Terbaru

Contributors

Menyoal Konsep Pariwisata Visit Sumenep 2018



Zamzami Sabiq Hamid, Dosen Instika Sumenep.

Sektor pariwisata sejak lama dianggap sebagai sebuah industri terbesar ketiga di dunia setelah minyak dan gas (migas), dan peralatan elektronik. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia, sumbangan sektor pariwisata terhadap pendapatan sebesar US $3,5 trilyun atau 6% pendapatan kotor dunia. Pariwisata merupakan sebuah industri besar, yang memiliki akibat ganda (multiplier effect). Hal ini karena sektor pariwisata tidak saja berdampak pada pertumbuhan kunjungan wisatawan ke obyek-obyek wisata maupun meningkatnya tingkat okupansi hotel-hotel yang ada di sekitar obyek wisata tersebut. Pertumbuhan pariwisata secara tidak langsung berakibat pada sektor pertanian yang memasok kebutuhan bahan baku untuk kuliner hotel dan restoran, industri-industri yang menghasilkan perlengkapan hotel seperti sabun, sampo dalam kemasan kecil serta handuk. Industri souvenir dan oleh-oleh khas juga merasakan imbas meningkatnya permintaan. Geliat kemajuan di berbagai bidang juga akan terasa dengan tumbuhnya industri pariwisata.

Kecenderungan yang positif secara ekonomi itulah yang mendasari semua daerah berlomba-lomba mengembangkan sektor pariwisata sebagai andalan dalam menyumbang pendapatan daerah. Berbagai model pariwisata dikembangkan secara besar-besaran untuk meningkatkan sektor pariwisata yang ada. Tak terkecuali Sumenep, Kabupaten di ujung timur Madura ini tampaknya sangat serius dalam membangun dan mengembangkan sektor pariwisata, mulai dari infrastruktur jalan menuju Daerah Tujuan Wisata (DTW), sarana prasarana penunjang seperti bandara, obyek-obyek wisata baru, hotel dan restoran. Tak tanggung-tanggung Pemerintah Kabupaten Sumenep juga mencanangkan Tahun 2018 sebagai tahun kunjungan Wisata atau Visit Sumenep 2018. Berbagai event mulai diagendakan guna menyemarakkan tahun kunjungan wisata tersebut. 

Secara potensi wisata, Kabupaten Sumenep memang mempunyai kekuatan dan nilai tambah tersendiri untuk dikembangkan menjadi suatu atraksi wisata. Potensi pertama yang dimiliki Sumenep adalah Potensi Alam. Potensi alam yang dimaksud di sini adalah alam fisik, fauna dan floranya. Sumenep memiliki keunggulan dengan adanya pantai-pantai dan pulau-pulau indahnya yang bisa dieksplorasi untuk terus ditingkatkan. Potensi kedua yaitu potensi kebudayaan, merupakan kelakuan manusia yang diatur oleh tata kelakuan yang didapatkan dengan belajar dalam kehidupan masyarakat yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan lain. Sebagai wilayah dengan peninggalan sejarah yang cukup kuat seperti keraton, Sumenep memiliki potensi sangat kuat akan kebudayaan. Sedangkan potensi ketiga yaitu potensi manusia, merupakan kemampuan seseorang atau beberapa orang yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan menjadi suatu atraksi wisata. Sumenep juga memiliki potensi manusia ini dengan rangkaian kegiatan seperti acara pawai dan sebagainya. Ketiga potensi ini akan saling berhubungan dan ketiga-tiganya diperlukan bersama-sama untuk kemajuan sektor pariwisata.Ketiga potensi tersebut harus dirumuskan dan dikelola dalam konsep pariwisata yang tepat sehingga dapat menghasilkan sebuah konsep pariwisata yang sesuai dengan kekhasan Sumenep sebagai daerah yang religius dan berbudaya. Ketika konsep pariwisata yang dibuat kurang mapan, maka yang akan muncul justru efek negatif dari pariwisata.

Indikator munculnya efek negatif karena lemahnya konsep pariwisata sudah mulai tampak. Kegiatan Festival Batik Sumenep dalam rangka menyambut Visit Sumenep 2018 yang digelar oleh Dinas PU Binamarga Kabupaten Sumenep di depan Masjid Agung Sumenep pada Sabtu (9/12) dinilai mencederai karakteristik masyarakat Sumenep yang religius dan berbudaya. Hal ini dikarenakan beberapa model yang tampil tampak mengumbar aurat. Sejumlah tokoh dan masyarakat pun bereaksi keras menyikapi masalah ini. Sebenarnya ini bukan masalah yang pertama, sebelumnya masyarakat Sumenep dikejutkan dengan adanya beberapa turis asing yang berenang di Pulau Gili Labak hanya dengan menggunakan pakaian dalam (bikini) juga ada beberapa turis asing ketika berkunjung ke Masjid Agung Sumenep tidak menggunakan pakaian yang “pantas”. Permasalahan ini akan terus terjadi bahkan akan semakin parah jika tidak segera ditindaklanjuti dengan rumusan konsep pariwisata yang tepat terkait pariwisata Sumenep.

Sebuah pendapat klasik terkait pariwisata menyebutkan 5 unsur pembentuk ketertarikan turis yang disebut The Five S, yakni Sun (matahari), Sea (laut), Sand (pasir), Stomach (perut) and Sex (Seks) yang terkoneksi dengan Accessibility (kemudahan akses), Attractions (atraksi wisata), Accommodations (akomodasi), Activities (aktivitas) and Amenities (kenyamanan). Di sinilah dibutuhkan peran pemerintah daerah dengan kebijakannya dan juga konsep pariwisata yang mapan agar kelima unsur “S” itu dapat dipilih dan dipilahkan sehingga tidak melanggar etika, moral dan budaya Bangsa Indonesia.

Disamping itu, untuk mengarah pada kemapanan Konsep Pariwisata Sumenep, hendaknya mulai mengarah pada wisata berbasis ekowisata atau ekoturisme yang merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, aspek pendapatan ekonomi masyarakat lokal dan aspek pembelajaran serta aspek pendidikan. The International Union for Conservation of Nature (IUCN) membuat kriteria ekowisata sebagai (1) industri pariwisata berbasis alam natural, (2) impak wisata pada lingkungan sangat kecil, (3) berhubungan dengan budaya (4) melibatkan penduduk lokal (5) berdampak pada pembangunan dan pelestarian dan (6) memiliki manfaat bagi pendidikan dan keberlangsungan. Wisata berbasis ekowisata atau ekoturisme yang dikembangkan dalam konsep pariwisata setidaknya akan mempertahankan karakteristik masyarakat Sumenep karena adanya pelibatan masyarakat dan berhubungan dengan budaya secara langsung.

______________
Gambar: http://www.suarajatimpost.com