Terbaru

Contributors

Meng-Abu Nawas-kan Setya Novanto

 

Ach. Khalilurrahman, warganet yang bukan lagi mahasiswa.

Alkisah, baginda Harun ar-Rasyid dibuat kebingungan oleh rakyatnya yang bernama Abu Nawas. Bagaimana tidak, ia sangat cerdik dan banyak akal sehingga selalu lolos dari hukuman raja. Tapi kali ini tidak, Abu Nawas telah melakukan kesalahan fatal. Raja pun murka bukan kepalang, niatnya menghajar Abu Nawas akan kesampaian. Tapi bukan Abu Nawas kalau tak bisa keluar dari masalah sepelik ini.
Kepada sang istri, Abu Nawas berpesan bahwa sebentar lagi ia akan meninggal dunia. Selain itu ia juga meminta semua orang, termasuk Khalifah Harun ar-Rasyid memaafkan segala kesalahannya. Kemudian wafatlah tokoh legendaris itu seketika.

***

Itulah cuplikan kisah Abu Nawas yang saya dapatkan dari buku seorang teman waktu SD. Anda mungkin memiliki versi yang berbeda, itu tidak masalah mengingat tokoh yang satu ini memang cukup unik dan banyak riwayat tentangnya. Permasalahannya sekarang, apa hubungan cerita di atas dengan tokoh nasional yang bakal kita bahas.

Menjawabnya tidaklah sulit, ganti saja kata Abu Nawas dengan Setya Novanto (Setnov), Khalifah Harun Ar-Rasyid dengan Presiden Jokowi atau Ketua KPK. Agar lebih dramatis, kasusnya juga bisa disisipkan semisal ‘Papa Minta Saham’, dan korupsi e-KTP. Taktiknya pun pun tak kalah menarik, dari sakit mendadak, sembuh mendadak hingga yang terbaru, kecelakaan. Dengan kecerdikan macam itu, maka jangan heran bila sampai sekarang beliau selalu lolos dari kejaran penegak hukum.

Sebenarnya saya sedikit takut mengangkat tema ini. Dengan posisinya sebagai pimpinan DPR, ketua partai paling angker sewaktu Orde Baru, bahkan belakangan juga bertitel Kyai Haji, tentu bukan lawan sepadan untuk dihadapi seorang fresh graduate yang pengangguran seperti saya. Beliau bisa saja melapor dengan tuduhan pencemaran nama baik. Tapi karena sudah lama tak berkarya dan enggan disebut mantan penulis, saya pun menulis jua.

Lalu bagaimana dengan Abu Nawas yang mati? Dia memang mati, namun setelah orang-orang memaafkannya, ia hidup lagi seperti sedia kala. Ini mirip dengan berita sakitnya Setnov yang langsung sembuh setelah Hakim Cepi memutuskan bahwa penetapan tersangka oleh KPK kepadanya tidak sah. Kalau memang dibutuhkan, suatu saat cara ini bisa dilakukan untuk menghindari kasus yang berbahaya. Jika bisa meniru, tentu kesaktian dan kehebatan beliau tak usah diragukan lagi.

(Gambar: netsulsel.com)