Terbaru

Contributors

Ketika Sumpah Sudah Menjadi Makanan Sehari-hari


Uzlifatul Laily, mahasiswa INSTIKA, Guluk-Guluk, Sumenep

Pernahkah kita mengucapkan sesuatu yang dinilai buruk dan sebenarnya kita sendiri tidak menyadarinya? Atau mendengar dari orang-orang di sekitar kita? Atau malah ucapan buruk tersebut memang sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita?

Ucapan seseorang sangat berpengaruh terhadap dirinya. Jika setiap harinya dia selalu berbicara kotor dan buruk, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki riwayat kelakuan yang tidak baik pula. Dia akan sangat sulit untuk mengubah kebiasaan seperti itu, lantaran telah dilakukan secara berulangkali. Jadi, seluruh anggota tubuh kita sudah terbiasa menerima atau mendengar kelakuan-kelakuan buruk dari diri kita.

Akan tetapi, seberapapun kelakuan buruk tersebut melekat dalam diri kita sehingga sulit untuk diubah, tetapi selama kita menyadarinya, kita harus mengubahnya.

Lalu bagaimana halnya dengan kalimat sumpah? Sejauh mana kalimat sumpah dianggap ucapan baik atau buruk?

Sumpah, sebagaimana yang telah jamak diketahui bahwa ia merupakan suatu kalimat atau pernyataan yang berisi tentang pengokohan terhadap sesuatu yang ia ucapkan atau lakukan sebelumnya. Kata sumpah seringkali menggunakan nama Tuhan atau sesuatu yang dianggap suci. Hal ini menunjukkan bahwa sumpah tidak boleh dipergunakan seenaknya. Karena mempermainkan sumpah, berarti secara tidak langsung telah mempermainkan Tuhannya dan sesuatu yang dianggap suci tersebut.

Pernah suatu malam, saya lewat di tengah kerumunan teman-teman. Tidak sampai 10 detik, tiba-tiba saya mendengar kata-ka
ta sumpah diucapkan beberapa kali dengan mudahnya oleh mereka secara hampir bersamaan. Tanpa beban, tapi pasti sadar kalau mereka sedang bersumpah. Betapa mereka sangat akrab dalam melafalkan kata sumpah. Padahal, seandainya tidak diucapkan, sama sekali tidak akan berpengaruh terhadap pembicaraan mereka. Dan betapa mereka tidak mengindahkan bahwa jika bersumpah dengan menggunakan nama Tuhan dan tidak digunakan untuk pengokohan, akan mendapat konsekuensi yang tidak ringan. Apalagi, sumpah tersebut hanya dijadikan permainan kata semata.

Dalam Islam sudah dijelaskan bahwa kaffarot atau konsekuensi bagi orang yang terbukti tidak bersungguh-sungguh ketika bersumpah (bohong) atau mempermainkan sumpah terdapat 3 hal. Pertama, seseorang harus memerdekakan budak. Karena zaman sekarang tidak ada budak, maka kaffarot yang pertama tidak bisa dilakukan. Kedua, memberi makan kepada 60 orang fakir miskin yang setiap satu orang mendapat jatah satu mud. Hal ini mungkin saja bisa dilakukan bagi orang-orang yang mampu. Tapi, jika si pelanggar sumpah tidak mampu melakukannya, maka ketiga, harus berpuasa selama tiga hari berturut-turut. Jika terputus, maka harus mengulangnya kembali.

Oleh sebab itu, kita terlebih dahulu harus menyadari apakah kata-kata yang akan kita lontarkan ini nantinya akan berdampak buruk atau tidak terhadap diri kita. seperti halnya sumpah yang sekarang oleh beberapa kelompok dijadikan kebiasaan dalam berucap. Apalagi kita sebagai orang Islam yang tidak boleh membawa asma Allah Yang Mahamulia ke dalam suatu hal yang sama sekali tidak berguna, bahkan dijadikan bahan permainan belaka. Sebab, bersumpah dengan mengatasnamakan asma Allah, padahal bukan untuk pengokohan terhadap suatu persaksian atau perkataan yang benar, berarti sama saja telah mempermainkan-Nya. Jadi, kenali dulu sumpah yang akan kita lontarkan. Jika tidak terlalu dibutuhkan, jangan diucapkan. Jangan bermain-main dengan sumpah sebelum kita mengenalnya terlebih dahulu.