Terbaru

Contributors

Yuk Jadi Pemilih Cerdas di Pilgub Jatim 2018


M Sukron Hamidy, Tokoh Masyarakat Sumenep

Dalam hal Pemilihan Gubernur (Pilgub),, Jawa Timur tak kalah dari Jakarta. Jawa Timur selalu di klasemen teratas setelah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai barometer politik dan kesuksesan kerja mesin partai.

Melirik kontestasi Pilgub Jatim 2018, ada sisi menarik untuk kita soroti. Apa itu? Dari 4 tokoh atau 2 paslon yang sudah resmi mendeklarasikan diri, kesemuanya adalah pejabat aktif. Baik yang di posisi Bupati, Wakil Gubernur  dan Menteri. Sehingga kesemuanya memiliki peluang sama untuk sedikit memanfaatkan 'kursi yang mereka duduki masing-masing'. Menyamarkan program yang ia rancang dari APBD atau APBN untuk bahan kampanye.

Seringkali calon petahana maupun calon yang sedang aktif di jabatan pemerintahan kreatif memanfaatkan posisinya sampai-sampai tak merasa bahwa semua itu adalah ranjau yang bisa menguburkan dirinya. Modus operandinya beragam, mulai dari membangun kontrak politik dengan bawahan yang ada ikatan struktural sampai pada obral jabatan strategis bagi yang berani membayar dengan dukungan suara.

Tentu bagi para kontestan, bergerak dan bersosialisasi diri tak menunggu masa kampanye yang ditetapkan KPU. Semua siap curi start. Karena kalau sudah kalah start 85 persen dipastikan sulit untuk jadi juara. Bagi mereka waktu kampanye terasa begitu sempit untuk menyapa dan meyakinkan seluruh pemilih. Sehingga jauh-jauh bulan sudah siapkan konsep dan strategi.

Konsolidasi dan gerakan senyap jauh-jauh hari santer digalakkan. Hal itu tentu sah-sah saja selama tak menabrak aturan yang berlaku.  Konsolidasi kapan dan dimana saja boleh dilaksanakan. Saling klaim dukungan, adu foto manis di pinggir jalan menjadi pemandangan lazim setiap perhelatan pilkada.

Sebagai pemilih cerdas tentulah harus mengamati lamat-lamat setiap gerakan dan gebrakan masing-masing kontestan. Pemlih cerdas tentu tak mudah tersihir dengan deretan kata indah yang tertuang dalam visi misi dan janji paslon. Tidak cukup.
Kita tinggal pelototi siapa yang ajeg dan tidak. Kita bisa mengamati setiap calon yang mengadakan kegiatan apapun kemasannya. Jika ternyata mereka berasyik ria di perhelatan  dalam rangka pemenangan dirinya yang digelar di hari aktif kerja setidaknya hal ini menjadi alasan awal untuk tak lagi melirik calon bersangkutan. Kalo sudah ketahuan tak amanah kenapa kita akan mengamanahi mereka dengan amanah baru.

Kita punya hak mengamati mereka bukan karena  sekedar untuk istikharah politik, akan tetapi mereka adalah pejabat publik yang dibayar dari uang rakyat. Setiap perhelatan yang digelar bukan pada hari libur dan di luar masa kampanye pastilah mereka tidak dalam masa cuti. Jam kantornya ia manfaatkan untuk mengejar popularitas kontestan lain.

Pemilih cerdas akan menghasilkan pemimpin berkualitas. Oleh sebab itu mari kita ciptakan pemilih-pemilih cerdas baru. Hal demikian bisa kita lakukan dengan cara setiap pemilih cerdas mengorbitkan calon pemilih cerdas lainnya. Semakin banyak pemilih cerdas semakin sejahteralah kita. Semakin banyak pemilih cerdas semakin berkurang fenomena belanja suara.
Semakin banyak pemilih cerdas semakin memberi peluang bagi orang-orang hebat untuk menjadi pemangku amanah di negeri ini. Karenanya, mari kita menjadi pemilih cerdas untuk memilih pemimpin berkualitas di masa mendatang.
__________________
Gambar: pepnews.com