Terbaru

Contributors

Meng-NU-kan Jokowi


Rosidi Bahri, alumni INSTIKA Sumenep

Hari ini Bapak Presiden beserta rombongan akan bersilaturrahim ke Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Kedatangan beliau sudah ditunggu masyarakat, dan santri. Tentu ada banyak yang akan mengapresiasi kedatangan beliau, meski tidak sedikit yang nyinyir dan memasang prasangka yang kurang baik. Mengingat Pak Jokowi sebagai politisi yang masih dijagokan untuk maju kembali dalam perhelatan lima tahunan Pilpres.

Terlepas dari itu semua, saya ingin menawarkan suguhan yang berbeda, saya tidak mau terbawa arus PKI-sasi Pak Jokowi. Bagi saya beliau masih pacasilais, muslim, dan dekat dengan kiai, pesantren dan NU. Toh, jika orang-orang merasa halal untuk main tuduh, barangkali sayapun sunnah untuk mengajak pada hal-hal yang jauh lebih positif: Meng-NU-kan Pak Jokowi.

Modal utama untuk menjadi Nahdliyyin (kultural) adalah menjadi Muslim yang ber-Aswaja, dan rakyat Indonesia yang cinta NKRI, pancasilais dan menerima UUD 45 serta produk hukum yang konstitusional. Dengan syarat-syarat itu siapapun ia dan dari suku manapun ia berasal, sudah pasti ia menjadi bagian warga dari organisasi Islam terbesar di dunia ini. Sekalipun secara formal ia perlu membuat kartu anggota NU (KARTANU), syukur-syukur mau terlibat dalam struktural kepengurusan NU.

Dan, Pak Jokowi sudah mencukupi syarat-syarat di atas. Selain muslim, Pak Jokowi adalah presiden, mantan gubernur, mantan wali kota, yang tidak diragukan sedikitipun nasionalisme dan sikap patriotnya. Tidak hanya itu,  saat ini ditengah gencar-gencarnya isu-isu miring tentang Pak Jokowi, dari tuduhan pro china, anti Islam dan ulama, hingga yang paling menggema tuduhan PKI yang disematkan kepada beliau dan keluarganya. Malah membuat beberapa tokoh NU pasang badan membelanya, dengan maksud untuk menjaga stabilitas negara dan merawat masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan terbawa arus issue yang tidak jelas dan teruji kebenarannya. Bahkan di tengah-tengah isu yang semakin sulit dikontrol, Pak Jokowi semakin rajin bersilaturrahim dengan Kiai-kiai pesantren yang menjdi lumbung NU.

Dengan sikap luwes dan moderasi yang menjadi ciri khas NU, menjadikan organiasi ini selalu terbuka untuk siapapun. Maka sangat wajar jika pengurus dan tokoh petolan NU mengambil tindakan yang berbeda terkait hubungannya dengan pemerintah, ketimbang pengurus ormas islam lainnya yang cenderung gegabah untuk masuk ke  dalam barisan oposan. Dari saking dekatnya, malah   tidak jarang kedekatan pengurus NU sering dipahami salah. Baik oleh warga NU sendiri maupun orang-orang di luar NU. Padahal sejatinya kedekatan ini tidak lebih hanya sebagai bukti bahwa NU hadir untuk kemajuan bangsa dan negara. Tapi apa peduli ‘pandangan picik’ itu, toh hanya malaikat yang wajib suci dari prasangka-prasangka jelek manusia.

Sikap yang ramah dah rahmah ini menjadikan eksistensi NU di bumi pertiwi sulit untuk dibendung, fakta sejarah membuktikan hanyalah NU, organisasi masyarakat yang sampai saat ini selalu tampil di barisan terdepan dalam menjaga dan merawat  kesatuan NKRI.  Meski dalam beberapa kesempatan NU tidak pernah menolak untuk kritis pada rezim yang tidak menjadikan kemaslahatan umat sebagai agenda besar kepemimpinannya.

Ya, NU selalu begitu tidak pernah takut akan resiko, dan ini yang menjadi magnet orang-orang tertarik untuk berNU, tak terkecuali Bapak Presiden. Maka meng-NU-kan Pak Jokowi bukanlah mimpi di siang bolong. Sangat menarik ditunggu, kapan Pak Jokowi yang menjadi kader partai marhaen itu, mau mendeklarasikan dirinya sebagai warga NU, dan barangkali yang selama ini sibuk menyebar ke-PKI-an Pak Jokowi akan kehilangan bahan untuk mencekalnya dalam pertarungan Pemilu 2019 nanti.

Akhiran, semua pilihan ada pada diri Pak Jokowi. Tapi jikapun Pak Jokowi secara resmi menjadi NU, sesuai khittahnya, NU tidak akan melibatkan institusinya ke dalam politik praktis.

Ahlan wa sahlan, Pak! Selamat datang di Bumi Annuqayah.