Terbaru

Contributors

Imam Nawawi, Inspirasi untuk Penulis Jomblo



Jamalul Muttaqin, Direktur Jomblo Creative

Ketika saya membaca biografi seorang ulama yang memilih untuk menghabiskan masa-masa usianya mencari ilmu dan mengajar, saya jadi teringat dengan seorang wanita salehah seperti Rabi'ah al-Adawiyah yang menghabiskan usianya untuk beribadah kepada Allah. Andai saja Rabi'ah hidup di zaman millineal ini, tentu sulit menerapkan hidup zuhud agar tak terdeteksi jaringan internet. Ya, tentu Rabiah akan banyak terlunta-lunta dikuntit oleh awak media, termasuk pula seperti Voila.

Tapi, terlepas dari itu, semua manusia punya pilihan hidup; entah untuk tidak berkeluarga, entah ingin berkeluarga tanpa punya bekal ilmu, entah ingin jadi penulis, entah ingin jadi politisi, ataupun ingin jadi kiai. Semua kan tergantung pilihan, yang terpenting kan ngak jutek dengan sederet prestasi melangit.

Pembaca yang budiman, mari kita kembali ke laptop. Tentu penasaran siapa ulama yang saya maksud tadi?

Namanya adalah Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawy si pemilik kun-yah Imam Nawawi. Seorang ulama arifin sekaligus alim dalam bidang hadis ini lahir tujuh abad yang lalu, tepatnya di pusat kota Golan, Nawa, Damaskus (sekarang ibu kota Suriah). Kira-kira ia hidup pada masa Umayyah.

Jika seorang santri yang mengaku Ahlussunna wa al-Jama’ah (Aswaja), tentu aneh jika tak mengenal Imam Nawawi, bagaimana tidak? Setiap pesantren khusunya di Jawa dan Madura hampir semuanya mengkaji kitab Riyadhush Shalihin dan al-Araba’in An-Nawawiyah, sebagai kitab hadis yang populer. Konon, nyaris kehidupan Imam Nawawi hanya diperuntukkan untuk mencari ilmu.

Ya, dalam mengembangkan karir intelektualnya Imam Nawawi memilih hidup sendirian alias men-Jomblo, sebuah pilihan yang begitu tragis memang, meski sedikit beralasan. Pilihan menyendiri, dan di balik kesunyian yang Imam Nawawi tempuh bukan urusan sensasional. Di balik kesendiriannya itu, ia banyak menghasilkan karya. Jadi, tak heran kalau Imam Nawawi mendapat julukan orang yang zuhud, muhyiddin, faqih, dan masih banyak yang lainnya. Namun, karena sifat tawadhu’-nya Imam Nawawi tak pernah mau namanya dipopulerkan menjadi sekaliber ulama yang sangat alim di masanya.

Dari sinilah seorang ulama yang sering menghabiskan halaqah-halaqah keilmuan di Damaskus itu, memulai berkarya. Bukan alasan bagi Imam Nawawi untuk memperpanjang deretan pentas para jomblo di muka bumi. Bisa saja jika ia hidup di zaman now akan menolak hidup men-jomblo karena Gajebo=Gak Jelas Bo.

Paling tidak alasan itulah yang patut ditiru bagi para penulis demi mempertahankan idealisme sebagai seorang penulis untuk tingkat pemula, hitung-hitung demi memfokuskan diri dalam bidang menulis agar terbebas dari godaan perempuan.

Di lain sisi, sebagai penulis memang tak luput dari stimulus, sebagaimana Maslow, ia menjadikan seorang ibu perempuannya adalah model inspirasi dari menulis dan berkarya di bidang yang lain. Jika stimulus tersebut berhasil, seseorang, kata Maslow, akan mendapati dirinya dalam suatu proses yang transenden; melebur dalam bentuk imaji-imaji tentang sesuatu yang dicintainya, termasuk dalam urusan menulis mereka akan terlena dengan pahatan-pahatan bahasa dan tak ingin meranjak dari bahasa ke dalam dunia yang nyata. Begitu Maslow menjadikan objek lain sebagai bahan inspirasi menulis untuk menuju kedewasaan spiritual yang bisa menciptakan sinergi antara kebutuhan (menulis) dengan kebutuhan yang lain.

Emmm... usulan ini sebatas mencoba menguatkan para penulis yang memilih memegang komitmen dalam urusan menulis, dan tak direpotkan dengan urusan berkeluarga (dunia) seperti yang terlibat dalam kehidupan Imam Nawawi di atas.

Ya, dari pada memperdebatkan soal mau men-jomblo atau tidak, mending kan nggak usah berdebat dan ngebahas itu, rasanya enneg bin pengen muntah. Lebih baik menikmati tahu bulat berharga lima ratusan... wkwkwk...
_____________________
Gambar: Dakta.com