Terbaru

Contributors

Dua Ikan Paus yang Bikin Kantong Kempes


Ach. Khalilurrahman, juru kunci di terlanjurnulis.blogspot.co.id 

Tulisan ini terinspirasi dari kejadian beberapa hari lalu. Waktu itu, salah satu tetangga saya tengah gelisah dan kalang kabut. Saya kira ini adalah efek dari kondisi politik yang lagi kalang kabut menjelang pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada). Sebagaimana pembaca tahu, makin hari ada saja kejutan menarik dari pelaku politik tanah air. Ada yang menolak dicalonkan, ada pula yang mengundurkan diri. Tentu saja ini akan membuat emosi barisan pendukung jadi serasa diaduk-aduk. 

Kembali ke tetangga tadi, penasaran saya coba bertanya apa gerangan alasan ia gelisah. “Saya butuh uang untuk membeli Dua Ikan Paus,” jawabnya simpel. “Sejak kapan ia jadi kolektor makhluk laut yang bernapas lewat paru-paru itu?” pikir saya tak mengerti. “Saya punya utang pada si A sebanyak dua karung,” ia melanjutkan jawabannya hingga saya pun paham apa yang dimaksud. 

Rupanya Dua Ikan Paus tersebut adalah merek beras terbaik yang cukup terkenal di daerah saya (mungkin juga daerah Anda). Menurut testimoni para ibu rumah tangga, nasi olahan dari beras ini memiliki aroma wangi dan enak. Beda sekali dengan yang biasa dikasih pemerintah itu. Karena bagusnya kualitas, tentu harganya pun cukup mahal. Bulan lalu saja sudah Rp. 275.000, mungkin sekarang akan terus melonjak seiring ramainya gawe yang terus digelar. 

Bicara soal gawe, bulan ini memang banyak sekali yang menggelar. Rekomendasi dari guru spiritual atau ahli primbon membuat masyarakat berbondong-bondong melaksanakan hajatannya pada bulan Rabiul Akhir. Bermacam acara pun digelar, dari yang sekadar syukuran, aqiqah, walimatul ‘ursy, bahkan membangun rumah. Tujuannya hanya satu, mereka ingin beroleh keberkahan dalam setiap apa yang dikerjakan. 

Kondisi inilah yang membuat banyak bapak dan ibu rumah tangga pusing. Bayangkan, dalam situasi pacekliknya ekonomi, musim panen yang belum tiba, dan naiknya harga kebutuhan pokok, mereka masih dibebani lagi dengan tanggung jawab membayar hutang gawe pada seorang shahibul hajat. Di sinilah budaya ‘ompangan’ khas Pulau Garam menemukan petakanya. Cari pinjaman sana-sini bukanlah pilihan bijak sekalipun pegadaian memasang jargon ‘Mengatasi Masalah tanpa Masalah”.

Para pembaca sekalian pasti membayangkan bagaimana sedihnya perasaan mereka yang kini sedang dilanda kesusahan macam di atas. Tapi untuk sementara waktu Anda tak usah sedih dan gundah, karena saya belum akan menikah. Lebih baik simpanlah uang Anda agar pada saatnya nanti bisa dijadikan hadiah.

Lalu bagaimana nasib orang yang saya ceritakan di atas. Hingga tulisan ini mencapai tetes terakhir, saya tak tahu langkah apa yang ia ambil. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Netizen gak usah ikut campur, apalagi nyinyir.

(gambar: nggalek.co)