang penting dalam proses pengembangan PMII. Tapi pengaruh infiltrasi PMII ke ruang politik kini sangat tak terkendali, maka bangunan ideologis tersebut menjadi sampah dan tak mewujudkan apa-apa. Konfercab kemarin, menjadi bukti bagaimana apa yang sering disebut “pembelajaran politik” itu telah merusak segalanya.

Ya, pada detik inilah, PMII menjadi kuda troya dalam mencapai kepentingan pribadi, bukan kepentingan organisasi. Aswaja yang dari dulu menjadi ruh secara ideologis, kini hanya menjadi bungkus yang dibawa-bawa untuk mempoles diri seperti malaikat di depan orang lain. Sama dengan tulisan saya terakhir di Viola ini, bahwa yang sering disebut banyak orang itu, pembelajaran politik, sebenarnya adalah pembelajaran berbohong, pembelajaran berbuat jahat, dan seterusnya.

Keadaan ini adalah awal fase kehancuran. Fase di mana secara institusi Cabang PMII Sumenep sudah kehilangan pondasi ideologisnya. Dan menilai semuanya akan selesai dengan “isi koper” dan konsolidasi politik. Hancurnya pondasi ideologis ini, nanti juga berakibat pada karakter gerakannya. Mungkin akan lebih parah dari sikap gerakan masa kepengurusannya kemarin. Kalau kemarin ia menjadi budak kekuasaan, maka mungkin hari ini bukan lagi sekedar budak, mungkin akan mendaulatnya sebagai Tuhan. “Tuhan” yang maha kaya, untuk dompet dan sakunya.

Ketua terpilih hari ini, kemungkinan besar akan melanjutkan razim-nya ketua umum sebelumnya. Karena mereka sama. Mereka sama, orang-orang yang lahir dari jalanan. Hanya bisa teriak-teriak tapi tumpul berpikir. Maklum, mungkin karena mereka baca buku hanya kulitnya saja, atau diskusi hanya untuk pencitraan di facebook saja. Kita tinggal membayangkan hari ini, bagaimana masa depan PC. PMII Sumenep ke depan?
***
Sungguh, masih segar membekas dalam ingatan, betapa amis dan busuknya saat PMII melebur dalam politik. Bukan soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tapi menurut saya ini juga soal pertaruhan: sebesar apakah idealisme itu mungkin untuk diperjuangkan dalam situasi itu? Sayang, ternyata benar-benar sudah tidak ada idealisme. Di hadapan egoisme politik dari tingkat senior sampai kader dan beberapa kepentingan-kepantingan yang menungganginya, membuat PC. PMII Sumenep hari ini, menjual harga dirinya.

Memang tidak menyangsikan: (1) orang-orang tolol bisa berada di mana saja, apalagi di organisasi sebesar dan setua PMII Sumenep, (2) sebagai orang yang cukup tahu aib dan situasi “di balik layar” organisasi ekstra-kampus hari ini, saya juga sadar betul, tak sedikit “pelacur” di dalamnya. Yang kerjaannya setiap saat, ke sana ke mari dagang proposal dan melakukan aksi-aksi pesanan, dengan imbalan sekeping-dua keping rupiah. Parahnya, masalah ini terjadi dengan sangat sistematis dan terstruktur dari tingkat senior sampai pada kader-kadernya dengan sampul wacana yang beragam: aswaja, perjuangan, pengabdian atau ada yang bilang bagian dari kaderisasi.

Sejatinya kejahatan politik seperti ini sudah lawas. Hal ini pernah diteliti oleh Michel Foucault, dalam dua buku berpengaruhnya, The Archaelogy of Knowledge (1969) dan Disipline and Punish: The Birt of The Prison (1979), menggunakan pendekatan arkeologi dan genealogi, dalam membuktikan bahwa sebuah wacana atau pengetahuan ternyata menjadi bagian integral sebuah usaha untuk berkuasa dan menguasai—yang dalam istilah, Nietszchean, akrab kita kenal, the will to power.

Wajar, PMII di Sumenep tidak pernah sukses melakukan perubahan kemasyarakatan. Karena wacana-wacana populis yang disebut di atas, selalu diarahkan untuk kepentingan politik. Tidak diterapkan betul sebagai sikap ideologis. Sejatinya usaha perlawanan terhadap sikap seperti itu sudah saya rumuskan dalam, “Paradigma Pinggiran” di PC. PMII Sumenep periode 2016-2017 M. kemarin. Tapi semua itu gagal dalam waktu sekejap karena mendahulukan kepentingan-kepentingan pragmatis. Konfercab kemarin adalah puncaknya. Egoisme politik itu benar-benar telah menghancurkan segalanya.

Kita mungkin bisa mengamati ke depan, kalau sudah dimulai dengan cara-cara kotor, bagaimana nanti untuk menjalankan kaderisasi? Karena kaderisasi di PMII adalah sesuatu yang suci, dan tidak bisa dilakukan atau bahkan dimulai dengan cara-cara kotor. Agar juga tidak ikut kotor, sudah waktunya kita harus menumpuh gerakan alternatif: dengan memperjuangkan PMII melalui cara kita masing-masing. Tulisan saya, di Voila tentang “Memperjuangkan PMII dari Pinggir”, kini dapat kembali menjadi pilihan yang dapat dipertimbangkan.

Nah, sikap ini menurut saya adalah pengamalan atas prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (melestarikan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik). Karena keadaan atau calon Pengurus Cabang PMII Sumenep periode kali ini, bukan hal baru yang lebih baik (al-jadid al-ashlah), sebaliknya hal baru yang destruktif dan mengancam kaderisasi PMII di Sumenep yang telah tertata baik selama ini (al-qadim al-shalih). Ijtihad ideologis ini dapat menjadi pilihan yang bisa dipertimbangkan oleh semua kalangan. []