Terbaru

Contributors

Ke Mana Suara IKA-PMII dan KAHMI Pamekasan Akan Berlabuh?

Ahmad Wiyono, Peneliti Center for Social and Political Studies (CSPS) Pamekasan

Dalam beberapa pekan terakhir, jagat maya kita begitu riuh dengan beragam statemen mengenai kemungkinan terjadinya “perang” dingin antara IKA-PMII dan KAHMI, terlebih saat tokoh kedua organisasi tersebut tiba-tiba maju menjadi kontestan dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur.

Banyak yang berpendapat bahwa Pesta Demokrasi di Jatim adalah pertarungan antara KAHMI dan IKA-PMII, meski tak sedikit pula yang menganggap bahwa dua organisasi yang menjadi wadah para alumni itu tak akan memiliki peran banyak dalam proses kontenstasi lima tahunan tersebut.

Namun demikian, sekecil apapun peran politik sebuah organisasi, pasti memiliki dampak sistemik yang luar biasa terhadap proses penggemukan dukungan, setidaknya bagi penggiringan opini publik terhadap kandidat yang maju dalam kontestasi itu, sehingga IKA-PMII dan KAHMI tetap akan memegang tombol penting dalam pergerakan pemenangan para kandidat.

Lalu bagaimana dengan Pamekasan? Kondisi Pilkada di Pamekasan tentu memiliki sisi perbedaan yang relatif jauh dengan kondisi Pilkada di Jawa Timur, ini lantaran kedua pasang kandidat (baca: yang sudah mungkin memiliki dukungan Parpol) masing-masing memiliki background organisasi yang kuat. Bahkan, dua pasangan itu disinyalir sama-sama memiliki “hubungan” baik dengan KAHMI dan IKA PMII.

Jika semua kandidat memiliki hubungan baik dengan organisasi alumni tersebut, lalu ke mana suara mereka (para alumni) akan berlabuh? Pertanyaan ini tentu tidak bisa kita jawab saat ini, karena semua yakin mereka masih melakukan proses penjajakan, meskipun pada akhirnya suara alumni pasti akan mengarah pada salah satu kandidat.

Bagaimana jika ternyata para alumni memutuskan “memilih untuk tidak memilih”? Dalam konteks hak asasi kita tentu tidak bisa menyalahkan, karena mereka punya hak untuk melakukan itu. Namun  dalam perspektif pertanggungjawaban intelektual-moral, pilihan diam itu sama sekali kurang memberikan edukasi kepada para kader yang notabene merupakan masyarakat intelektual. Seluruh kader dan orang-orang yang pernah berkecimpung dengan organisasi tersebut tetap akan bertanya sikap tegas para  alumni yang nantinya berimplikasi pada kebijakan informal organisasi. Ingat, keputusan itu selalu ditnggu.

Jika yang menjadi alasan adalah faktor ketidaknyamanan kalau harus menentukan satu pilihan, maka, kita perlu mempertimbangkan dua hal berikut: Pertama: sifat tidak nyaman untuk menentukan pilihan memang membuka jalan aman bagi para alumni, tapi sama sekali tidak membuka pintu pergerakan bagi para kader, apakah kelak harus ke barat atau ke timur.

Kedua: para penggerak organisasi alumni (baik IKA-PMII maupun KAHMI) bisa melakukan kajian strategis kepada sejumlah kandidat, dari sekian banyak orang yang hari ini maju sebagai kontestan, manakah yang paling berperan daam proses kemajuan organisasi sejak awal, saat ini bahkan jika mereka terpilih. Kita yakin, jika mereka semua baik, pasti ada yang terbaik dan telah berbuat banyak untuk organisasi IKA-PMII dan KAHMI. Maka, IKA-PMII dan KAHMI punya tanggung jawab besar untuk memenangkannya.

Bagi penulis, Suara IKA-PMII dan KAHMI Pamekasan akan menjadi salah satu penentu kemenangan, maka suara mereka sudah ditunggu oleh  banyak orang. Jika ada argumentasi bahwa organisasi tersebut tidak boleh dibawa ke ranah politik, tentu kita tidak dalam rangka menyeret organisasi, tapi kita menungu “fatwa” dari organisasi tersebut yang kemudian akan mejadi rujukan para kader dan simpatisan di lapisan bawah.

Meminjam istilah Erving Goffman, dalam teori Dramaturginya, organisasi harus tampil dalam dua domain sekaligus, pagggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Panggung depan adalah tempat melakukan pertunjukan politik, sedangkan panggung belakang merupakan wajah sesungguhnya. Maka, kita ingin IKA PMII dan KAHMI mengambil domain tersebut, sehingga sikap politik dua organisasi besar ini segera kita ketahui. Wallahu Alam


Akkor, 21 Desember 2017