Terbaru

Contributors

Antagonisme dalam Semarak Perayaan Maulid Nabi

 
M. Sukran Hamidy, pemerhati sosial keagamaan. Tinggal di Sumenep.

Separuh pertama bulan Rabiul Awal 1439 H sudah berlalu, tetapi gemuruh shalawat tak sedikit pun surut. Bahkan, semakin kencang, membubung langit.

Kini perayaan Maulid tak hanya di musala atau masjid, laiknya zaman waktu saya kecil dulu. Hari ini, siapapun bisa dan mampu merayakannya. Tak perlu menunggu 'berkaki empat'.
Saya pernah mendengar dari seorang teman bahwa di suatu daerah hampir setiap kepala keluarga merayakannya. Bahkan ada di salah satu desa di Kabupaten Sumenep hampir setiap malam ada perayaan Maulid yang dimotori oleh RT. Seakan ada kompetisi agar perayaan yang ia gelar keluar sebagai perayaan yang paling 'wah' dan lux.

Semua ini positif. Nuansa semarak Maulid bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Semuanya kebanjiran berkah Maulid. Tidak hanya penjual buah, daging, sembako, dan tusuk sate, penjual parfum dan kembang pun turut merasakannya. Sementara di sisi lain kampanye anti Maulid terus getol disuarakan, namun tak sedikit pun menyurutkan tekad dan kepercayaan masyarakat akan adanya keberkahan di balik perayaan ini. Baik yang benar-benar merasakannya atau hanya sekedar mencoba yakin berdasar pada dawuh ulama-ulama besar seperti Syekh Fahrurrozi, Imam Sirri Assaqati, Imam Ma'ruf Alkarahi dlsb.

Ataukah semarak ini juga dilatari kekurangtepatan nalar beragama kita? Urusan Maulid kita rela 'hamburkan harta' sementara 'kita irit' dalam hal menyantuni orang kurang mampu dan yatama di sekitar kita. Bukankah ini kebiasaan sang rasul agung yang harus kita petik dari hikmah Maulid?

Apakah menyantuni mereka bukan ibadah? Apakah menyantuni mereka tak mengandung keberkahan dan faedah sebagaimana diyakini dalam perayaan Maulid Nabi? Apakah menjalankan amanah sesuai jabatan masing-masing bukan ibadah sehingga kita harus terjebak pada pola pikir simbol dan seremonialiatas keagamaan semata?

Bagaimana jika perayaan Maulid kita pusatkan di masjid atau musala saja sementara kelebihan uang para hartawan yang dianggarkan untuk perayaan Maulid kita tampung dan distribusikan kepada yang berhak? Mubazir jika kas desa atau organisasi dihambur-hamburkan hanya untuk menunjukan dan menonjolkan keakuan dan kehebatan kita dibanding yang lain.

Saya bukan dalam kapasitas seorang yang anti shalawat dan Maulid, akan tetapi hanya belajar berpikir dari sudut pandang yang lain, guna sikap keberagamaan kita tak terlalu formal dan melulu identik dengan seremonialitas. Agama ini berbicara isi bukan kemasan. Agama membahas kemanfaatan bukan kemegahan. Agama menitikberatkan pada kesalehan sosial bukan hanya kesalehan pribadi apalagi ego pribadi. Na’udzubillah....