Terbaru

Contributors

Bagaimana Kalau Rumah Tanpa Jendela?




Paisun, Pegiat Literasi

“Apa yang harus saya baca?” tanya salah satu peserta pelatihan menulis saat saya mengajak mereka untuk membaca. “Hanya ada 2 yang saya kenal: buku paket dan buku tulis,” lanjut peserta itu menambahkan.

“Bagaimana dengan perpustakaan?” Peserta menjawab dalam diam, disertai gelengan kepala yang agak lemah. “Di sini, tak ada perpustakaan. Yang ada hanyalah gudang penyimpanan buku-buku tak terpakai,” jelas salah satu peserta kemudian.

Setiap kali saya membagi pengalaman tentang tulis menulis, tak lupa saya dorong peserta untuk terus membaca. Sebab, hanya dengan menjadi pembaca yang baik mereka akan mampu menulis dengan baik. Namun, saat itu pula saya dapati jawaban yang sama: tak ada bahan bacaan; tak ada perpustakaan.

Tak hanya sekali saya mendapati sekolah tanpa perpustakaan. Hal ini tentu amat miris. Mengingat, sekolah merupakan pusat pembelajaran yang diharapkan dapat melahirkan insan yang cerdas dan mampu membangun bangsa di masa depan. Namun, bagaimana bisa cerdas jika tidak membaca? Bagaimana membangun bangsa jika tidak memiliki kecerdasan?

Karena itu, saya sepakat dengan apa yang diucapkan oleh Minda Perangin Angin, "Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah, pelajar tanpa buku bagiku bukan pelajar". Di sekolah, kita tidak hanya belajar dari para guru, tapi juga belajar menekuni buku. Lalu, bagaimana bisa menekuni buku, bila sekolah tak sediakan perpustakaan?

Jendela Dunia
Seringkali dikatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan buku, kita bisa melongok ke berbagai dunia tanpa kecuali. Buku karya Andrea Hirata misalnya, berhasil membuka mata kita akan kehidupan masyarakat Belitong. Buku  karya Habiburrahman el-Shirazy mengajak kita untuk bertamasya ke Mesir. Sementara buku karya Pramudya Ananta Toer membawa kita untuk kembali ke zaman perang, di mana bangsa Indonesia berjuang menuju kemerdekaan. Demikian pun buku-buku yang lain, mempunyiai fungsi untuk membuka wawasan kita akan keberadaan dunia. Di sinilah pentingnya buku bagi kita.

Namun demikian, tak semua mau menyadari akan pentingnya buku bagi kehidupan. Tak terkecuali sekolah. Sekolah masih belum menganggap penting keberadaan buku. Buku-buku bacaan belum banyak disediakan. Perpustakaan dibiarkan mirip sebuah gudang. Seperti kata peserta pelatihan di awal tulisan ini: hanya menyimpan buku tak terpakai. Karenanya, jangan harap siswa akan mengunjunginya, karena memang tidak ada yang menarik untuk dikunjungi.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sekolah lebih suka membiarkan siswanya tenggelam dalam kebodohan tanpa ada perkembangan wawasan dan pengetahuan. Mereka dibiarkan tersesat dalam jalan kegelapan, tanpa ada setitik cahaya yang menuntunnya ke arah yang benar.

Jika sekolah diibaratkan sebuah rumah, rumah-rumah tersebut dibiarkan tanpa jendela. Akibatnya, penghuni di dalamnya (baca: siswa) dibiarkan terperangkap dalam kepengapan dan kegelapan, tanpa ada ventilasi yang sedikit memberi ruang untuk bernafas dan memberi jalan bagi masuknya cahaya.
Rumah tanpa jendela benar-benar nyata di negeri ini. Bukan sekadar dongengan, ataupun cerita tak berdasar. Di desa-desa maupun di pinggiran kota ada banyak “rumah” dibiarkan tanpa jendela. Rumah itu pun pengap dan gelap. Penghuninya dikungkung dalam kegelapan. Dibiarkan tak tahu lingkungan sekitar.

Itulah keadaaan sekolah tanpa perpustakaan, yang oleh Minda Perangin Angin dinilai tak layak disebut sekolah. Sebab, sekolah adalah tempat belajar. Belajar tidak cukup hanya dengan mendengar para pengajar. Di sekolah, selayaknya juga menjadi tempat belajar untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Hal itu mustahil jika perpustakaan tak pernah diwujudkan.[]