Terbaru

Contributors

Soal Pribumi Pak Anies, Emang Gue Pikirin?


Rozi, tukang post di fahrur.com

Apa yang paling menjengkelkan saya tiap kali buka WhatsApp? Adalah perdebatan di grup-grup yang tidak kunjung usai. Ya, di sana kita bisa menyaksikan anggota grup yang terus memproduksi perdebatan tentang hal-hal yang sebetulnya sepele, misalnya soal penyebutan kiai haji kepada Setya Novanto oleh sebuah media yang dalam menulis berita saja rusaknya minta ampun, tidak jelas strukturnya dan menyimpan banyak pertanyaan.

Mungkin saya terlalu menyepelekan, tapi begitulah yang saya pikirkan. Sejak beberapa tahun belakangan, saya mencoba menghindari perdebatan tentang hal-hal yang sepele atau tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan saya pribadi. Soal Kiai Setnov di atas, misalnya, saya akan mengajukan pertanyaan, apa dampaknya bagi kehidupan saya jika memperdebatkan soal penyematan gelar kiai tersebut? Sejauh ini saya tidak menemukannya. Karena itu, saya memutuskan untuk mengindari perdebatan tentangnya.

Dulu, ketika ribut-ribut soal Ahok dan Habib Rizieq, saya juga menghindari perdebatan-perdebatan tentang mereka berdua. Bahkan saya menulis status di facebook bahwa meributkan keduanya tidak ada dampaknya dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya tetap makan nasi jagung dan kuah kelor, cari uang tetap susah, dan harga-harga kebutuhan pokok di lingkungan saya tetap mahal. Bahkan pada taraf tertentu, justru kebiasaan berdebat itu berdampak negatif dalam kehidupan saya, yaitu saya bisa berlama-lama dengan media sosial sampai lupa orang-orang terdekat.

Keengganan saya berdebat sebetulnya adalah buah perjalanan panjang saya dalam menggunakan media sosial. Saya mengenal internet sekitar tahun 2007/2008. Kali pertama menggunakannya, saya langsung tertarik karena bisa terhubung dengan dunia luar yang lebih luas. Saya bisa mendapatkan artikel-artikel kesusastraan, tema yang saya gemari waktu itu, dengan hanya berselancar di peramban Google.

Selain itu, saya juga mulai berkenalan dengan media sosial. Saya membuat akun di facebook karena tertarik dengan liputan koran Kompas yang membahasnya panjang lebar dalam beberapa halaman. Ketertarikan saya tersebut didukung oleh munculnya penulis-penulis yang saya kagumi di sana. Jika saya juga membuat akun facebook, berarti saya akan bisa berkomunikasi dengan penulis-penulis keren tersebut yang sebelumnya hanya bisa saya nikmati karya-karyanya lewat buku.

Nah, pada awal-awal menggunakan media sosial, naluri berdebat saya bangkit. Maklumlah, saya masih muda waktu itu dan keinginan untuk berdebat sangat menggelora. Sementara itu, facebook menyediakan ruang yang cukup luas untuk melakukan perdebatan. Uniknya, yang saya debat waktu itu adalah seorang penulis novel yang namanya sudah melambung tinggi. Tidak perlu perdebatan panjang dengannya karena hasilnya sudah pasti bisa ditebak, saya babak belur dengan jawaban-jawabannya. Saya mundur perlahan dan memutuskan pertemanan dengannya.

Namun, itu bukan peristiwa yang bisa membuat saya berhenti berdebat di facebook. Justru saya semakin menggila, mencari-cari kesalahan orang lain. Saya berdebat tentang beragam tema. Ketika PSSI menemukan titik nadir dan disanksi oleh FIFA beberapa tahun lalu, saya juga ikut berdebat di sebuah grup yang perdebatannya terbuka 24 Jam. Padahal saya tidak pernah mengerti soal bola. Dalam hal sepak bola, saya hanyalah penonton karbitan yang masak hanya pada saat Timnas bertanding.

Apa yang saya andalkan dalam perdebatan demi perdebatan tersebut? Gampang. Internet menyediakan bahan copasan untuk digunakan oleh orang-orang seperti saya. Saya tinggal salin tempel dari komentar atau tulisan-tulisan orang lain. Beres. Tidak perlu berdarah-darah melakukan verifikasi apakah data itu benar atau salah.

Selain soal sepak bola, saya juga suka berdebat tentang politik tanah air. Ketika zaman presiden SBY, saya berkali-kali mendebat orang-orang tentang apa pun isunya. Seakan-akan saya adalah orang yang paling paham tentang tema tersebut.

Dulu, saya adalah orang yang percaya terhadap berita-berita hoax yang ditwitkan oleh akun @triomacam2000. Bahkan beberapa twit masih tersimpan di komputer lama saya dalam bentuk tangkap layar. Ada yang masih ingat akun tersebut? Ya, @triomacan2000 selalu mengabarkan hal-hal yang heboh dengan label-label mengerikan: informasi A1, informasi dari dalam istana, informasi dari sumber pertama, dan sebagainya. Tapi apa yang terjadi belakangan? Para adminnya mendekam di penjara. Berita-berita hoax yang mereka produksi akhirnya terkuak.

Dari sekian tema perdebatan tersebut, yang paling sering adalah soal bahasa. Sasaran saya adalah anak-anak alay yang suka membuat status dengan kombinasi angka, huruf, dan tanda baca dalam satu kata. Jika berjumpa mereka, kata-kata kasar tidak bisa dihindari, baik oleh saya maupun mereka. Perdebatan pun tidak lagi terstruktur, melenceng entah ke mana. Tapi kami tidak pernah berpikir lagi soal logika perdebatan.

Setelah sekian tahun hidup dalam perdebatan yang tak berkesudahan, saya jatuh pada pertanyaan yang dalam, apa yang saya hasilkan dari perdebatan yang panjang itu? Jawabannya adalah saya tidak mendapatkan apa-apa. Memang, ketika menang debat rasanya bangga. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata kebanggaan itu semu belaka. Lalu, buat apa kebanggaan yang semu?

Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, saya menghindari perdebatan di media sosial karena terang tidak menghasilkan apa-apa buat hidup saya. Saya tidak merasakan dampak positifnya. Justru membuat pikiran menjadi tidak fokus. Prinsip saya bermedia sosial saat ini adalah mencari hiburan. Dan saya tidak terhibur dengan sebuah perdebatan.

Ketika ribut-ribut soal kata “pribumi” dalam pidato Anies Baswedan, saya tak tertarik sama sekali untuk ikut berdebat, meskipun sejumlah teman saya melakukannya. Pak Anies tidak ada sangkut pautnya dalam kehidupan saya. Dia tidak akan pernah berpikir tentang kehidupan saya yang memang bukan warganya. Dia hanya akan fokus mengelola Jakarta.

Tapi, orang yang suka berdebat itu akan disenangi oleh para politisi. Mereka akan memelihara situasi tetap memanas karena itu akan mempengaruhi suara-suara partai mereka. Genderang itu mulai ditabuh karena sebentar lagi pemilihan presiden akan digelar. Sudah pasti suasana akan semakin panas. Mungkin akan lebih panas ketimbang pada pemilihan tahun 2014.

Saya berharap pada tahun-tahun panas nanti saya sudah tidak lagi bermain media sosial. Rasanya, hidup akan lebih tenang dan fokus tanpanya.