Terbaru

Contributors

Seribu Satu Alasan di Balik Ke-Jomblo-an


Jamalul Muttaqin Direktur Rumah Jomblo Creative 

Dari zaman kolonialisme sampai kita berpijak pada zaman era reformasi, dari zaman primitif sampai era modernisme, dari Sabang sampai Merauke, penulis menemukan alasan-alasan yang cukup substansial sekaligus klise dalam urusan memilih hidup men-jomblo, nyaris hampir tak ada bedanya di belahan dunia ini, yang penulis temukan dengan cara-cara ngaur. Alasan-alasan itu, membuat mereka semakin koplak, tanpa menyadari mereka menertawakan dirinya sendiri sebab ketololan yang dibuat-buat. Kadang mereka memang merencanakan dan membuat alasan yang pas untuk dirinya sendiri sehingga terdengar sangat subjektif sekali—sangat tak elegan—kedengaranya.

Namun, bagi orang yang sangat sentimen bicara “Jomblo” atau bagi kalangan paham jomblo radikalisme kelas berat, tentu menolak untuk mencari pasangan sampai kapan pun, dan ini tak jarang penulis temukan di berbagai pecahan dunia (bukan belahan dunia). Bagi orang yang tak terlalu agresif, mungkin penganut paham jomblo yang kedua ini adalah jomblo inklusif; sebatas memiliki semacan ideologi jomblo tapi tak terlalu berkomitmen memegang sebuah prinsip, lebih tepatnya plinplan. Dua macam tipologi ini dengan alasan yang berbeda pula, menurut penulis sama-sama dalam keadaan ketidakberdayaan sosial yang butuh pertolongan.

Belajar dari senior, yang penah punya hubunagan LDR (Long Distance Relationship), bahkan ia sempat mensurvei berbagai kawula muda mudi yang cintanya harus berakhir sebelum sampai di pelaminan. Senior tadi (tanpa menyebut nama) memberi alasan-alasan simplistis yang ogah untuk urusan mencari pasangan. Menurutnya: alasan-alasan itu, jika tidak karena ditampik perempuan, ya alasan idealisme masa depan. Ditampik perempuan, adalah salah satu cara paling mudah untuk mendapatkan perempuan dengan cara berstatus jomblo, agar cepat-cepat dapet gebetan, meski sepertinya sangat rempong sekali. Kedua, idealisme masa depan itu sangat bermacam-macam sekali, bisa karena pengkhianatan, bisa karena memang ia tak mau disibukkan dengan urusan perempuan. Yang lebih religius lagi karena alasan keseriusan, bukan pacaran, karena takut neraka jahannam.

Bagi penulis, alasan Jomblo bisa dibuat-buat, seperti kisah artis model Jenny Cortez misalnya (Jawa Pos, 23/8) dulu sekali sebelum ketemu dengan Tommy, Jenny memilih hidup jomblo kerena alasan yang sesaat. Ia menyesal dengan kebohongan mantan tunangannya sebab mengaku tak memiliki kekasih, meski pada kenyatannya ketahuan juga dan harus berakhir sebelum sampai di pelaminan.
Ya, sebab itulah menurut penulis, jomblo itu soal waktu dan alasan-alasan yang dibuat-buat, bagi orang yang memilih jomblo untuk seumur hidupnya sama halnya dengan merencanakan kebodohan yang menyakitkan, ia tak punya pandangan masa depan yang cerah. Hidup itu harus dibawa selow lah, woles kali! Memang tak ada kehidupan yang bebas dari cobaan, sebab cobaan-cobaan itulah manusia dapat kuat bertahan.

Pembaca yang budiman, barangkali juga termasuk dari dua kategori orang yang disebut di muka, antara memilih untuk berpasangan (baca: pacaran) atau memilih men-jomblo seumur hidup karena alasan-alasan yang dibuat tadi, yang tak berdasarkan pada rasionalitas dan fakta sosial. Yang merasa cukup diam saja.

Sebab itu, menurut penulis, mereka yang jomblo adalah mereka yang memilih berkomitmen dalam kebodohannya sendiri. Bagaimana tak bodoh, sedang memilih berpasangan adalah sebuat fitrah manusia, yang diperintahkan dalam al-Qur’an dan atau dibenarkan oleh syari’ah Islam, sebagaimana Hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, “...annikahu sunnati, faman lam ya’mal bisunnati falaisa minni.”Dari perkataan Nabi tersebut sudah tersirat kalau para jomblo tidak akan diakui sebagai umatnya. Hanya saja jajaran mahasiswa atau kawula muda mudi di sini cenderung mengartikan: jomblo artinya gak pacaran, berbeda dengan seseorang yang hidup sendiri karena alasan ingin menahan nafsu, sebagaimana Nabi memerintah berpuasa agar dapat menahan nafsu dari godaan-godaan syahwat yang menjerumuskan kepada maksiat, dan ini berlaku bagi orang yang tak sanggub menikah karena alasan material. Itu sebabnya yang jomblo masih dalam tatanan alasan-alasan yang kaku dan cenderung dibuat-buat. Wallahu A'lam.