Terbaru

Contributors

Petunjuk Menulis Cerita



Muna Masyari, sastrawan Madura. Salah satu cerpennya termuat dalam antologi cerpen terbaik Kompas 2016.

Suatu hari, ketika ada seseorang inbox minta diajari menulis cerpen, saya balas; “Menulis cerpen itu tidak seperti belajar matematika. Perbanyaklah membaca karya-karya penulis besar, lalu menulislah. Hasil tulisannya baru mintakan pendapat pada penulis yang sudah jelas memiliki kualitas!”

“OK.” Ia membalas.

Mendapat balasan sesingkat itu tanpa ada komunikasi berlanjut, saya membayangkan seraut wajah layu yang berlalu dengan langkah lesu. Apa saya salah memberi jawaban dan saran demikian, pikir saya. Selain karena merasa belum pantas mengajari, pengalaman saya memang itulah cara paling efektif belajar menulis.

Di lain waktu, ketika ada yang inbox lagi, “Mbak, ajari saya menulis cerpen. Saya melihat cerpen Mbak dimuat Kompas hari ini.”

Di kepala saya berkelebat seraut wajah mupeng dengan mata bersinar seperti bocah merajuk minta dibelikan mainan!

Saya bertanya, “Pernah menulis?”

Saya yakin, orang tidak akan menulis sebelum membaca.

“Iya!” jawabnya.

“Kirim tulisannya ke imel saya, nanti saya baca!”

Siapa tahu bisa membantu mengoreksi semampu saya.

“Baik, Mbak!”

Kemudian saya memberinya alamat imel.

Hari-hari berlalu. Sepekan, dua pekan, tetap tidak ada kabar. Bahkan tidak ada imel sekerat pun darinya hingga sekarang.

Saya berpikir lagi. Ketika ada lagi seseorang yang inbox dengan permintaan senada, akan saya jawab apa?

Sejatinya, saya belajar menulis dari hasil membaca. Membaca buku dan cerpen-cerpen media. Membaca ulasan seorang penulis tentang kelemahan dan kelebihan sebuah karya. Semula, saya memang tidak mengenal apa itu setting, plot, sudut pandang, struktur cerpen dan semacamnya. Saya mengenal teori menulis cerita justru setelah menghasilkan beberapa tulisan.

Ibaratnya, saya pergi ke suatu tempat asing dengan mengekori orang di depan saya yang satu tujuan dan memang sudah bolak-balik pergi ke sana. Saya tidak berjalan dengan sekadar memegang peta atau petunjuk suara.

Tentu tidak salah jika kita hendak pergi ke suatu tempat yang belum diketahui letaknya dengan cukup memegang selembar peta atau petunjuk suara, asal kita terus melangkah, mengikuti petunjuk, pada akhirnya insyaallah akan sampai juga di tujuan. Akan tetapi, coba bandingkan, lebih cepat mana tibanya dengan mengekori seseorang yang sudah jelas-jelas satu tujuan? Apalagi, jika kita hanya memiliki keinginan, lalu meminta peta pada orang yang sudah tiba, namun kemudian kita diam, tidak melangkah sama sekali. Kapan akan tiba di tempat yang kita tuju? Bingung juga menghadapi orang yang demikian.

Dalam menulis, teori memang penting untuk mengontrol apakah tulisan kita sudah tepat atau tidak. Akan tetapi, ibarat orang yang berjalan tadi, yang lebih ideal, kita mengikuti langkah pendahulu seraya memegang peta. Nanti, setelah tiba di tempat tujuan, barulah mencari jalan sendiri. Artinya, banyak-banyaklah membaca karya-karya bagus tanpa mengesampingkan panduan. Setelah bisa menulis dengan benar, barulah mencari gaya sendiri.

Jadi, jika ada seseorang lagi yang inbox minta diajari menulis cerita, ingin rasanya saya jawab begini saja; “Bawa sapi gemuk ke rumah!” hihihi... biar minta bimbingan pada orang yang lebih tepat!